Tak Ingin Kejadian Berulang, Komisi V DPR Soroti Darurat Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta Bekasi

SulawesiPos.com – Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menyampaikan duka cita atas kecelakaan kereta yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.

“Selaku Pimpinan Komisi V DPR menyampaikan turut berduka cita yang mendalam atas insiden kecelakaan tersebut. Semoga keluarga korban diberi kekuatan dan ketabahan. Dan kepada petugas di lapangan untuk memastikan dan memprioritaskan penanganan korban agar mendapatkan penanganan dengan baik dan maksimal,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan petugas di lapangan agar memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan optimal selama proses evakuasi dan perawatan.

Lasarus menegaskan bahwa kecelakaan ini kembali menunjukkan urgensi penyelesaian masalah perlintasan sebidang di Indonesia yang selama ini dinilai belum tertangani secara serius.

Menurutnya, Komisi V DPR RI telah berulang kali mengingatkan pemerintah, termasuk PT Kereta Api Indonesia dan Kementerian Perhubungan, untuk menuntaskan persoalan tersebut.

“Kita minta kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan darurat perlintasan sebidang di Indonesia. Komisi V DPR sudah bertahun-tahun meminta kepada KAI untuk menyelesaikan jalur perlintasan sebidang, tapi hingga saat ini darurat perlintasan sebidang tersebut tidak tertangani dengan baik,” tegasnya.

BACA JUGA: 
Lasarus Bantah DPR Usul Tutup Alfamart-Indomaret: Itu Hoaks!

Risiko Kecelakaan Berulang

Ia memperingatkan, selama perlintasan sebidang masih bermasalah, potensi kecelakaan akan terus berulang.

Menurutnya, jalur kereta api seharusnya steril dari hambatan.

“Makanya di seluruh dunia ini jalur kereta api itu clear and clean, kecuali di Indonesia. Oleh sebab itu jika darurat perlintasan sebidang tidak tertangani dengan baik, maka ada ribuan kemungkinan kecelakaan akan kembali terjadi,” ujarnya.

Berdasarkan data PT KAI, jumlah perlintasan sebidang pada 2024 mencapai 3.896 titik, terdiri dari 2.803 perlintasan terdaftar dan 1.093 tidak terdaftar.

Dari jumlah tersebut, masih terdapat ratusan titik yang belum dijaga.

Pada 2025, jumlahnya memang menurun menjadi 3.703 titik.

Namun, masih ada 912 perlintasan yang belum dijaga, menunjukkan persoalan ini belum sepenuhnya terselesaikan.

Kronologi dan Korban Kecelakaan

Kecelakaan terjadi di Stasiun Bekasi Timur dan melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menyampaikan bahwa hingga Selasa (28/4/2026), terdapat 15 korban meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

BACA JUGA: 
Tragedi Rel Bekasi! Ini Pernyataan Resmi KAI & Data Korban Terbaru

Insiden diduga bermula dari sebuah kendaraan yang tertabrak KRL di perlintasan.

Setelah proses evakuasi, kecelakaan lanjutan terjadi ketika KA Argo Bromo Anggrek menabrak rangkaian KRL yang sedang berhenti di stasiun.

SulawesiPos.com – Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menyampaikan duka cita atas kecelakaan kereta yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.

“Selaku Pimpinan Komisi V DPR menyampaikan turut berduka cita yang mendalam atas insiden kecelakaan tersebut. Semoga keluarga korban diberi kekuatan dan ketabahan. Dan kepada petugas di lapangan untuk memastikan dan memprioritaskan penanganan korban agar mendapatkan penanganan dengan baik dan maksimal,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan petugas di lapangan agar memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan optimal selama proses evakuasi dan perawatan.

Lasarus menegaskan bahwa kecelakaan ini kembali menunjukkan urgensi penyelesaian masalah perlintasan sebidang di Indonesia yang selama ini dinilai belum tertangani secara serius.

Menurutnya, Komisi V DPR RI telah berulang kali mengingatkan pemerintah, termasuk PT Kereta Api Indonesia dan Kementerian Perhubungan, untuk menuntaskan persoalan tersebut.

“Kita minta kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan darurat perlintasan sebidang di Indonesia. Komisi V DPR sudah bertahun-tahun meminta kepada KAI untuk menyelesaikan jalur perlintasan sebidang, tapi hingga saat ini darurat perlintasan sebidang tersebut tidak tertangani dengan baik,” tegasnya.

BACA JUGA: 
Korban Tewas Capai 15 Orang, KNKT Turunkan Tiga Investigator untuk Selidiki Kecelakaan Kereta Bekasi

Risiko Kecelakaan Berulang

Ia memperingatkan, selama perlintasan sebidang masih bermasalah, potensi kecelakaan akan terus berulang.

Menurutnya, jalur kereta api seharusnya steril dari hambatan.

“Makanya di seluruh dunia ini jalur kereta api itu clear and clean, kecuali di Indonesia. Oleh sebab itu jika darurat perlintasan sebidang tidak tertangani dengan baik, maka ada ribuan kemungkinan kecelakaan akan kembali terjadi,” ujarnya.

Berdasarkan data PT KAI, jumlah perlintasan sebidang pada 2024 mencapai 3.896 titik, terdiri dari 2.803 perlintasan terdaftar dan 1.093 tidak terdaftar.

Dari jumlah tersebut, masih terdapat ratusan titik yang belum dijaga.

Pada 2025, jumlahnya memang menurun menjadi 3.703 titik.

Namun, masih ada 912 perlintasan yang belum dijaga, menunjukkan persoalan ini belum sepenuhnya terselesaikan.

Kronologi dan Korban Kecelakaan

Kecelakaan terjadi di Stasiun Bekasi Timur dan melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menyampaikan bahwa hingga Selasa (28/4/2026), terdapat 15 korban meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

BACA JUGA: 
Kronologi Kecelakaan Kereta di Bekasi: Taksi Mogok Picu Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo

Insiden diduga bermula dari sebuah kendaraan yang tertabrak KRL di perlintasan.

Setelah proses evakuasi, kecelakaan lanjutan terjadi ketika KA Argo Bromo Anggrek menabrak rangkaian KRL yang sedang berhenti di stasiun.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru