Lonjakan Harga Tiket Piala Dunia di AS Dipicu Sistem ‘Dynamic Pricing’, Fans Eropa Melapor ke Uni Eropa

SulawesiPos.com – Gelombang protes melanda penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS) menyusul melonjaknya harga tiket akibat penerapan sistem penetapan harga dinamis (dynamic pricing).

Kelompok suporter Eropa resmi menyeret FIFA ke ranah hukum melalui pengaduan yang diajukan oleh Football Supporters Europe dan Euroconsumers kepada Komisi Eropa, seperti dikutip dari Newsweek, Jumat (12/6/2026).

Mereka menuduh FIFA melakukan praktik komersialisme yang berlebihan, aturan penjualan kembali yang memberatkan, serta pelanggaran hukum konsumen terkait iklan umpan harga tiket murah.

​Piala Dunia kali ini mencatat sejarah sebagai turnamen pertama yang mengadopsi teknologi dynamic pricing, di mana harga bergerak naik mengikuti tingginya tingkat permintaan.

Pada awal pembukaan penjualan di bulan September, FIFA mengiklankan tiket babak penyisihan grup mulai dari 60 dolar AS dan kursi final eksklusif seharga 6.730 dolar AS.

Namun, ketika fase penjualan umum dibuka pada bulan Desember, harga kursi termurah untuk laga final melonjak menjadi 4.185 dolar AS, dan terus merangkak naik hingga menyentuh angka 10.990 dolar AS untuk kategori teratas pada jendela penjualan musim spring.

BACA JUGA:  Piala Dunia 2026 Segera Bergulir, Berikut Jadwal Lengkap Fase Grup yang Wajib Dicatat

​Lonjakan ini membuat tiket final termurah di AS menjadi tujuh kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan harga tiket final termurah pada Piala Dunia Qatar 2022 lalu.

Tingginya biaya akomodasi, transportasi, dan tiket di AS memicu kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk mantan bintang Arsenal dan timnas Inggris, Ian Wright era 1990-an.

Melalui media sosialnya, Wright mengkritik keras tuan rumah yang dianggap mencederai semangat inklusivitas sepak bola dan menyebut turnamen ini sebagai piala dunia kekacauan.

“Tiket termahal yang pernah ada. Akomodasi mahal, transportasi sangat mahal. Ini harus diungkapkan. Apakah seperti inilah perilaku tuan rumah, sungguh, untuk pertandingan terhebat, turnamen terhebat di dunia? Apakah seperti inilah perilaku tuan rumah?” ujar Wright.

Dampak dari mahalnya biaya ini juga mulai terlihat di lapangan dengan adanya sejumlah kursi kosong pada pertandingan pembukaan.

​Menanggapi kecaman tersebut, FIFA sempat mundur perlahan dengan memperkenalkan paket tiket suporter seharga 60 dolar AS untuk seluruh pertandingan melalui asosiasi nasional.
Namun, kelompok suporter mengungkapkan bahwa kuota kategori murah ini hanya mencakup sepuluh persen dari total alokasi dan sudah habis sebelum penjualan umum dibuka.

BACA JUGA:  Zidane Segera Latih Prancis Usai Piala Dunia 2026? Era Baru Les Bleus di Depan Mata!

FIFA juga mendapat sorotan tajam karena menarik biaya komisi sebesar 15 persen kepada penjual dan 15 persen kepada pembeli di platform penjualan kembali resmi mereka.

​Di sisi lain, guncangan harga ini juga merefleksikan kesenjangan daya beli yang nyata antara warga Eropa dan Amerika Serikat. Berdasarkan data OECD, rata-rata upah tahunan warga AS mencapai 82.933 dolar AS, yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan upah di Jerman, Inggris, Prancis, maupun Italia.

Tingginya produktivitas ekonomi AS membuat pasar domestik mereka mampu menyerap harga hiburan yang tinggi, yang pada akhirnya menciptakan beban biaya yang sangat berat bagi para penggemar sepak bola asal Eropa yang datang ke sana.

 

SulawesiPos.com – Gelombang protes melanda penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS) menyusul melonjaknya harga tiket akibat penerapan sistem penetapan harga dinamis (dynamic pricing).

Kelompok suporter Eropa resmi menyeret FIFA ke ranah hukum melalui pengaduan yang diajukan oleh Football Supporters Europe dan Euroconsumers kepada Komisi Eropa, seperti dikutip dari Newsweek, Jumat (12/6/2026).

Mereka menuduh FIFA melakukan praktik komersialisme yang berlebihan, aturan penjualan kembali yang memberatkan, serta pelanggaran hukum konsumen terkait iklan umpan harga tiket murah.

​Piala Dunia kali ini mencatat sejarah sebagai turnamen pertama yang mengadopsi teknologi dynamic pricing, di mana harga bergerak naik mengikuti tingginya tingkat permintaan.

Pada awal pembukaan penjualan di bulan September, FIFA mengiklankan tiket babak penyisihan grup mulai dari 60 dolar AS dan kursi final eksklusif seharga 6.730 dolar AS.

Namun, ketika fase penjualan umum dibuka pada bulan Desember, harga kursi termurah untuk laga final melonjak menjadi 4.185 dolar AS, dan terus merangkak naik hingga menyentuh angka 10.990 dolar AS untuk kategori teratas pada jendela penjualan musim spring.

BACA JUGA:  Piala Dunia 2026 Segera Bergulir, Berikut Jadwal Lengkap Fase Grup yang Wajib Dicatat

​Lonjakan ini membuat tiket final termurah di AS menjadi tujuh kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan harga tiket final termurah pada Piala Dunia Qatar 2022 lalu.

Tingginya biaya akomodasi, transportasi, dan tiket di AS memicu kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk mantan bintang Arsenal dan timnas Inggris, Ian Wright era 1990-an.

Melalui media sosialnya, Wright mengkritik keras tuan rumah yang dianggap mencederai semangat inklusivitas sepak bola dan menyebut turnamen ini sebagai piala dunia kekacauan.

“Tiket termahal yang pernah ada. Akomodasi mahal, transportasi sangat mahal. Ini harus diungkapkan. Apakah seperti inilah perilaku tuan rumah, sungguh, untuk pertandingan terhebat, turnamen terhebat di dunia? Apakah seperti inilah perilaku tuan rumah?” ujar Wright.

Dampak dari mahalnya biaya ini juga mulai terlihat di lapangan dengan adanya sejumlah kursi kosong pada pertandingan pembukaan.

​Menanggapi kecaman tersebut, FIFA sempat mundur perlahan dengan memperkenalkan paket tiket suporter seharga 60 dolar AS untuk seluruh pertandingan melalui asosiasi nasional.
Namun, kelompok suporter mengungkapkan bahwa kuota kategori murah ini hanya mencakup sepuluh persen dari total alokasi dan sudah habis sebelum penjualan umum dibuka.

BACA JUGA:  Skuad Piala Dunia 2026 Belgia: Perjudian Besar Rudi Garcia dan Babak Terakhir Generasi Emas

FIFA juga mendapat sorotan tajam karena menarik biaya komisi sebesar 15 persen kepada penjual dan 15 persen kepada pembeli di platform penjualan kembali resmi mereka.

​Di sisi lain, guncangan harga ini juga merefleksikan kesenjangan daya beli yang nyata antara warga Eropa dan Amerika Serikat. Berdasarkan data OECD, rata-rata upah tahunan warga AS mencapai 82.933 dolar AS, yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan upah di Jerman, Inggris, Prancis, maupun Italia.

Tingginya produktivitas ekonomi AS membuat pasar domestik mereka mampu menyerap harga hiburan yang tinggi, yang pada akhirnya menciptakan beban biaya yang sangat berat bagi para penggemar sepak bola asal Eropa yang datang ke sana.

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru