Saudia Bantah Serahkan Boeing 777 ke Maskapai Iran, Tegaskan Penjualan Dilakukan Sesuai Hukum pada 2023

SulawesiPos.com – Maskapai nasional Arab Saudi, Saudia (Saudi Arabian Airlines), pada Sabtu, 4 Juli 2026, membantah tuduhan bahwa mereka menyerahkan lima pesawat Boeing 777-200 kepada maskapai Iran yang berada di bawah sanksi internasional. Perusahaan menegaskan bahwa pesawat-pesawat tersebut telah dijual kepada perusahaan yang terdaftar di luar Arab Saudi pada 7 Juni 2023 melalui mekanisme komersial dan hukum yang sah, sehingga sejak transaksi itu selesai Saudia tidak lagi memiliki hubungan operasional maupun komersial dengan pesawat tersebut. Klarifikasi ini disampaikan menyusul beredarnya laporan media dan media sosial yang mengaitkan pesawat bekas milik Saudia dengan maskapai Iran Mahan Air, setelah sebagian pesawat dilaporkan telah tiba di Teheran sebagaimana laporan Middle East News, Sabtu (4/7/2026).

Saudia menyatakan pihaknya memantau secara serius berbagai pemberitaan yang menuding perusahaan telah menyerahkan pesawat kepada entitas yang dikenai sanksi internasional.

Maskapai itu menegaskan seluruh proses penjualan dilaksanakan sesuai ketentuan perdagangan internasional dan regulasi hukum yang berlaku pada saat transaksi dilakukan.

Perusahaan juga menekankan bahwa kepemilikan pesawat telah sepenuhnya berpindah kepada pembeli sejak pertengahan 2023 sehingga seluruh tanggung jawab atas pengoperasian maupun pemanfaatannya berada di tangan pemilik baru.

Saudia menambahkan bahwa hingga saat ini tidak terdapat hubungan bisnis, teknis, operasional maupun komersial dengan pesawat-pesawat tersebut ataupun dengan perusahaan yang kini menguasainya.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran

Laporan sejumlah media sebelumnya menyebut lima unit Boeing 777-200 bekas armada Saudia diduga akhirnya dialihkan kepada Mahan Air, maskapai swasta Iran yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran sanksi Amerika Serikat karena dituduh memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Jalur Penjualan Melalui Perusahaan Perantara*

Berdasarkan berbagai laporan media, pesawat-pesawat tersebut tidak dijual secara langsung kepada maskapai Iran, melainkan terlebih dahulu dialihkan kepada sebuah perusahaan perdagangan atau leasing yang terdaftar di luar Arab Saudi.

Perusahaan perantara itu kemudian diduga memfasilitasi perpindahan kepemilikan pesawat menuju Iran melalui transaksi lanjutan yang berlangsung di pasar pesawat bekas internasional.

Media Iran Middle East News menjelaskan bahwa pola seperti ini merupakan mekanisme yang lazim digunakan dalam perdagangan pesawat bekas sehingga kepemilikan dapat berpindah beberapa kali sebelum mencapai operator akhir.

Laporan Simple Flying menyebutkan dua pesawat telah terlihat berada di Bandara Internasional Mehrabad, Teheran, sementara tiga unit lainnya masih berada dalam proses pengiriman.

Sejumlah pengamat penerbangan menyebut satu pesawat berada di Muscat, Oman, sedangkan dua lainnya berada di Fujairah, Uni Emirat Arab, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Iran.

BACA JUGA:  Sikap AS Dinilai Inkonsisten, Kemarin Ingin Damai Sekarang Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran

Hingga kini belum terdapat konfirmasi resmi dari pemerintah Uni Emirat Arab mengenai dugaan keterlibatan pihaknya dalam proses logistik tersebut.

Menjadi Sorotan Karena Sanksi Amerika Serikat

Perpindahan pesawat buatan Amerika Serikat menuju Iran menarik perhatian komunitas internasional karena industri penerbangan Iran masih menghadapi pembatasan akibat rezim sanksi yang diberlakukan Washington.

Mahan Air selama bertahun-tahun menjadi salah satu maskapai yang paling terdampak sehingga kesulitan memperoleh pesawat baru maupun suku cadang asli dari produsen Barat.

Karena itu, Iran selama beberapa tahun terakhir lebih banyak memperoleh pesawat berbadan lebar melalui pembelian pesawat bekas, perubahan registrasi, serta jalur perdagangan sekunder yang sah menurut yurisdiksi negara tertentu namun tetap menjadi perhatian regulator internasional.

Laporan menyebut dua Boeing 777 yang telah tiba di Teheran akan menjalani inspeksi teknis, pemeliharaan menyeluruh, serta kemungkinan renovasi kabin sebelum dioperasikan secara komersial oleh Mahan Air.

Para analis penerbangan menjelaskan bahwa proses peremajaan tersebut lazim dilakukan agar pesawat memenuhi standar operasional maskapai baru, meskipun beberapa operator tetap mempertahankan konfigurasi kursi, dapur pesawat, maupun sistem hiburan dalam kabin untuk menghemat biaya.

BACA JUGA:  Bocor Sebelum Sah, Ini Isi Lengkap MOU 14 Poin Damai AS-Iran

Modernisasi Armada Saudia Berjalan Normal

Saudia menegaskan bahwa penjualan Boeing 777 generasi lama merupakan bagian dari strategi pembaruan armada yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Maskapai tersebut secara bertahap menggantikan pesawat-pesawat tua dengan armada yang lebih modern, efisien, dan hemat bahan bakar sebagai bagian dari transformasi industri penerbangan Arab Saudi yang sejalan dengan program Vision 2030.

Saat ini Saudia mengoperasikan sekitar 150 pesawat yang terdiri atas keluarga Airbus A320, A321, A330, Boeing 777, serta Boeing 787 Dreamliner, dengan jaringan penerbangan yang mencakup Timur Tengah, Afrika Utara, Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Di sisi lain, Mahan Air yang berdiri sejak 1991 telah mengoperasikan berbagai pesawat berbadan lebar untuk melayani rute domestik maupun internasional di Asia, Timur Tengah, dan Eropa, meskipun pengembangan armadanya selama bertahun-tahun dibatasi oleh sanksi internasional.

Kasus ini kembali menunjukkan bahwa perdagangan pesawat bekas di pasar global melibatkan rantai kepemilikan yang kompleks sehingga asal-usul sebuah pesawat tidak selalu mencerminkan hubungan langsung antara pemilik awal dengan operator akhirnya, sekaligus menegaskan pentingnya transparansi dalam transaksi aset penerbangan di tengah dinamika geopolitik dan rezim sanksi internasional. (Ali)

SulawesiPos.com – Maskapai nasional Arab Saudi, Saudia (Saudi Arabian Airlines), pada Sabtu, 4 Juli 2026, membantah tuduhan bahwa mereka menyerahkan lima pesawat Boeing 777-200 kepada maskapai Iran yang berada di bawah sanksi internasional. Perusahaan menegaskan bahwa pesawat-pesawat tersebut telah dijual kepada perusahaan yang terdaftar di luar Arab Saudi pada 7 Juni 2023 melalui mekanisme komersial dan hukum yang sah, sehingga sejak transaksi itu selesai Saudia tidak lagi memiliki hubungan operasional maupun komersial dengan pesawat tersebut. Klarifikasi ini disampaikan menyusul beredarnya laporan media dan media sosial yang mengaitkan pesawat bekas milik Saudia dengan maskapai Iran Mahan Air, setelah sebagian pesawat dilaporkan telah tiba di Teheran sebagaimana laporan Middle East News, Sabtu (4/7/2026).

Saudia menyatakan pihaknya memantau secara serius berbagai pemberitaan yang menuding perusahaan telah menyerahkan pesawat kepada entitas yang dikenai sanksi internasional.

Maskapai itu menegaskan seluruh proses penjualan dilaksanakan sesuai ketentuan perdagangan internasional dan regulasi hukum yang berlaku pada saat transaksi dilakukan.

Perusahaan juga menekankan bahwa kepemilikan pesawat telah sepenuhnya berpindah kepada pembeli sejak pertengahan 2023 sehingga seluruh tanggung jawab atas pengoperasian maupun pemanfaatannya berada di tangan pemilik baru.

Saudia menambahkan bahwa hingga saat ini tidak terdapat hubungan bisnis, teknis, operasional maupun komersial dengan pesawat-pesawat tersebut ataupun dengan perusahaan yang kini menguasainya.

BACA JUGA:  Rekaman Langka Bunker Drone Iran Tersebar, Menyoroti Kesiapan Militer dan Serangan Balasan ke Pangkalan AS

Laporan sejumlah media sebelumnya menyebut lima unit Boeing 777-200 bekas armada Saudia diduga akhirnya dialihkan kepada Mahan Air, maskapai swasta Iran yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran sanksi Amerika Serikat karena dituduh memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Jalur Penjualan Melalui Perusahaan Perantara*

Berdasarkan berbagai laporan media, pesawat-pesawat tersebut tidak dijual secara langsung kepada maskapai Iran, melainkan terlebih dahulu dialihkan kepada sebuah perusahaan perdagangan atau leasing yang terdaftar di luar Arab Saudi.

Perusahaan perantara itu kemudian diduga memfasilitasi perpindahan kepemilikan pesawat menuju Iran melalui transaksi lanjutan yang berlangsung di pasar pesawat bekas internasional.

Media Iran Middle East News menjelaskan bahwa pola seperti ini merupakan mekanisme yang lazim digunakan dalam perdagangan pesawat bekas sehingga kepemilikan dapat berpindah beberapa kali sebelum mencapai operator akhir.

Laporan Simple Flying menyebutkan dua pesawat telah terlihat berada di Bandara Internasional Mehrabad, Teheran, sementara tiga unit lainnya masih berada dalam proses pengiriman.

Sejumlah pengamat penerbangan menyebut satu pesawat berada di Muscat, Oman, sedangkan dua lainnya berada di Fujairah, Uni Emirat Arab, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Iran.

BACA JUGA:  Profil Ayatollah Alireza Arafi, Pemimpin Sementara Iran Pasca Wafatnya Ali Khamenei

Hingga kini belum terdapat konfirmasi resmi dari pemerintah Uni Emirat Arab mengenai dugaan keterlibatan pihaknya dalam proses logistik tersebut.

Menjadi Sorotan Karena Sanksi Amerika Serikat

Perpindahan pesawat buatan Amerika Serikat menuju Iran menarik perhatian komunitas internasional karena industri penerbangan Iran masih menghadapi pembatasan akibat rezim sanksi yang diberlakukan Washington.

Mahan Air selama bertahun-tahun menjadi salah satu maskapai yang paling terdampak sehingga kesulitan memperoleh pesawat baru maupun suku cadang asli dari produsen Barat.

Karena itu, Iran selama beberapa tahun terakhir lebih banyak memperoleh pesawat berbadan lebar melalui pembelian pesawat bekas, perubahan registrasi, serta jalur perdagangan sekunder yang sah menurut yurisdiksi negara tertentu namun tetap menjadi perhatian regulator internasional.

Laporan menyebut dua Boeing 777 yang telah tiba di Teheran akan menjalani inspeksi teknis, pemeliharaan menyeluruh, serta kemungkinan renovasi kabin sebelum dioperasikan secara komersial oleh Mahan Air.

Para analis penerbangan menjelaskan bahwa proses peremajaan tersebut lazim dilakukan agar pesawat memenuhi standar operasional maskapai baru, meskipun beberapa operator tetap mempertahankan konfigurasi kursi, dapur pesawat, maupun sistem hiburan dalam kabin untuk menghemat biaya.

BACA JUGA:  PKB Kecam Serangan AS–Israel ke Ali Khamenei, Minta PBB untuk Tidak Standar Ganda

Modernisasi Armada Saudia Berjalan Normal

Saudia menegaskan bahwa penjualan Boeing 777 generasi lama merupakan bagian dari strategi pembaruan armada yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Maskapai tersebut secara bertahap menggantikan pesawat-pesawat tua dengan armada yang lebih modern, efisien, dan hemat bahan bakar sebagai bagian dari transformasi industri penerbangan Arab Saudi yang sejalan dengan program Vision 2030.

Saat ini Saudia mengoperasikan sekitar 150 pesawat yang terdiri atas keluarga Airbus A320, A321, A330, Boeing 777, serta Boeing 787 Dreamliner, dengan jaringan penerbangan yang mencakup Timur Tengah, Afrika Utara, Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Di sisi lain, Mahan Air yang berdiri sejak 1991 telah mengoperasikan berbagai pesawat berbadan lebar untuk melayani rute domestik maupun internasional di Asia, Timur Tengah, dan Eropa, meskipun pengembangan armadanya selama bertahun-tahun dibatasi oleh sanksi internasional.

Kasus ini kembali menunjukkan bahwa perdagangan pesawat bekas di pasar global melibatkan rantai kepemilikan yang kompleks sehingga asal-usul sebuah pesawat tidak selalu mencerminkan hubungan langsung antara pemilik awal dengan operator akhirnya, sekaligus menegaskan pentingnya transparansi dalam transaksi aset penerbangan di tengah dinamika geopolitik dan rezim sanksi internasional. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru