Pertemuan Saudagar Bugis Makassar: Panggung Megah, Rakyat Menunggu

Oleh: Mustamin Raga
Penulis Buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral”

SulawesiPos.com – Ada sesuatu yang selalu terasa megah ketika nama Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) disebut. Ia datang dengan aura kejayaan masa lalu. Layar-layar phinisi yang terkembang, pelaut-pelaut tangguh yang menembus batas samudra, dan saudagar-saudagar yang tak sekedar berdagang, tetapi mereka adalah para pemberani yang telah berhasil menaklukkan ketidakpastian.

Di dalam imajinasi kolektif kita, Bugis-Makassar bukan hanya identitas etnis. Ia adalah energi. Ia adalah keberanian. Ia adalah tekad yang tidak tunduk pada keadaan.

Maka ketika PSBM digelar, harapan pun ikut diundang. Harapan bahwa semangat lama itu akan menjelma kembali dalam bentuk investasi, dalam bentuk kolaborasi, dalam bentuk perubahan nyata bagi tanah yang melahirkan para saudagar itu.

Mustamin Raga
Mustamin Raga

Namun, serupa dengan banyak hal lainnya dalam kehidupan modern saat ini, tidak semua yang tampak hidup benar-benar bergerak. PSBM adalah panggung yang indah.

Hotel-hotel berbintang menjadi saksi. Lampu-lampu terang memantulkan optimisme. Para saudagar datang dengan pakaian terbaik, dengan cerita sukses masing-masing.

Angka-angka besar disebutkan dengan fasih dan ringan. Miliaran, bahkan triliunan. Kata-kata seperti “investasi”, “kolaborasi”, dan “pembangunan berkelanjutan” mengalir mulus tanpa hambatan.
Semua terdengar meyakinkan. Semua terasa menjanjikan.

Tetapi selalu ada satu pertanyaan yang diam-diam berdiri di sudut ruangan yang tidak ikut bertepuk tangan, tidak ikut tersenyum.

Apakah semua ini benar-benar sampai ke hadapan rakyat?

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar dijawab. Ia hanya ditunda—dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.

Jika kita jujur, PSBM memang telah melahirkan sesuatu. Tidak adil jika kita mengatakan bahwa ia sepenuhnya kosong.

Ada investasi yang masuk.

Ada proyek yang berjalan.

Ada jaringan yang semakin kuat.

Beberapa pengusaha perantau mulai menoleh ke kampung halaman. Mereka membangun hotel, membuka usaha, mengembangkan sektor perdagangan, bahkan merambah berbagai industri. Dari sana, ada lapangan kerja yang tercipta. Ada ekonomi yang bergerak meski perlahan.

Tetapi di sinilah persoalannya mulai terlihat. Gerakan itu terasa seperti riak, bukan gelombang. Ia ada, tetapi tidak cukup besar untuk mengubah wajah realitas.

Sementara itu, di luar ruang pertemuan yang dingin oleh pendingin udara yang nyaman dan sejuk, kehidupan berjalan dengan cara yang jauh lebih keras.

BACA JUGA: 
PSBM XXVI Resmi Digelar di Makassar, Ajang Strategis Pengusaha dan Kepala Daerah

Petani masih bernegosiasi dengan harga yang tidak mereka tentukan.

Nelayan masih bertaruh dengan cuaca yang tidak bisa mereka kendalikan.

Pelaku UMKM masih berjuang dengan modal yang tidak pernah cukup dan pasar yang tidak pernah pasti.

Mereka tidak membutuhkan pidato.

Mereka membutuhkan akses.

Ada jarak yang tidak kasat mata, tetapi sangat terasa.

Jarak antara mereka yang berbicara tentang miliaran rupiah, dan mereka yang menghitung hari dari hasil harian. Jarak antara strategi besar, dan kebutuhan sederhana.

Jarak antara visi, dan kenyataan.

PSBM, dalam bentuknya yang sekarang, sering kali berada di sisi yang jauh dari jarak itu. Ia berbicara dari atas. Sementara rakyat hidup dari bawah.
Dan jembatan di antara keduanya belum benar-benar dibangun apalagi terhubung.

Dalam dunia komunikasi modern, ada istilah yang menarik: pseudo-event—sebuah peristiwa yang dirancang untuk terlihat penting, bukan karena dampaknya, tetapi karena tampilannya. Ia diproduksi, diatur, dikemas, lalu disebarkan. Ia menciptakan kesan bahwa sesuatu sedang terjadi—meskipun yang terjadi belum tentu signifikan.

Tanpa disadari, PSBM berisiko masuk ke dalam kategori ini. Bukan karena niatnya salah, tetapi karena orientasinya bisa bergeser. Dari substansi ke seremoni. Dari hasil ke citra. Dari kerja nyata ke narasi keberhasilan.

Dan ketika itu terjadi, kita mulai terjebak dalam ilusi kolektif. Seolah-olah kita sedang bergerak maju,
padahal kita hanya bergerak berputar-putar di tempat yang sana meski dengan gaya yang lebih elegan.

Yang lebih berbahaya lagi adalah ketika keberhasilan mulai diukur dari hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Berapa banyak peserta yang hadir.

Seberapa besar venue yang digunakan.
Seberapa tinggi profil tokoh yang datang.
Semua itu penting tetapi bukan yang paling penting.
Karena ukuran sejati dari sebuah pertemuan bukanlah apa yang terjadi di dalam ruangan,
melainkan apa yang berubah di luar ruangan setelah pertemuan itu.

Dan di titik ini, PSBM masih memiliki pekerjaan besar yang belum selesai.

Mari kita bertanya dengan jujur dan mungkin sedikit tidak nyaman. Berapa desa di Sulawesi Selatan yang berubah karena PSBM? Berapa petani yang naik kelas karena jaringan yang dibangun di sana?
Berapa UMKM yang berhasil menembus pasar yang lebih luas karena hasil konkret dari pertemuan itu?

BACA JUGA: 
PSBM XXVI 2026 Siap Digelar di Makassar, Kesiapan Capai 97 Persen dan Hadirkan Tokoh Nasional

Jika pertanyaan-pertanyaan ini masih sulit dijawab dengan data yang jelas, maka kita sedang berhadapan dengan masalah yang serius.

Kita sibuk berbicara tentang dampak, tanpa benar-benar mengukurnya.

Tanpa ukuran, semua terlihat berhasil. Tanpa evaluasi, semua terasa cukup. Dan tanpa keberanian untuk mengoreksi diri, semua akan terus berulang dengan pola yang sama.

Namun kritik ini bukan untuk merendahkan.
Ia justru lahir dari keyakinan bahwa PSBM memiliki potensi yang sangat besar.

Bayangkan.

Orang-orang yang hadir di PSBM bukan orang biasa. Mereka adalah orang-orang yang telah berhasil menaklukkan pasar, membaca peluang, dan mengelola risiko. Mereka memiliki modal, jaringan, pengalaman, dan akses.

Jika kekuatan sebesar ini diarahkan dengan fokus yang jelas, dampaknya bisa luar biasa. Tetapi kekuatan, tanpa arah, hanya akan menjadi energi yang berputar di tempat yang sama. Masalahnya bukan pada kurangnya kemampuan. Masalahnya ada pada pilihan kita.

Apakah PSBM ingin menjadi ruang eksklusif para saudagar, atau menjadi mesin perubahan bagi masyarakat luas?

Kedua pilihan ini tidak selalu berjalan beriringan.
Yang satu cenderung nyaman. Yang lain menuntut pengorbanan.

Yang satu menjaga lingkaran. Yang lain memperluasnya.

Dan sejarah selalu berpihak pada mereka yang memilih untuk keluar dari kenyamanan.

Sudah saatnya PSBM bergeser. Bukan sekedar dalam format, tetapi dalam cara berpikir.
Dari pertemuan menjadi gerakan. Dari seremoni menjadi eksekusi.

Dari kebanggaan menjadi tanggung jawab.

Bayangkan jika setiap PSBM melahirkan komitmen yang konkret:

Satu kabupaten yang diadopsi secara serius.

Seribu UMKM yang didampingi secara berkelanjutan.

Satu sektor strategis yang dibangun dari hulu ke hilir.

Bukan hanya diumumkan tetapi dijalankan. Bukan hanya direncanakan tetapi diukur. Dan yang paling penting dilaporkan secara terbuka dan berkala.

Bukan untuk pamer, tetapi untuk memastikan bahwa janji tidak berhenti sebagai kata-kata saja.
Karena rakyat tidak menilai dari apa yang kita katakan. Mereka menilai dari apa yang mereka rasakan.

Apakah hidup mereka lebih mudah?

Apakah usaha mereka lebih berkembang?

Apakah masa depan mereka lebih jelas?

BACA JUGA: 
AYP: PSBM XXVI Wadah Kolaborasi Pengusaha Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Jika jawabannya belum, maka seberapa pun megahnya sebuah pertemuan, ia akan tetap terasa jauh. Ada sebuah filosofi Bugis-Makassar yang sederhana, tetapi dalam:

“Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata.”

Usaha yang sungguh-sungguh akan mengundang rahmat Tuhan. Tetapi usaha yang sungguh-sungguh bukanlah usaha yang hanya terlihat sibuk.
Ia adalah usaha yang menghasilkan. Ia adalah usaha yang membawa perubahan. Ia adalah usaha yang tidak berhenti pada niat baik, tetapi berlanjut pada kerja nyata.

PSBM memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi besar bahkan lebih besar dari yang sekarang. Tetapi untuk sampai ke sana, ia harus berani melakukan sesuatu yang tidak mudah yakni
jujur pada dirinya sendiri.

Mengakui bahwa tidak semua berjalan sesuai harapan.

Mengakui bahwa dampaknya belum merata.

Mengakui bahwa ada jarak yang harus dijembatani.

Kejujuran ini bukan kelemahan. Ia adalah titik awal dari perubahan. Karena tanpa kejujuran, kita hanya akan terus mengulang pertemuan dengan format yang lebih rapi, dengan panggung yang lebih megah, dengan narasi yang lebih meyakinkan. Tetapi tetap dengan hasil yang sama.

Dan waktu tidak akan menunggu. Rakyat Sulawesi Selatan hari ini tidak sedang menunggu undangan PSBM berikutnya. Mereka tidak menunggu siapa yang akan berbicara di panggung. Mereka tidak peduli seberapa besar angka yang disebutkan dalam sambutan.

Mereka menunggu sesuatu yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih sulit: bukti. Bukti bahwa mereka tidak dilupakan.

Bukti bahwa mereka dilibatkan. Bukti bahwa mereka merasakan.

Sejarah Bugis-Makassar tidak dibangun oleh mereka yang hanya berkumpul. Ia dibangun oleh mereka yang berlayar yang meninggalkan daratan, menghadapi badai, dan pulang dengan hasil.SBM

PSBM hari ini adalah pelabuhan. Tempat berkumpul. Tempat bertemu. Tempat merancang perjalanan.

Tetapi pelabuhan bukan tujuan. Ia hanya berarti jika kapal-kapal benar-benar berangkat.

Dan mungkin, di tengah semua kemegahan itu, kita hanya perlu mengingat satu hal sederhana: jangan terlalu lama tinggal di pelabuhan. Karena laut dengan segala risikonya adalah satu-satunya tempat di mana perubahan benar-benar akan terjadi.

Selamat berPertemuan untuk para peserta PSBM hari ini di Kota Makassar.*

Gerhana Alauddin, 26 Maret 2026

Oleh: Mustamin Raga
Penulis Buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral”

SulawesiPos.com – Ada sesuatu yang selalu terasa megah ketika nama Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) disebut. Ia datang dengan aura kejayaan masa lalu. Layar-layar phinisi yang terkembang, pelaut-pelaut tangguh yang menembus batas samudra, dan saudagar-saudagar yang tak sekedar berdagang, tetapi mereka adalah para pemberani yang telah berhasil menaklukkan ketidakpastian.

Di dalam imajinasi kolektif kita, Bugis-Makassar bukan hanya identitas etnis. Ia adalah energi. Ia adalah keberanian. Ia adalah tekad yang tidak tunduk pada keadaan.

Maka ketika PSBM digelar, harapan pun ikut diundang. Harapan bahwa semangat lama itu akan menjelma kembali dalam bentuk investasi, dalam bentuk kolaborasi, dalam bentuk perubahan nyata bagi tanah yang melahirkan para saudagar itu.

Mustamin Raga
Mustamin Raga

Namun, serupa dengan banyak hal lainnya dalam kehidupan modern saat ini, tidak semua yang tampak hidup benar-benar bergerak. PSBM adalah panggung yang indah.

Hotel-hotel berbintang menjadi saksi. Lampu-lampu terang memantulkan optimisme. Para saudagar datang dengan pakaian terbaik, dengan cerita sukses masing-masing.

Angka-angka besar disebutkan dengan fasih dan ringan. Miliaran, bahkan triliunan. Kata-kata seperti “investasi”, “kolaborasi”, dan “pembangunan berkelanjutan” mengalir mulus tanpa hambatan.
Semua terdengar meyakinkan. Semua terasa menjanjikan.

Tetapi selalu ada satu pertanyaan yang diam-diam berdiri di sudut ruangan yang tidak ikut bertepuk tangan, tidak ikut tersenyum.

Apakah semua ini benar-benar sampai ke hadapan rakyat?

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar dijawab. Ia hanya ditunda—dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.

Jika kita jujur, PSBM memang telah melahirkan sesuatu. Tidak adil jika kita mengatakan bahwa ia sepenuhnya kosong.

Ada investasi yang masuk.

Ada proyek yang berjalan.

Ada jaringan yang semakin kuat.

Beberapa pengusaha perantau mulai menoleh ke kampung halaman. Mereka membangun hotel, membuka usaha, mengembangkan sektor perdagangan, bahkan merambah berbagai industri. Dari sana, ada lapangan kerja yang tercipta. Ada ekonomi yang bergerak meski perlahan.

Tetapi di sinilah persoalannya mulai terlihat. Gerakan itu terasa seperti riak, bukan gelombang. Ia ada, tetapi tidak cukup besar untuk mengubah wajah realitas.

Sementara itu, di luar ruang pertemuan yang dingin oleh pendingin udara yang nyaman dan sejuk, kehidupan berjalan dengan cara yang jauh lebih keras.

BACA JUGA: 
AYP: PSBM XXVI Wadah Kolaborasi Pengusaha Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Petani masih bernegosiasi dengan harga yang tidak mereka tentukan.

Nelayan masih bertaruh dengan cuaca yang tidak bisa mereka kendalikan.

Pelaku UMKM masih berjuang dengan modal yang tidak pernah cukup dan pasar yang tidak pernah pasti.

Mereka tidak membutuhkan pidato.

Mereka membutuhkan akses.

Ada jarak yang tidak kasat mata, tetapi sangat terasa.

Jarak antara mereka yang berbicara tentang miliaran rupiah, dan mereka yang menghitung hari dari hasil harian. Jarak antara strategi besar, dan kebutuhan sederhana.

Jarak antara visi, dan kenyataan.

PSBM, dalam bentuknya yang sekarang, sering kali berada di sisi yang jauh dari jarak itu. Ia berbicara dari atas. Sementara rakyat hidup dari bawah.
Dan jembatan di antara keduanya belum benar-benar dibangun apalagi terhubung.

Dalam dunia komunikasi modern, ada istilah yang menarik: pseudo-event—sebuah peristiwa yang dirancang untuk terlihat penting, bukan karena dampaknya, tetapi karena tampilannya. Ia diproduksi, diatur, dikemas, lalu disebarkan. Ia menciptakan kesan bahwa sesuatu sedang terjadi—meskipun yang terjadi belum tentu signifikan.

Tanpa disadari, PSBM berisiko masuk ke dalam kategori ini. Bukan karena niatnya salah, tetapi karena orientasinya bisa bergeser. Dari substansi ke seremoni. Dari hasil ke citra. Dari kerja nyata ke narasi keberhasilan.

Dan ketika itu terjadi, kita mulai terjebak dalam ilusi kolektif. Seolah-olah kita sedang bergerak maju,
padahal kita hanya bergerak berputar-putar di tempat yang sana meski dengan gaya yang lebih elegan.

Yang lebih berbahaya lagi adalah ketika keberhasilan mulai diukur dari hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Berapa banyak peserta yang hadir.

Seberapa besar venue yang digunakan.
Seberapa tinggi profil tokoh yang datang.
Semua itu penting tetapi bukan yang paling penting.
Karena ukuran sejati dari sebuah pertemuan bukanlah apa yang terjadi di dalam ruangan,
melainkan apa yang berubah di luar ruangan setelah pertemuan itu.

Dan di titik ini, PSBM masih memiliki pekerjaan besar yang belum selesai.

Mari kita bertanya dengan jujur dan mungkin sedikit tidak nyaman. Berapa desa di Sulawesi Selatan yang berubah karena PSBM? Berapa petani yang naik kelas karena jaringan yang dibangun di sana?
Berapa UMKM yang berhasil menembus pasar yang lebih luas karena hasil konkret dari pertemuan itu?

BACA JUGA: 
PSBM XXVI Harus Bisa Memperluas Lapangan Kerja di Sulsel

Jika pertanyaan-pertanyaan ini masih sulit dijawab dengan data yang jelas, maka kita sedang berhadapan dengan masalah yang serius.

Kita sibuk berbicara tentang dampak, tanpa benar-benar mengukurnya.

Tanpa ukuran, semua terlihat berhasil. Tanpa evaluasi, semua terasa cukup. Dan tanpa keberanian untuk mengoreksi diri, semua akan terus berulang dengan pola yang sama.

Namun kritik ini bukan untuk merendahkan.
Ia justru lahir dari keyakinan bahwa PSBM memiliki potensi yang sangat besar.

Bayangkan.

Orang-orang yang hadir di PSBM bukan orang biasa. Mereka adalah orang-orang yang telah berhasil menaklukkan pasar, membaca peluang, dan mengelola risiko. Mereka memiliki modal, jaringan, pengalaman, dan akses.

Jika kekuatan sebesar ini diarahkan dengan fokus yang jelas, dampaknya bisa luar biasa. Tetapi kekuatan, tanpa arah, hanya akan menjadi energi yang berputar di tempat yang sama. Masalahnya bukan pada kurangnya kemampuan. Masalahnya ada pada pilihan kita.

Apakah PSBM ingin menjadi ruang eksklusif para saudagar, atau menjadi mesin perubahan bagi masyarakat luas?

Kedua pilihan ini tidak selalu berjalan beriringan.
Yang satu cenderung nyaman. Yang lain menuntut pengorbanan.

Yang satu menjaga lingkaran. Yang lain memperluasnya.

Dan sejarah selalu berpihak pada mereka yang memilih untuk keluar dari kenyamanan.

Sudah saatnya PSBM bergeser. Bukan sekedar dalam format, tetapi dalam cara berpikir.
Dari pertemuan menjadi gerakan. Dari seremoni menjadi eksekusi.

Dari kebanggaan menjadi tanggung jawab.

Bayangkan jika setiap PSBM melahirkan komitmen yang konkret:

Satu kabupaten yang diadopsi secara serius.

Seribu UMKM yang didampingi secara berkelanjutan.

Satu sektor strategis yang dibangun dari hulu ke hilir.

Bukan hanya diumumkan tetapi dijalankan. Bukan hanya direncanakan tetapi diukur. Dan yang paling penting dilaporkan secara terbuka dan berkala.

Bukan untuk pamer, tetapi untuk memastikan bahwa janji tidak berhenti sebagai kata-kata saja.
Karena rakyat tidak menilai dari apa yang kita katakan. Mereka menilai dari apa yang mereka rasakan.

Apakah hidup mereka lebih mudah?

Apakah usaha mereka lebih berkembang?

Apakah masa depan mereka lebih jelas?

BACA JUGA: 
PSBM XXVI Resmi Digelar di Makassar, Ajang Strategis Pengusaha dan Kepala Daerah

Jika jawabannya belum, maka seberapa pun megahnya sebuah pertemuan, ia akan tetap terasa jauh. Ada sebuah filosofi Bugis-Makassar yang sederhana, tetapi dalam:

“Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata.”

Usaha yang sungguh-sungguh akan mengundang rahmat Tuhan. Tetapi usaha yang sungguh-sungguh bukanlah usaha yang hanya terlihat sibuk.
Ia adalah usaha yang menghasilkan. Ia adalah usaha yang membawa perubahan. Ia adalah usaha yang tidak berhenti pada niat baik, tetapi berlanjut pada kerja nyata.

PSBM memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi besar bahkan lebih besar dari yang sekarang. Tetapi untuk sampai ke sana, ia harus berani melakukan sesuatu yang tidak mudah yakni
jujur pada dirinya sendiri.

Mengakui bahwa tidak semua berjalan sesuai harapan.

Mengakui bahwa dampaknya belum merata.

Mengakui bahwa ada jarak yang harus dijembatani.

Kejujuran ini bukan kelemahan. Ia adalah titik awal dari perubahan. Karena tanpa kejujuran, kita hanya akan terus mengulang pertemuan dengan format yang lebih rapi, dengan panggung yang lebih megah, dengan narasi yang lebih meyakinkan. Tetapi tetap dengan hasil yang sama.

Dan waktu tidak akan menunggu. Rakyat Sulawesi Selatan hari ini tidak sedang menunggu undangan PSBM berikutnya. Mereka tidak menunggu siapa yang akan berbicara di panggung. Mereka tidak peduli seberapa besar angka yang disebutkan dalam sambutan.

Mereka menunggu sesuatu yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih sulit: bukti. Bukti bahwa mereka tidak dilupakan.

Bukti bahwa mereka dilibatkan. Bukti bahwa mereka merasakan.

Sejarah Bugis-Makassar tidak dibangun oleh mereka yang hanya berkumpul. Ia dibangun oleh mereka yang berlayar yang meninggalkan daratan, menghadapi badai, dan pulang dengan hasil.SBM

PSBM hari ini adalah pelabuhan. Tempat berkumpul. Tempat bertemu. Tempat merancang perjalanan.

Tetapi pelabuhan bukan tujuan. Ia hanya berarti jika kapal-kapal benar-benar berangkat.

Dan mungkin, di tengah semua kemegahan itu, kita hanya perlu mengingat satu hal sederhana: jangan terlalu lama tinggal di pelabuhan. Karena laut dengan segala risikonya adalah satu-satunya tempat di mana perubahan benar-benar akan terjadi.

Selamat berPertemuan untuk para peserta PSBM hari ini di Kota Makassar.*

Gerhana Alauddin, 26 Maret 2026

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru