SulawesiPos.com – Program Optimalisasi Lahan (Oplah) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR) Kementerian Pertanian terbukti berpengaruh terhadap stabilitas harga beras di Papua Selatan. Dengan meningkatnya produksi padi dan pasokan beras dari petani lokal, harga beras di Kabupaten Merauke dan sejumlah wilayah sekitarnya terpantau stabil dan berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke, Martha Bayu, mengatakan berdasarkan pemantauan rutin yang dilakukan pemerintah daerah, harga beras premium dan medium di wilayah Merauke masih terkendali.
Pemantauan dilakukan melalui petugas enumerator yang mencatat perkembangan harga di lapangan dan dilaporkan setiap hari kepada Badan Pangan Nasional.
“Untuk HET beras premium di Papua Selatan sebesar Rp15.800 per kilogram dan beras medium Rp13.500 per kilogram. Dari hasil pemantauan kami selama tiga bulan terakhir, harga beras di pasar Merauke masih berada di bawah HET, baik premium maupun medium,” ujar Martha saat dihubungi pada Senin (22/6).
Martha menilai stabilitas harga beras saat ini tidak terlepas dari meningkatnya produksi padi lokal yang didorong oleh program Oplah dan Cetak Sawah Rakyat yang mulai berjalan dalam beberapa tahun terakhir. Program tersebut berhasil meningkatkan ketersediaan beras sekaligus memperkuat keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Sebelum peningkatan produksi melalui Oplah dan Cetak Sawah Rakyat, harga beras di sejumlah wilayah Papua Selatan, khususnya daerah yang sulit dijangkau, kerap mengalami fluktuasi. Bahkan di beberapa wilayah luar Merauke, harga beras pernah mencapai Rp26.500 per kilogram.
“Sebelum adanya program ini, harga beras di beberapa wilayah cukup tinggi, bahkan pernah mencapai Rp26.500 per kilogram. Setelah kegiatan Oplah dan Cetak Sawah Rakyat berjalan, sekarang harga beras yang banyak dijual di lapak-lapak berada di kisaran Rp12.000 hingga Rp15.500 per kilogram,” ungkapnya.
Menurut Martha, berkat program Oplah dan Cetak Sawah Rakyat, masyarakat sangat terbantu dari sisi ketersediaan maupun keterjangkauan pangan. Pasokan beras di lapangan tersedia dengan baik sehingga harga tetap stabil dan terjangkau. Saat ini, harga beras yang dijual di Kota Merauke umumnya berada pada kisaran Rp12.000 hingga Rp15.000 per kilogram, tergantung kualitas dan mutu beras.
Dampak positif program tersebut juga dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat adat di Merauke. Selvius Mbitu Gebze, pemilik hak ulayat sekaligus Manajer Brigade Pangan di Kampung Waninggap Kai, Distrik Semangga, mengatakan masyarakat menyambut baik program Cetak Sawah Rakyat yang masuk ke wilayahnya pada 2025.
“CSR masuk di sini tahun 2025. Saya bersama keluarga dan masyarakat menerima program ini karena sangat bermanfaat bagi kami. Kami ingin maju dan berhasil melalui usaha tani padi. Kalau kerja harian, hasilnya habis untuk hari itu juga. Kalau bertani padi, hasilnya bisa terus dikembangkan lagi,” ujar Selvius.
Ia mengaku hasil panen yang diperoleh cukup menjanjikan. Pada musim panen terakhir, lahan yang dikelolanya mampu menghasilkan sekitar 6 ton gabah. Ke depan, ia berharap semakin banyak masyarakat Papua yang terlibat dalam sektor pertanian.
“Panen terakhir saya kurang lebih 6 ton. Ke depan saya ingin hasilnya lebih baik lagi dan mengajak saudara-saudara saya untuk bersama-sama menjadi petani,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Marga Gebze sekaligus pemilik hak ulayat, Yohanes Yandi Gebze. Menurutnya, program Cetak Sawah Rakyat telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan meningkatkan kebanggaan Orang Asli Papua (OAP) untuk menjadi petani.
“Orang Asli Papua bangga jadi petani. Saat program ini masuk pada 2024, kami coba bersama masyarakat dan hasilnya berhasil. Bahkan anak saya bisa membeli motor dari hasil usaha tani. Program cetak sawah ini sangat baik bagi masyarakat Papua, khususnya orang Marind,” ujar Yohanes.
Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini tidak ada penolakan masyarakat terhadap program tersebut. Dari total potensi lahan sekitar 5.000 hektare, sekitar 2.800 hektare telah dikembangkan dan ditanami. Seluruh kegiatan pertanian juga melibatkan keluarga dan masyarakat setempat.
“Semua keluarga ikut bekerja di sini. Mereka senang dan bangga memiliki lahan sawah. Pemerintah juga membantu alat dan mesin pertanian. Yang sebelumnya kekurangan bahan makanan di rumah, sekarang sudah tersedia. Uang juga sudah ada di saku. Saat ini pertanian menjadi sektor yang paling bisa kami andalkan,” tuturnya.
Meski demikian, Martha menjelaskan masih terdapat sejumlah wilayah terluar yang mencatat harga beras lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan. Kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya pasokan, melainkan tingginya biaya distribusi menuju daerah yang sulit dijangkau.
“Kalau semakin jauh dari pusat distribusi, harga akan mengikuti biaya angkutan. Untuk daerah yang distribusinya melalui jalur laut, harga beras bisa berada pada kisaran Rp20.000 sampai Rp25.000 per kilogram,” jelasnya.
Menurut Martha, kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu ketika pasokan beras masih banyak bergantung dari luar daerah. Meningkatnya produksi dari petani lokal berkat dukungan program Kementerian Pertanian membuat ketersediaan beras semakin terjaga dan masyarakat lebih mudah memperoleh beras dengan harga yang terjangkau.
Ia juga menegaskan bahwa hingga tahun 2026 tidak terdapat gejolak harga beras yang signifikan di Papua Selatan. Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan harga dan stok pangan secara berkala guna memastikan pasokan tetap aman dan harga tetap terkendali.
Keberhasilan menjaga stabilitas harga beras di Papua Selatan menunjukkan bahwa program Oplah dan Cetak Sawah Rakyat tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi padi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan pendapatan petani, serta menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Kementerian Pertanian akan terus mendorong peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam guna memperkuat peran Papua Selatan sebagai salah satu lumbung pangan nasional.


