Kontroversi AI Guncang Dunia Sastra, Granta Hentikan Publikasi Pemenang Penghargaan Cerita Pendek Persemakmuran

SulawesiPos.com – Majalah sastra bergengsi dunia, Granta, memutuskan menghentikan publikasi karya pemenang tahunan Commonwealth Short Story Prize menyusul kontroversi dugaan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam salah satu karya pemenang tahun 2026, sebuah kasus yang menurut kalangan akademisi dan sastrawan menunjukkan bahwa dunia sastra global kini sedang memasuki fase baru ketika batas antara kreativitas manusia dan produksi teks berbasis mesin semakin sulit dibedakan. Keputusan tersebut dilaporkan oleh The Guardian melalui laporan jurnalis Ella Creamer pada Sabtu (20/6/2026).

Bagi Dr. Aslan Abidin, dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM) yang juga dikenal melalui keterlibatannya dalam antologi Mimbar Penyair Abad 21, kontroversi Granta sesungguhnya bukan sekadar persoalan lomba sastra, melainkan gejala perubahan besar dalam peradaban kreatif manusia. Pandangan tersebut disampaikannya saat dihubungi jurnalis SulawesiPos pada Senin (22/6) untuk menanggapi polemik yang mengguncang dunia sastra internasional tersebut.

“Manusia dengan segala keterbatasannya, termasuk kemalasan dan kebodohannya, justru membuka pintu yang sangat lebar bagi hadirnya AI dalam hampir seluruh proses kreatif,” ujar Aslan.

Menurutnya, ukuran kecerdasan kreatif perlahan bergeser dari kemampuan menciptakan menjadi kemampuan mengarahkan.

“Kini kreativitas tidak lagi semata-mata diukur dari siapa yang menulis, tetapi dari siapa yang paling cerdik memerintah dan memprompt AI,” katanya.

Ia menilai perkembangan tersebut membuat manusia semakin sulit menolak penggunaan AI dalam aktivitas intelektual maupun kesenian.

“Dalam kenyataannya, manusia mungkin tidak bisa lagi diminta berhenti menggunakan AI. Yang bisa diminta hanyalah etika dan tanggung jawab. Masalahnya, etika adalah wilayah yang bahkan belum mampu diukur secara pasti oleh AI itu sendiri,” ujarnya.

Aslan mengingatkan bahwa paradoks terbesar saat ini adalah teknologi yang dituduh menghasilkan karya justru belum mampu memastikan secara akurat apakah suatu karya dibuat manusia atau mesin.

BACA JUGA:  Yovie Widianto di UNHAS: Manusia Tetap Pemakna di Tengah Gempuran AI  

“AI dituntut menjadi hakim, padahal ia sendiri belum mampu memastikan siapa sebenarnya penulis sebuah teks,” katanya.

Dalam pernyataan resminya kepada The Guardian, Granta menegaskan bahwa pihaknya tidak lagi akan terlibat dalam kemitraan publikasi eksternal yang berada di luar kendali editorial mereka.

Keputusan tersebut diambil setelah proses seleksi pemenang regional Commonwealth Short Story Prize 2026 memunculkan kontroversi luas mengenai kemungkinan penggunaan AI dalam penulisan karya yang memenangkan penghargaan.

Granta menyatakan bahwa tuduhan tersebut telah ditolak secara tegas oleh para penulis yang bersangkutan.

Lembaga itu menegaskan bahwa menjaga integritas editorial menjadi alasan utama penghentian kerja sama publikasi tersebut.

Meski menarik diri dari kemitraan penerbitan, Granta tetap mempertahankan publikasi karya-karya yang masuk daftar pendek penghargaan tersebut melalui platform resminya.

Pusat kontroversi berasal dari cerita pendek The Serpent in the Grove karya Jamir Nazir yang memenangkan kategori regional Karibia.

Karya tersebut mulai menjadi perbincangan luas di media sosial sejak pertengahan Mei 2026.

Sejumlah pengamat sastra menilai cerita itu memiliki pola bahasa yang menyerupai keluaran model AI generatif.

Mereka menyoroti pengulangan struktur kalimat tertentu serta metafora yang dianggap tidak lazim.

Namun hingga kini tidak terdapat bukti teknis yang dapat memastikan bahwa karya tersebut benar-benar dihasilkan oleh AI. Nazir membantah seluruh tuduhan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa naskahnya ditulis menggunakan fitur pengubah suara menjadi teks pada telepon pintar Android karena kondisi kesehatan yang membatasi aktivitas mengetik dalam waktu lama.

Menurut Nazir, metode dikte suara yang kemudian disunting secara terbatas menghasilkan karakter bahasa yang berbeda dari pola penulisan konvensional.

BACA JUGA:  Apple Siapkan Siri Lebih Privat, Riwayat Percakapan Bisa Terhapus Otomatis

Kontroversi semakin mengemuka setelah penerbit dan filantropis Sigrid Rausing menyatakan kemungkinan adanya plagiarisme berbasis AI tidak dapat sepenuhnya diabaikan.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Commonwealth Foundation, Razmi Farook, menegaskan bahwa seluruh penulis yang masuk daftar pendek telah menyatakan secara pribadi tidak menggunakan AI dalam proses kreatif mereka.

Yayasan tersebut juga menyebut telah melakukan konsultasi tambahan sebelum mengesahkan hasil kompetisi.

Ketika Mesin Menulis, Apa yang Masih Menjadi Milik Manusia?

Menurut Aslan, kasus seperti ini sebenarnya bukan fenomena yang hanya terjadi di dunia sastra internasional.

Ia mencontohkan pengalaman penyair Indonesia Tri Astoto yang pernah menghadapi tuduhan serupa meskipun karya yang ditulisnya tidak melibatkan AI.

Sebaliknya, terdapat pula editor yang secara terbuka menganggap AI sebagai bagian dari proses kreatif sastra kontemporer.

Ia menyebut nama Muhary Wahyu Nurba dari Magrib.id sebagai salah satu contoh editor yang melihat AI sebagai instrumen kreatif baru.

Fenomena tersebut, menurut Aslan, menunjukkan bahwa perdebatan sastra masa depan tidak lagi berkisar pada pertanyaan apakah AI boleh digunakan atau tidak, melainkan bagaimana manusia mendefinisikan ulang orisinalitas.

“Saya melihat masa depan sastra bukan ditentukan oleh seberapa canggih AI meniru manusia, tetapi oleh seberapa jauh manusia mampu menghadirkan pengalaman yang tidak dimiliki AI,” ujarnya.

Ia menilai ruang paling menjanjikan bagi sastra masa depan justru terletak pada kekayaan lokal yang belum terdigitalisasi.

“AI hanya dapat belajar dari data yang tersedia. Karena itu, kebaruan terbesar sastra masa depan mungkin lahir dari kampung-kampung yang belum pernah ditulis, bahasa-bahasa yang hampir punah, mitos-mitos lokal yang belum pernah masuk basis data global, dan pengalaman manusia yang belum pernah direkam mesin,” katanya.

BACA JUGA:  2026 dan Jam Berdetak Dunia: Ketika AI Perlahan Menggeser Manusia dari Meja Kerja

Menurut Aslan, ketika AI semakin mampu meniru gaya, struktur, dan bahkan emosi dalam teks, keunikan sastra manusia akan semakin ditentukan oleh kedalaman pengalaman hidup yang tidak dapat diunduh atau dipelajari secara instan oleh algoritma.

“Sastra tidak sedang mati karena AI. Sastra sedang dipaksa menemukan kembali alasan mengapa manusia harus menulis,” tegasnya.

Dalam dua tahun terakhir, berbagai penerbit, universitas, dan penyelenggara penghargaan sastra di dunia mulai menyusun regulasi baru terkait penggunaan AI dalam proses kreatif.

Sebagian kompetisi mewajibkan deklarasi penggunaan AI.

Sebagian lainnya memilih melarang penggunaan AI sama sekali.

Namun hingga kini belum terdapat standar internasional yang disepakati secara luas mengenai batas penggunaan teknologi tersebut dalam penciptaan karya sastra.

Para ahli linguistik komputasional juga mengingatkan bahwa perangkat pendeteksi AI masih memiliki tingkat kesalahan yang relatif tinggi.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa teks yang ditulis manusia dapat keliru ditandai sebagai hasil AI, sementara teks yang dihasilkan AI sering kali lolos dari sistem deteksi.

Kondisi tersebut menjadikan tuduhan penggunaan AI dalam karya sastra sebagai persoalan yang kompleks, multidimensi, dan sulit dibuktikan secara ilmiah.

Perdebatan yang muncul tidak lagi sekadar menyangkut teknologi, tetapi juga menyentuh persoalan hak cipta, keaslian, kreativitas, identitas kepengarangan, dan masa depan kebudayaan manusia di era kecerdasan buatan.

Kasus Granta pada akhirnya menjadi salah satu penanda penting bahwa dunia sastra global sedang memasuki babak baru, ketika pertanyaan terbesar bukan lagi apakah mesin dapat menulis seperti manusia, melainkan apakah manusia masih mampu menghadirkan sesuatu yang tidak dapat ditiru oleh mesin. (Ali)

SulawesiPos.com – Majalah sastra bergengsi dunia, Granta, memutuskan menghentikan publikasi karya pemenang tahunan Commonwealth Short Story Prize menyusul kontroversi dugaan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam salah satu karya pemenang tahun 2026, sebuah kasus yang menurut kalangan akademisi dan sastrawan menunjukkan bahwa dunia sastra global kini sedang memasuki fase baru ketika batas antara kreativitas manusia dan produksi teks berbasis mesin semakin sulit dibedakan. Keputusan tersebut dilaporkan oleh The Guardian melalui laporan jurnalis Ella Creamer pada Sabtu (20/6/2026).

Bagi Dr. Aslan Abidin, dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM) yang juga dikenal melalui keterlibatannya dalam antologi Mimbar Penyair Abad 21, kontroversi Granta sesungguhnya bukan sekadar persoalan lomba sastra, melainkan gejala perubahan besar dalam peradaban kreatif manusia. Pandangan tersebut disampaikannya saat dihubungi jurnalis SulawesiPos pada Senin (22/6) untuk menanggapi polemik yang mengguncang dunia sastra internasional tersebut.

“Manusia dengan segala keterbatasannya, termasuk kemalasan dan kebodohannya, justru membuka pintu yang sangat lebar bagi hadirnya AI dalam hampir seluruh proses kreatif,” ujar Aslan.

Menurutnya, ukuran kecerdasan kreatif perlahan bergeser dari kemampuan menciptakan menjadi kemampuan mengarahkan.

“Kini kreativitas tidak lagi semata-mata diukur dari siapa yang menulis, tetapi dari siapa yang paling cerdik memerintah dan memprompt AI,” katanya.

Ia menilai perkembangan tersebut membuat manusia semakin sulit menolak penggunaan AI dalam aktivitas intelektual maupun kesenian.

“Dalam kenyataannya, manusia mungkin tidak bisa lagi diminta berhenti menggunakan AI. Yang bisa diminta hanyalah etika dan tanggung jawab. Masalahnya, etika adalah wilayah yang bahkan belum mampu diukur secara pasti oleh AI itu sendiri,” ujarnya.

Aslan mengingatkan bahwa paradoks terbesar saat ini adalah teknologi yang dituduh menghasilkan karya justru belum mampu memastikan secara akurat apakah suatu karya dibuat manusia atau mesin.

BACA JUGA:  Dewan Pers Minta Karya Jurnalistik Masuk UU Hak Cipta, Soroti Ancaman AI dan Pengambilan Konten Tanpa Izin

“AI dituntut menjadi hakim, padahal ia sendiri belum mampu memastikan siapa sebenarnya penulis sebuah teks,” katanya.

Dalam pernyataan resminya kepada The Guardian, Granta menegaskan bahwa pihaknya tidak lagi akan terlibat dalam kemitraan publikasi eksternal yang berada di luar kendali editorial mereka.

Keputusan tersebut diambil setelah proses seleksi pemenang regional Commonwealth Short Story Prize 2026 memunculkan kontroversi luas mengenai kemungkinan penggunaan AI dalam penulisan karya yang memenangkan penghargaan.

Granta menyatakan bahwa tuduhan tersebut telah ditolak secara tegas oleh para penulis yang bersangkutan.

Lembaga itu menegaskan bahwa menjaga integritas editorial menjadi alasan utama penghentian kerja sama publikasi tersebut.

Meski menarik diri dari kemitraan penerbitan, Granta tetap mempertahankan publikasi karya-karya yang masuk daftar pendek penghargaan tersebut melalui platform resminya.

Pusat kontroversi berasal dari cerita pendek The Serpent in the Grove karya Jamir Nazir yang memenangkan kategori regional Karibia.

Karya tersebut mulai menjadi perbincangan luas di media sosial sejak pertengahan Mei 2026.

Sejumlah pengamat sastra menilai cerita itu memiliki pola bahasa yang menyerupai keluaran model AI generatif.

Mereka menyoroti pengulangan struktur kalimat tertentu serta metafora yang dianggap tidak lazim.

Namun hingga kini tidak terdapat bukti teknis yang dapat memastikan bahwa karya tersebut benar-benar dihasilkan oleh AI. Nazir membantah seluruh tuduhan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa naskahnya ditulis menggunakan fitur pengubah suara menjadi teks pada telepon pintar Android karena kondisi kesehatan yang membatasi aktivitas mengetik dalam waktu lama.

Menurut Nazir, metode dikte suara yang kemudian disunting secara terbatas menghasilkan karakter bahasa yang berbeda dari pola penulisan konvensional.

BACA JUGA:  Yovie Widianto di UNHAS: Manusia Tetap Pemakna di Tengah Gempuran AI  

Kontroversi semakin mengemuka setelah penerbit dan filantropis Sigrid Rausing menyatakan kemungkinan adanya plagiarisme berbasis AI tidak dapat sepenuhnya diabaikan.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Commonwealth Foundation, Razmi Farook, menegaskan bahwa seluruh penulis yang masuk daftar pendek telah menyatakan secara pribadi tidak menggunakan AI dalam proses kreatif mereka.

Yayasan tersebut juga menyebut telah melakukan konsultasi tambahan sebelum mengesahkan hasil kompetisi.

Ketika Mesin Menulis, Apa yang Masih Menjadi Milik Manusia?

Menurut Aslan, kasus seperti ini sebenarnya bukan fenomena yang hanya terjadi di dunia sastra internasional.

Ia mencontohkan pengalaman penyair Indonesia Tri Astoto yang pernah menghadapi tuduhan serupa meskipun karya yang ditulisnya tidak melibatkan AI.

Sebaliknya, terdapat pula editor yang secara terbuka menganggap AI sebagai bagian dari proses kreatif sastra kontemporer.

Ia menyebut nama Muhary Wahyu Nurba dari Magrib.id sebagai salah satu contoh editor yang melihat AI sebagai instrumen kreatif baru.

Fenomena tersebut, menurut Aslan, menunjukkan bahwa perdebatan sastra masa depan tidak lagi berkisar pada pertanyaan apakah AI boleh digunakan atau tidak, melainkan bagaimana manusia mendefinisikan ulang orisinalitas.

“Saya melihat masa depan sastra bukan ditentukan oleh seberapa canggih AI meniru manusia, tetapi oleh seberapa jauh manusia mampu menghadirkan pengalaman yang tidak dimiliki AI,” ujarnya.

Ia menilai ruang paling menjanjikan bagi sastra masa depan justru terletak pada kekayaan lokal yang belum terdigitalisasi.

“AI hanya dapat belajar dari data yang tersedia. Karena itu, kebaruan terbesar sastra masa depan mungkin lahir dari kampung-kampung yang belum pernah ditulis, bahasa-bahasa yang hampir punah, mitos-mitos lokal yang belum pernah masuk basis data global, dan pengalaman manusia yang belum pernah direkam mesin,” katanya.

BACA JUGA:  Indonesia Pengguna ChatGPT Terbesar Kelima Dunia, OpenAI Masuk Daftar Pemungut PPN

Menurut Aslan, ketika AI semakin mampu meniru gaya, struktur, dan bahkan emosi dalam teks, keunikan sastra manusia akan semakin ditentukan oleh kedalaman pengalaman hidup yang tidak dapat diunduh atau dipelajari secara instan oleh algoritma.

“Sastra tidak sedang mati karena AI. Sastra sedang dipaksa menemukan kembali alasan mengapa manusia harus menulis,” tegasnya.

Dalam dua tahun terakhir, berbagai penerbit, universitas, dan penyelenggara penghargaan sastra di dunia mulai menyusun regulasi baru terkait penggunaan AI dalam proses kreatif.

Sebagian kompetisi mewajibkan deklarasi penggunaan AI.

Sebagian lainnya memilih melarang penggunaan AI sama sekali.

Namun hingga kini belum terdapat standar internasional yang disepakati secara luas mengenai batas penggunaan teknologi tersebut dalam penciptaan karya sastra.

Para ahli linguistik komputasional juga mengingatkan bahwa perangkat pendeteksi AI masih memiliki tingkat kesalahan yang relatif tinggi.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa teks yang ditulis manusia dapat keliru ditandai sebagai hasil AI, sementara teks yang dihasilkan AI sering kali lolos dari sistem deteksi.

Kondisi tersebut menjadikan tuduhan penggunaan AI dalam karya sastra sebagai persoalan yang kompleks, multidimensi, dan sulit dibuktikan secara ilmiah.

Perdebatan yang muncul tidak lagi sekadar menyangkut teknologi, tetapi juga menyentuh persoalan hak cipta, keaslian, kreativitas, identitas kepengarangan, dan masa depan kebudayaan manusia di era kecerdasan buatan.

Kasus Granta pada akhirnya menjadi salah satu penanda penting bahwa dunia sastra global sedang memasuki babak baru, ketika pertanyaan terbesar bukan lagi apakah mesin dapat menulis seperti manusia, melainkan apakah manusia masih mampu menghadirkan sesuatu yang tidak dapat ditiru oleh mesin. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru