Aurelie Moeremans Tegaskan Buku Broken Strings Bukan untuk Mengungkap Sosok Nyata

Overview

  • Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans memicu perhatian publik, namun juga diiringi spekulasi identitas tokoh oleh warganet.
  • Aurelie menegaskan karakter dalam bukunya tidak untuk ditebak apalagi dijadikan sasaran perundungan.
  • Ia meminta pembaca fokus pada pesan penyembuhan dan peningkatan kesadaran soal child grooming.

SulawesiPos.com – Memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans terus menjadi perbincangan publik setelah mengungkap pengalaman traumatis yang dialaminya sebagai korban child grooming pada usia 15 tahun.

Namun, perhatian terhadap buku tersebut belakangan bergeser ke arah spekulasi pembaca terkait identitas tokoh-tokoh di dalamnya.

Seiring viralnya kisah tersebut, warganet ramai mengaitkan karakter dalam buku dengan figur tertentu di dunia nyata.

Nama Roby Tremonti ikut mencuat setelah ia merasa tersindir dengan tokoh bernama Bobby.

Tak hanya itu, karakter lain seperti Jo, Mama Jo, Kelly, Milo, Zane, hingga Tom juga menjadi bahan tebakan publik.

Menanggapi situasi tersebut, Aurelie Moeremans menyampaikan pernyataan tegas melalui akun Threads miliknya.

BACA JUGA:  Pelaku Child Grooming Siswi SMP di Makassar Manfaatkan Kondisi Korban, Keluarga Retak Jadi Pintu Masuk

Ia meminta pembaca untuk menghentikan asumsi yang berujung pada serangan personal.

Please…. Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan,” tulis Aurelie, Minggu (18/1/2026).

Aurelie mengaku merasa tidak nyaman dengan berbagai asumsi yang berkembang tanpa dasar jelas.

Menurutnya, spekulasi tersebut justru menjauhkan pembaca dari pesan utama yang ingin ia sampaikan melalui buku itu.

“Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku nggak enak bacanya,” sambungnya.

Bintang film Story of Kale: When Someone’s in Love itu menegaskan bahwa Broken Strings tidak ditulis untuk mengungkap atau menghakimi siapa pun di dunia nyata.

Ia menekankan bahwa fokus cerita adalah pengalaman personal dan proses pemulihan yang ia jalani.

“Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa-siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Foto Palsu, Usia Palsu: Modus Child Grooming-Pemerkosaan Siswi SMP Terbongkar di Makassar

Terkait kemungkinan adanya pihak yang secara terbuka mengklaim dirinya sebagai karakter dalam buku, Aurelie menyebut hal tersebut sebagai urusan pribadi masing-masing.

Namun, ia kembali mengingatkan agar publik tidak menjadikan spekulasi sebagai alasan untuk menyerang.

“Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing ya, kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, plis jangan,” tegas Aurelie.

Di akhir pesannya, Aurelie yang kini tengah menantikan kelahiran anak pertamanya berharap ruang diskusi seputar bukunya tetap aman dan penuh empati.

Ia menegaskan bahwa Broken Strings ditulis sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan memberi dukungan bagi korban dengan pengalaman serupa.

“Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat di-bully. Aku menulis karena ingin membuka mata, memberi awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama. Let’s keep this space kind, aman, dan penuh empati,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Rieke Diah Pitaloka Soroti Diamnya Komnas HAM dan Komnas Perempuan dalam Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans

Overview

  • Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans memicu perhatian publik, namun juga diiringi spekulasi identitas tokoh oleh warganet.
  • Aurelie menegaskan karakter dalam bukunya tidak untuk ditebak apalagi dijadikan sasaran perundungan.
  • Ia meminta pembaca fokus pada pesan penyembuhan dan peningkatan kesadaran soal child grooming.

SulawesiPos.com – Memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans terus menjadi perbincangan publik setelah mengungkap pengalaman traumatis yang dialaminya sebagai korban child grooming pada usia 15 tahun.

Namun, perhatian terhadap buku tersebut belakangan bergeser ke arah spekulasi pembaca terkait identitas tokoh-tokoh di dalamnya.

Seiring viralnya kisah tersebut, warganet ramai mengaitkan karakter dalam buku dengan figur tertentu di dunia nyata.

Nama Roby Tremonti ikut mencuat setelah ia merasa tersindir dengan tokoh bernama Bobby.

Tak hanya itu, karakter lain seperti Jo, Mama Jo, Kelly, Milo, Zane, hingga Tom juga menjadi bahan tebakan publik.

Menanggapi situasi tersebut, Aurelie Moeremans menyampaikan pernyataan tegas melalui akun Threads miliknya.

BACA JUGA:  Lawan ‘Child Grooming’, Aurelie Moeremans Bagikan Novel ‘Broken Strings’ Gratis untuk Publik, Berikut Link Download Bukunya

Ia meminta pembaca untuk menghentikan asumsi yang berujung pada serangan personal.

Please…. Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan,” tulis Aurelie, Minggu (18/1/2026).

Aurelie mengaku merasa tidak nyaman dengan berbagai asumsi yang berkembang tanpa dasar jelas.

Menurutnya, spekulasi tersebut justru menjauhkan pembaca dari pesan utama yang ingin ia sampaikan melalui buku itu.

“Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku nggak enak bacanya,” sambungnya.

Bintang film Story of Kale: When Someone’s in Love itu menegaskan bahwa Broken Strings tidak ditulis untuk mengungkap atau menghakimi siapa pun di dunia nyata.

Ia menekankan bahwa fokus cerita adalah pengalaman personal dan proses pemulihan yang ia jalani.

“Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa-siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Rieke Diah Pitaloka Soroti Diamnya Komnas HAM dan Komnas Perempuan dalam Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans

Terkait kemungkinan adanya pihak yang secara terbuka mengklaim dirinya sebagai karakter dalam buku, Aurelie menyebut hal tersebut sebagai urusan pribadi masing-masing.

Namun, ia kembali mengingatkan agar publik tidak menjadikan spekulasi sebagai alasan untuk menyerang.

“Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing ya, kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, plis jangan,” tegas Aurelie.

Di akhir pesannya, Aurelie yang kini tengah menantikan kelahiran anak pertamanya berharap ruang diskusi seputar bukunya tetap aman dan penuh empati.

Ia menegaskan bahwa Broken Strings ditulis sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan memberi dukungan bagi korban dengan pengalaman serupa.

“Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat di-bully. Aku menulis karena ingin membuka mata, memberi awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama. Let’s keep this space kind, aman, dan penuh empati,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Pesan Dosen Hukum Unhas: Anak Korban Child Grooming Harus Berani Melapor, Orang Tua Punya Tanggung Jawab Hukum

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru