Milad ke-54 DMI, Jusuf Kalla Tekankan Masjid Harus Jadi Pusat Ibadah dan Pemberdayaan Umat

SulawesiPos.com – Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla menegaskan masjid harus berfungsi lebih luas dari sekadar tempat ibadah, yakni menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, pendidikan, dakwah, dan pembangunan peradaban. Pesan itu disampaikannya dalam acara Tasyakuran Milad ke-54 DMI di Gedung DMI, Jalan Matraman, Jakarta Timur, Jumat, 3 Juli 2026.

Menurut Jusuf Kalla, semangat dasar pendirian DMI sejak awal bukan hanya memakmurkan masjid, tetapi juga memakmurkan masyarakat di sekitarnya. Ia menilai fungsi masjid harus terus diperkuat agar benar-benar memberi dampak nyata bagi kehidupan umat.

“Masjid harus memakmurkan masyarakatnya. Itulah tujuan utama DMI, yakni menjadikan masjid sebagai pusat ibadah sekaligus pusat peradaban yang mampu meningkatkan kualitas kehidupan umat,” ujarnya.

JK juga menyoroti perkembangan jumlah masjid di Indonesia yang dinilainya sangat pesat selama lebih dari lima dekade. Ia memperkirakan jumlah masjid kini telah melampaui 800 ribu unit, namun data tersebut menurutnya tetap perlu diperbarui bersama Kementerian Agama agar lebih akurat.

BACA JUGA:  JK Telepon Andi Amran Sulaiman soal Absen di PSBM 2026, Sampaikan Permohonan Maaf ke Warga KKSS

Soroti Persatuan dan Kualitas Pengelolaan

Dalam pandangan JK, salah satu keistimewaan masjid di Indonesia adalah perannya sebagai simbol persatuan umat Islam. Ia menegaskan masjid tidak semestinya dipisahkan berdasarkan organisasi, kelompok, atau latar belakang tertentu.

“Masjid adalah tempat persatuan umat. Tidak ada masjid NU, masjid Muhammadiyah, atau masjid berdasarkan suku. Yang ada adalah masjid untuk seluruh umat Islam,” katanya.

Setelah jumlah masjid dinilai mencukupi, ia menilai perhatian kini harus diarahkan pada peningkatan kualitas pengelolaan. Menurutnya, fungsi masjid sebagai pusat ibadah, dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat harus benar-benar diperkuat lewat pengelolaan yang baik.

Salah satu persoalan yang disoroti DMI adalah kualitas tata suara masjid. Jusuf Kalla mengatakan masih banyak masjid megah yang memiliki akustik kurang baik sehingga jamaah kesulitan mendengar ceramah maupun khutbah.

“Masjid boleh sederhana, tetapi jamaah harus bisa mendengar dengan jelas. Sebagian besar waktu pelaksanaan salat Jumat digunakan untuk mendengarkan khutbah. Karena itu kualitas akustik menjadi sangat penting,” ujarnya.

BACA JUGA:  Jusuf Kalla: Jangan Netral, Indonesia Harus Tegas Berada di Pihak Iran

Selain tata suara, DMI juga terus mendorong peningkatan kebersihan dan standar pengelolaan masjid, mulai dari arsitektur, kenyamanan jamaah, kualitas karpet, hingga fasilitas pendukung lainnya. Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang selama ini terlibat dalam program kebersihan masjid.

Dalam kesempatan itu, Jusuf Kalla turut menekankan pentingnya menjaga persatuan umat Islam. Ia menilai sejumlah perbedaan fikih yang dulu kerap diperdebatkan kini semakin bisa disikapi dengan lebih bijaksana, meski masih ada pekerjaan rumah untuk membangun titik temu terkait penetapan awal Ramadan dan Idulfitri.

Menutup sambutannya, JK mengajak seluruh pengurus DMI dan pengelola masjid di Indonesia terus meningkatkan kualitas pengelolaan masjid agar mampu menjadi pusat ibadah, persatuan, pendidikan, dakwah, dan kemajuan umat.

“Memakmurkan masjid bukan hanya membangunnya, tetapi juga mengelolanya dengan baik sehingga benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

SulawesiPos.com – Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla menegaskan masjid harus berfungsi lebih luas dari sekadar tempat ibadah, yakni menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, pendidikan, dakwah, dan pembangunan peradaban. Pesan itu disampaikannya dalam acara Tasyakuran Milad ke-54 DMI di Gedung DMI, Jalan Matraman, Jakarta Timur, Jumat, 3 Juli 2026.

Menurut Jusuf Kalla, semangat dasar pendirian DMI sejak awal bukan hanya memakmurkan masjid, tetapi juga memakmurkan masyarakat di sekitarnya. Ia menilai fungsi masjid harus terus diperkuat agar benar-benar memberi dampak nyata bagi kehidupan umat.

“Masjid harus memakmurkan masyarakatnya. Itulah tujuan utama DMI, yakni menjadikan masjid sebagai pusat ibadah sekaligus pusat peradaban yang mampu meningkatkan kualitas kehidupan umat,” ujarnya.

JK juga menyoroti perkembangan jumlah masjid di Indonesia yang dinilainya sangat pesat selama lebih dari lima dekade. Ia memperkirakan jumlah masjid kini telah melampaui 800 ribu unit, namun data tersebut menurutnya tetap perlu diperbarui bersama Kementerian Agama agar lebih akurat.

BACA JUGA:  JK: Ketahanan Iran Hadapi Tekanan AS-Israel Tunjukkan Pentingnya Penguasaan Teknologi di Dunia Islam

Soroti Persatuan dan Kualitas Pengelolaan

Dalam pandangan JK, salah satu keistimewaan masjid di Indonesia adalah perannya sebagai simbol persatuan umat Islam. Ia menegaskan masjid tidak semestinya dipisahkan berdasarkan organisasi, kelompok, atau latar belakang tertentu.

“Masjid adalah tempat persatuan umat. Tidak ada masjid NU, masjid Muhammadiyah, atau masjid berdasarkan suku. Yang ada adalah masjid untuk seluruh umat Islam,” katanya.

Setelah jumlah masjid dinilai mencukupi, ia menilai perhatian kini harus diarahkan pada peningkatan kualitas pengelolaan. Menurutnya, fungsi masjid sebagai pusat ibadah, dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat harus benar-benar diperkuat lewat pengelolaan yang baik.

Salah satu persoalan yang disoroti DMI adalah kualitas tata suara masjid. Jusuf Kalla mengatakan masih banyak masjid megah yang memiliki akustik kurang baik sehingga jamaah kesulitan mendengar ceramah maupun khutbah.

“Masjid boleh sederhana, tetapi jamaah harus bisa mendengar dengan jelas. Sebagian besar waktu pelaksanaan salat Jumat digunakan untuk mendengarkan khutbah. Karena itu kualitas akustik menjadi sangat penting,” ujarnya.

BACA JUGA:  Oase Toleransi di Jantung Pecinan: Menelisik Jejak Masjid Arab yang Tak Lekang Oleh Zaman

Selain tata suara, DMI juga terus mendorong peningkatan kebersihan dan standar pengelolaan masjid, mulai dari arsitektur, kenyamanan jamaah, kualitas karpet, hingga fasilitas pendukung lainnya. Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang selama ini terlibat dalam program kebersihan masjid.

Dalam kesempatan itu, Jusuf Kalla turut menekankan pentingnya menjaga persatuan umat Islam. Ia menilai sejumlah perbedaan fikih yang dulu kerap diperdebatkan kini semakin bisa disikapi dengan lebih bijaksana, meski masih ada pekerjaan rumah untuk membangun titik temu terkait penetapan awal Ramadan dan Idulfitri.

Menutup sambutannya, JK mengajak seluruh pengurus DMI dan pengelola masjid di Indonesia terus meningkatkan kualitas pengelolaan masjid agar mampu menjadi pusat ibadah, persatuan, pendidikan, dakwah, dan kemajuan umat.

“Memakmurkan masjid bukan hanya membangunnya, tetapi juga mengelolanya dengan baik sehingga benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru