SulawesiPos.com – Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, mantan Emir Qatar yang dikenal sebagai arsitek transformasi negara kecil di Teluk Persia menjadi salah satu kekuatan ekonomi, diplomasi, dan energi dunia, wafat pada usia 74 tahun pada Ahad (13/7/2026) waktu setempat. Kabar duka tersebut diumumkan melalui pernyataan resmi Diwan Amiri Qatar yang kemudian diikuti penetapan empat hari berkabung nasional, penghentian sementara aktivitas lembaga pemerintahan, pengibaran bendera setengah tiang, serta penyelenggaraan salat jenazah di Masjid Jami Sheikh Muhammad bin Abdul Wahhab sebelum dimakamkan di kompleks pemakaman Lusail.
Dalam pernyataannya, Diwan Amiri Qatar memohon agar Allah SWT melimpahkan rahmat kepada almarhum dan memberikan balasan terbaik atas seluruh pengabdiannya kepada bangsa dan negara Qatar.
Sheikh Hamad lahir di Doha pada 1952 dan menempuh pendidikan militer di Royal Military Academy Sandhurst, Inggris, sebelum bergabung dengan Angkatan Bersenjata Qatar, kemudian menjabat Menteri Pertahanan dan diangkat sebagai Putra Mahkota pada 1977.
Ia mengambil alih kekuasaan melalui kudeta tanpa pertumpahan darah terhadap ayahnya, Sheikh Khalifa bin Hamad Al Thani, pada 27 Juni 1995 ketika sang ayah berada di luar negeri.
Selama memimpin Qatar hingga 2013, Hamad mengubah arah pembangunan negara dengan menggabungkan modernisasi ekonomi, reformasi kelembagaan, dan kebijakan luar negeri yang lebih aktif.
Dari Negara Kecil Menjadi Kekuatan Global
Reuters menilai keberhasilan terbesar Sheikh Hamad terletak pada keberaniannya mengembangkan industri gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG), yang kemudian menjadikan Qatar sebagai salah satu eksportir LNG terbesar di dunia sekaligus mengangkat pendapatan nasional negara tersebut secara drastis.
Pendapatan dari sektor energi kemudian digunakan untuk membangun infrastruktur modern, memperkuat dana investasi negara melalui Qatar Investment Authority (QIA), memperluas jaringan pendidikan dan kesehatan, serta membiayai proyek-proyek strategis di berbagai belahan dunia.
Di bidang media, pemerintahannya mendirikan dan mengembangkan jaringan berita Al Jazeera yang sejak 1996 menjadi salah satu media internasional paling berpengaruh di Timur Tengah dan dunia.
Keberhasilan diplomasi Qatar semakin menonjol ketika negara itu memenangkan hak sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, sebuah pencapaian yang mengubah citra Qatar menjadi pusat perhatian dunia olahraga internasional.
Euronews menyebut Sheikh Hamad sebagai pemimpin yang berhasil membawa perubahan besar dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, diplomasi, dan investasi global sehingga Qatar memperoleh posisi yang jauh melampaui ukuran wilayah maupun jumlah penduduknya.
Asisten Profesor Hubungan Internasional Universitas Qatar, Abdullah Bandar Al-Otaibi, kepada Al Jazeera mengatakan Sheikh Hamad berhasil mengubah Qatar dari negara biasa menjadi negara yang memiliki pengaruh luar biasa di kawasan maupun dunia.
Menurut Al-Otaibi, visi besar Hamad diwujudkan melalui investasi jangka panjang di sektor LNG yang kemudian menjadi fondasi utama kemakmuran Qatar hingga sekarang.
Reformasi Politik dan Suksesi yang Menjadi Teladan
Selain pembangunan ekonomi, Sheikh Hamad juga memperkenalkan berbagai reformasi politik yang relatif progresif bagi kawasan Teluk.
Pada masa pemerintahannya disusun konstitusi permanen Qatar yang kemudian disahkan melalui referendum nasional sebagai dasar sistem pemerintahan modern negara tersebut.
Pemerintahannya juga menyelenggarakan pemilihan anggota dewan kota pertama, pemilihan Kamar Dagang Qatar, serta pembentukan berbagai lembaga yang memperkuat tata kelola negara.
Salah satu keputusan paling bersejarah terjadi pada 2013 ketika Sheikh Hamad secara sukarela menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.
Langkah tersebut menjadi peristiwa langka di kawasan monarki Teluk karena transisi kepemimpinan berlangsung damai tanpa gejolak politik maupun konflik internal.
Setelah menerima amanah sebagai emir baru, Sheikh Tamim melanjutkan sebagian besar kebijakan pembangunan yang telah dirintis ayahnya, termasuk diversifikasi ekonomi, investasi global, dan penguatan diplomasi internasional.
Warisan yang Mengubah Peta Geopolitik Teluk
Dengan luas wilayah sekitar 11.586 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa, Qatar merupakan salah satu negara terkecil di kawasan Teluk, namun selama tiga dekade terakhir berhasil menempatkan diri sebagai pemain penting dalam politik, ekonomi, energi, dan diplomasi internasional.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari strategi Sheikh Hamad yang mengubah kekayaan gas alam menjadi modal pembangunan nasional sekaligus instrumen pengaruh global melalui investasi, diplomasi mediasi konflik, pendidikan, media internasional, dan olahraga.
Diwan Amiri Qatar menyatakan Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani akan menerima kunjungan para kepala negara, pejabat asing, keluarga penguasa, dan masyarakat di Istana Lusail selama masa berkabung nasional yang berlangsung hingga pertengahan pekan ini.
Wafatnya Sheikh Hamad menandai berakhirnya kehidupan seorang pemimpin yang selama 18 tahun pemerintahannya membentuk fondasi Qatar modern, sekaligus meninggalkan warisan berupa negara yang kini memiliki salah satu pendapatan per kapita tertinggi di dunia dan memainkan peran yang jauh lebih besar dibanding ukuran geografisnya. (Ali)


