Program Optimalisasi Lahan (OPLAH) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR) yang dijalankan pemerintah menunjukkan hasil nyata dalam meningkatkan produksi pangan nasional. Kabupaten Merauke, Papua Selatan, mencatat lonjakan produksi padi yang signifikan sepanjang 2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Merauke pada 2025 mencapai 362.542 ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka tersebut meningkat 144.752 ton atau 66,46 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang tercatat sebesar 217.790 ton GKG.
Peningkatan ini menjadi salah satu capaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan menunjukkan keberhasilan program intensifikasi serta ekstensifikasi pertanian yang digencarkan pemerintah sejak 2024.
OPLAH dan Cetak Sawah Rakyat Dorong Produktivitas
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Merauke, Yosefa Rumaseu, mengatakan lonjakan produksi tersebut tidak terlepas dari dukungan pemerintah pusat melalui program optimalisasi lahan dan cetak sawah rakyat.
Menurut Yosefa, Merauke memiliki sekitar 67.000 hektare lahan pertanian eksisting yang telah diusahakan masyarakat. Pada 2024, pemerintah melakukan optimalisasi sekitar 40.000 hektare lahan dengan berbagai dukungan sarana produksi.
“Program ekstensifikasi dan intensifikasi sebenarnya sudah berjalan sebelum tahun 2024. Namun sejak adanya perhatian penuh dari pemerintah pusat, potensi yang ada benar-benar diberdayakan melalui program optimalisasi lahan dan cetak sawah rakyat,” ujar Yosefa.
Ia menjelaskan, pemerintah memberikan dukungan berupa alat dan mesin pertanian (alsintan), benih unggul, pupuk, serta berbagai komponen pendukung lainnya guna meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada.
“Optimalisasi dilakukan pada lahan-lahan yang sudah ada dengan dukungan penuh sumber daya pertanian sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan produksi,” katanya.
Produksi Padi Naik, Ekonomi Petani Ikut Membaik
Hasil intervensi pemerintah mulai terlihat pada 2025 ketika produksi gabah mengalami lonjakan signifikan yang berdampak langsung pada peningkatan produksi beras di wilayah tersebut.
“Melalui program besar yang dijalankan Bapak Presiden dan Bapak Menteri Pertanian, baik optimalisasi lahan maupun cetak sawah rakyat, produksi padi Merauke pada tahun 2025 meningkat sekitar 65 persen dibandingkan sebelumnya. Data ini juga telah dipublikasikan oleh BPS,” ungkap Yosefa.
Menurutnya, manfaat program tidak hanya terlihat dari peningkatan produksi pangan, tetapi juga berdampak terhadap kesejahteraan petani.
Ia mengaku sebelum program tersebut berjalan, masih banyak masyarakat di kampung-kampung yang menghadapi kesulitan ekonomi. Namun kondisi itu kini mulai berubah seiring meningkatnya hasil pertanian dan pendapatan warga.
“Sebelum adanya optimalisasi lahan dan cetak sawah rakyat, kami sering melihat masyarakat mengalami kesulitan ekonomi. Setelah program berjalan, kondisi itu mulai berubah. Banyak yang sudah mampu melunasi kewajibannya dan jumlah kasus seperti itu semakin berkurang,” tuturnya.
Petani Papua Semakin Antusias Bertani
Perubahan positif juga terlihat dari meningkatnya semangat petani Orang Asli Papua (OAP) dalam mengembangkan usaha tani mereka.
Yosefa menyebut masyarakat di Kampung Urum, Serapu, dan sejumlah wilayah lainnya kini semakin aktif mengelola sawah. Kehadiran bantuan alsintan dari pemerintah turut mendorong minat generasi muda untuk terlibat dalam sektor pertanian.
“Petani OAP sangat bersemangat. Bahkan anak-anak ikut termotivasi karena melihat langsung bantuan pemerintah berupa alsintan yang mendukung aktivitas pertanian orang tua mereka,” katanya.
Dampak program juga dirasakan langsung oleh petani Orang Asli Papua di Distrik Semangga, Yohannes Yandi Gebze. Ia menilai program cetak sawah rakyat telah membawa perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Program cetak sawah sangat baik untuk kami orang Papua, khususnya masyarakat Marind,” ujar Yohannes.
Menurutnya, masyarakat menerima program tersebut dengan antusias karena mampu meningkatkan ketersediaan pangan sekaligus menambah pendapatan keluarga.
“Masyarakat bangga dan senang memiliki lahan sawah sendiri. Dulu kebutuhan pangan di rumah sering kurang, sekarang sudah tersedia. Pendapatan juga meningkat sehingga masyarakat memiliki penghasilan yang lebih baik,” katanya.
Dorong Pertanian Modern dan Berkelanjutan
Yosefa menegaskan keberhasilan program OPLAH dan Cetak Sawah Rakyat tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan produksi pangan nasional, tetapi juga mendorong transformasi pertanian dari pola tradisional menuju sistem pertanian modern yang lebih produktif dan berkelanjutan.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga kesejahteraan petani. Produksi pangan harus terus meningkat dan terjangkau masyarakat, tetapi petani juga harus memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik dari hasil usahanya,” pungkas Yosefa.


