Donald Trump Serang Kanselir Friedrich Merz, Hubungan AS–Jerman Memanas soal Perang Iran

SulawesiPos.com — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Jerman semakin terbuka setelah Presiden AS, Donald Trump, melontarkan serangan verbal kepada Kanselir Jerman, Friedrich Merz.

Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas kritik Merz terhadap keterlibatan AS dalam konflik dengan Iran.

“Kanselir Jerman seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk memperbaiki negaranya… bukan ikut campur dalam upaya menghilangkan ancaman nuklir Iran,” tulis Trump.

Trump juga membela kebijakan militernya dengan menyebut perang tersebut justru meningkatkan keamanan global.

“Perang ini membuat dunia, termasuk Jerman, menjadi tempat yang lebih aman,” tambahnya.

Sebelumnya, Merz mengkritik strategi AS yang dinilai masuk ke konflik tanpa perencanaan matang.

“Anda tidak hanya harus masuk, tetapi juga harus keluar,” kata Merz, merujuk pada pengalaman perang di Afghanistan dan Irak.

Ia bahkan menilai AS berada dalam posisi sulit dalam negosiasi dengan Iran, yang dianggap lebih lihai dalam strategi diplomasi.

Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dari Trump yang menyebut Merz “tidak tahu apa yang dibicarakannya.”

BACA JUGA: 
Hasil Voting 53-47, Senat AS Gagal Batasi Aksi Militer Trump terhadap Iran

Ancaman Pengurangan Pasukan AS di Jerman

Di tengah memanasnya hubungan, Trump juga mengungkapkan rencana untuk mempertimbangkan pengurangan jumlah pasukan AS di Jerman.

Langkah ini memicu kekhawatiran terhadap masa depan NATO, mengingat Jerman selama ini menjadi basis utama kekuatan militer AS di Eropa.

Pemerintah Jerman berupaya meredam situasi. Menteri Luar Negeri Johann Wadephul menyatakan Berlin tetap berkomitmen menjaga kerja sama dengan AS dalam kerangka NATO.

“Kami siap untuk itu… dan menunggu keputusan dari pihak Amerika,” ujarnya.

Konflik Iran Uji Soliditas Barat

Konflik Iran kini tidak hanya berdampak pada stabilitas Timur Tengah, tetapi juga menguji kekompakan aliansi Barat.

Langkah militer AS bersama Israel disebut dilakukan tanpa konsultasi penuh dengan sekutu NATO, memperlebar perbedaan di antara negara-negara Barat.

Di sisi lain, Trump tetap bersikeras bahwa perang diperlukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meskipun klaim tersebut dipertanyakan oleh sejumlah pihak, termasuk kalangan intelijen AS.

BACA JUGA: 
Eskalasi Konflik Iran–AS Menguat, Trump Prediksi Korban Bertambah, Ulama Syiah Serukan Jihad Global

Meski ketegangan meningkat, Merz menegaskan komitmen Jerman terhadap kemitraan transatlantik.

“Kompas kami tetap mengarah pada NATO yang kuat dan kemitraan transatlantik yang dapat diandalkan,” ujarnya.

Namun, perbedaan pandangan yang semakin tajam menunjukkan hubungan AS dan Eropa tengah berada dalam tekanan serius.

SulawesiPos.com — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Jerman semakin terbuka setelah Presiden AS, Donald Trump, melontarkan serangan verbal kepada Kanselir Jerman, Friedrich Merz.

Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas kritik Merz terhadap keterlibatan AS dalam konflik dengan Iran.

“Kanselir Jerman seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk memperbaiki negaranya… bukan ikut campur dalam upaya menghilangkan ancaman nuklir Iran,” tulis Trump.

Trump juga membela kebijakan militernya dengan menyebut perang tersebut justru meningkatkan keamanan global.

“Perang ini membuat dunia, termasuk Jerman, menjadi tempat yang lebih aman,” tambahnya.

Sebelumnya, Merz mengkritik strategi AS yang dinilai masuk ke konflik tanpa perencanaan matang.

“Anda tidak hanya harus masuk, tetapi juga harus keluar,” kata Merz, merujuk pada pengalaman perang di Afghanistan dan Irak.

Ia bahkan menilai AS berada dalam posisi sulit dalam negosiasi dengan Iran, yang dianggap lebih lihai dalam strategi diplomasi.

Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dari Trump yang menyebut Merz “tidak tahu apa yang dibicarakannya.”

BACA JUGA: 
Peneliti Nilai Serangan AS ke Iran Bukan Sekadar Kebebasan, Diduga Targetkan Perubahan Rezim

Ancaman Pengurangan Pasukan AS di Jerman

Di tengah memanasnya hubungan, Trump juga mengungkapkan rencana untuk mempertimbangkan pengurangan jumlah pasukan AS di Jerman.

Langkah ini memicu kekhawatiran terhadap masa depan NATO, mengingat Jerman selama ini menjadi basis utama kekuatan militer AS di Eropa.

Pemerintah Jerman berupaya meredam situasi. Menteri Luar Negeri Johann Wadephul menyatakan Berlin tetap berkomitmen menjaga kerja sama dengan AS dalam kerangka NATO.

“Kami siap untuk itu… dan menunggu keputusan dari pihak Amerika,” ujarnya.

Konflik Iran Uji Soliditas Barat

Konflik Iran kini tidak hanya berdampak pada stabilitas Timur Tengah, tetapi juga menguji kekompakan aliansi Barat.

Langkah militer AS bersama Israel disebut dilakukan tanpa konsultasi penuh dengan sekutu NATO, memperlebar perbedaan di antara negara-negara Barat.

Di sisi lain, Trump tetap bersikeras bahwa perang diperlukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meskipun klaim tersebut dipertanyakan oleh sejumlah pihak, termasuk kalangan intelijen AS.

BACA JUGA: 
Penembakan di Gedung Putih, Trump dan Melania Dievakuasi Mendadak-Pelaku Diamankan

Meski ketegangan meningkat, Merz menegaskan komitmen Jerman terhadap kemitraan transatlantik.

“Kompas kami tetap mengarah pada NATO yang kuat dan kemitraan transatlantik yang dapat diandalkan,” ujarnya.

Namun, perbedaan pandangan yang semakin tajam menunjukkan hubungan AS dan Eropa tengah berada dalam tekanan serius.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru