Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Apa Artinya bagi Kehidupan Kita?

SulawesiPos.com – Pernahkah kita membayangkan bahwa uang Rp18.000 yang di Indonesia bisa digunakan untuk membeli seporsi nasi Padang sederhana, secangkir kopi di kedai lokal, atau bahkan dua kali perjalanan angkutan umum dalam kota, ternyata hanya setara dengan satu dolar Amerika Serikat?

Pada penutupan perdagangan 5 Juni 2026, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.096 per dolar AS.

Angka itu menggambarkan seberapa jauh daya tukar mata uang Indonesia tertinggal dibandingkan mata uang negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Tangkapan layar Google Finance nilai tukar rupiah ke dolar
Tangkapan layar Google Finance nilai tukar dolar ke rupiah

Untuk mendapatkan satu dolar AS, masyarakat Indonesia harus mengeluarkan lebih dari Rp18.000.

Bayangkan dua orang masuk ke sebuah toko. Yang satu membawa uang satu dolar di Amerika Serikat, sementara yang lain membawa Rp18.000 di Indonesia.

Uang satu dolar di Amerika kemungkinan hanya cukup untuk membeli sebotol air mineral.

Namun Rp18.000 di Indonesia masih dapat membeli secangkir kopi, seporsi makan siang murah, atau kebutuhan kecil lainnya.

BACA JUGA:  Menata Ulang Segitiga Kekuasaan dalam RUU Partai Politik

Sekilas hal ini terlihat menguntungkan. Kita merasa Rp18.000 masih memiliki daya beli yang cukup di dalam negeri.

Tapi, persoalannya bukan pada apa yang bisa dibeli di Indonesia, sebaliknya, seberapa mahal biaya yang harus dibayar ketika Indonesia bertransaksi dengan dunia.

Foto_Nur Ainun Afiah
Penulis, Nur Ainun Afiah

Dampaknya juga terasa pada utang luar negeri. Bayangkan pemerintah atau perusahaan memiliki utang sebesar 1 juta dolar AS.

Jumlah utangnya memang tidak bertambah, tetap berada 1 juta dolar. Namun, karena nilai tukar rupiah melemah, rupiah yang harus disiapkan untuk membayar utang tersebut menjadi lebih banyak.

Dengan kata lain, tanpa menambah utang sepeser pun, beban pembayaran dalam rupiah bisa ikut membengkak hanya karena kurs rupiah terus turun.

Rupiah Bukan Angka di Papan Kurs

Pelemahan rupiah juga bisa dianalogikan sebagai ember yang sedang diisi air.

Air yang masuk adalah hasil ekspor, investasi, dan devisa negara. Sementara air yang keluar adalah pembayaran impor, utang luar negeri, dan arus modal yang meninggalkan Indonesia.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo soal Rupiah Rp17.600 per Dolar AS: Selama Purbaya Tersenyum, Tenang Saja

Ketika air yang keluar lebih banyak daripada yang masuk, permukaan air dalam ember akan turun.

Dalam konteks ekonomi, penurunan itu tercermin dalam melemahnya nilai rupiah.

Banyak orang menganggap kurs dolar hanya urusan bank sentral, ekonom, atau pelaku pasar keuangan. Padahal, kurs merupakan cermin kekuatan ekonomi suatu negara.

Masyarakat mungkin tidak melihat langsung lubang pada ember tersebut.

Namun, masyarakat akan merasakan akibatnya ketika pemangku kepentingan menaikkan harga barang untuk mempertahankan air di dalam ember agar tidak habis.

SulawesiPos.com – Pernahkah kita membayangkan bahwa uang Rp18.000 yang di Indonesia bisa digunakan untuk membeli seporsi nasi Padang sederhana, secangkir kopi di kedai lokal, atau bahkan dua kali perjalanan angkutan umum dalam kota, ternyata hanya setara dengan satu dolar Amerika Serikat?

Pada penutupan perdagangan 5 Juni 2026, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.096 per dolar AS.

Angka itu menggambarkan seberapa jauh daya tukar mata uang Indonesia tertinggal dibandingkan mata uang negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Tangkapan layar Google Finance nilai tukar rupiah ke dolar
Tangkapan layar Google Finance nilai tukar dolar ke rupiah

Untuk mendapatkan satu dolar AS, masyarakat Indonesia harus mengeluarkan lebih dari Rp18.000.

Bayangkan dua orang masuk ke sebuah toko. Yang satu membawa uang satu dolar di Amerika Serikat, sementara yang lain membawa Rp18.000 di Indonesia.

Uang satu dolar di Amerika kemungkinan hanya cukup untuk membeli sebotol air mineral.

Namun Rp18.000 di Indonesia masih dapat membeli secangkir kopi, seporsi makan siang murah, atau kebutuhan kecil lainnya.

BACA JUGA:  Dolar AS Menguat, Rupiah Anjlok Tembus Rp17.500

Sekilas hal ini terlihat menguntungkan. Kita merasa Rp18.000 masih memiliki daya beli yang cukup di dalam negeri.

Tapi, persoalannya bukan pada apa yang bisa dibeli di Indonesia, sebaliknya, seberapa mahal biaya yang harus dibayar ketika Indonesia bertransaksi dengan dunia.

Foto_Nur Ainun Afiah
Penulis, Nur Ainun Afiah

Dampaknya juga terasa pada utang luar negeri. Bayangkan pemerintah atau perusahaan memiliki utang sebesar 1 juta dolar AS.

Jumlah utangnya memang tidak bertambah, tetap berada 1 juta dolar. Namun, karena nilai tukar rupiah melemah, rupiah yang harus disiapkan untuk membayar utang tersebut menjadi lebih banyak.

Dengan kata lain, tanpa menambah utang sepeser pun, beban pembayaran dalam rupiah bisa ikut membengkak hanya karena kurs rupiah terus turun.

Rupiah Bukan Angka di Papan Kurs

Pelemahan rupiah juga bisa dianalogikan sebagai ember yang sedang diisi air.

Air yang masuk adalah hasil ekspor, investasi, dan devisa negara. Sementara air yang keluar adalah pembayaran impor, utang luar negeri, dan arus modal yang meninggalkan Indonesia.

BACA JUGA:  Menjaga Perut Rakyat, Merancang Republik: Membaca Kepemimpinan Andi Amran Sulaiman

Ketika air yang keluar lebih banyak daripada yang masuk, permukaan air dalam ember akan turun.

Dalam konteks ekonomi, penurunan itu tercermin dalam melemahnya nilai rupiah.

Banyak orang menganggap kurs dolar hanya urusan bank sentral, ekonom, atau pelaku pasar keuangan. Padahal, kurs merupakan cermin kekuatan ekonomi suatu negara.

Masyarakat mungkin tidak melihat langsung lubang pada ember tersebut.

Namun, masyarakat akan merasakan akibatnya ketika pemangku kepentingan menaikkan harga barang untuk mempertahankan air di dalam ember agar tidak habis.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru