Kementan menyebut sasaran utamanya adalah lahan tebu dengan tanaman tua, hasil rendah, atau sudah berkali-kali dikepras sehingga biaya pemeliharaannya tidak lagi sebanding dengan hasil yang diterima petani.
Setelah tanaman lama dibongkar, lahan disiapkan kembali untuk ditanami benih tebu unggul.
Pemerintah Beri Bibit Gratis
Pemerintah menyiapkan dukungan berupa bibit gratis, pengolahan lahan, pupuk, modernisasi alat dan mesin pertanian, pembangunan irigasi pompa, serta penataan varietas dan pola tanam agar produktivitas kebun meningkat sejak musim tanam berikutnya.
Di lapangan, pelaksanaan program ini melibatkan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN gula seperti PT Sinergi Gula Nusantara, pabrik gula swasta, dan kelompok petani tebu.
Skema ini juga diikuti pendataan Calon Petani Calon Lahan atau CPCL, agar bantuan tepat sasaran dan kebun yang diremajakan benar-benar masuk ke jalur produksi.
Pada 2025, Ditjen Perkebunan mengalokasikan pengembangan kawasan tebu lebih dari 100 ribu hektare yang mencakup bongkar ratoon dan perluasan lahan baru.
Sementara dalam percepatan terbaru, Kementan menyiapkan pembongkaran ratoon secara bertahap hingga sekitar 298 ribu hektare, dengan anggaran program bongkar ratoon sekitar Rp1,7 triliun.
Selain fokus pada kebun, pelaksanaan bongkar ratoon juga dihubungkan dengan pembenahan hilir.
Pemerintah menyiapkan revitalisasi pabrik gula, penguatan kemitraan antara petani dan pabrik, serta penertiban tata niaga agar saat produksi naik, gula petani tetap terserap pasar dengan harga yang lebih terjaga.

