Jejaknya juga masih terlihat di lingkungan kampus.
Nama Prof. Abdurrahman A. Basalamah digunakan untuk sejumlah fasilitas di UMI, termasuk aula yang menjadi bagian dari aktivitas akademik kampus.
Pada 2026, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMI masih menggunakan Aula Prof. Dr. Abdurrahman A. Basalamah dalam kegiatan akademiknya.
“Catatan Perannya Melampaui Umurnya”
Salah satu ungkapan yang kuat untuk menggambarkan warisan Prof. Abdurrahman Basalamah datang dari Anies Baswedan ketika mengenang sosok tersebut di hadapan keluarga besar almarhum pada Desember 2022.
Anies menyebut Abdurrahman Basalamah sebagai sosok legendaris di Makassar, Sulawesi, bahkan Indonesia.
Ia kemudian menyoroti panjangnya pengaruh yang ditinggalkan sang tokoh setelah wafat.
“Catatan perannya melampaui umurnya. Usianya ditutup tapi umurnya masih lebih panjang,” kata Anies saat itu.
Ungkapan tersebut menjadi relevan ketika melihat bagaimana nama Prof. Abdurrahman Basalamah tetap hidup di ruang publik Makassar.
Namanya tidak hanya melekat pada lingkungan akademik UMI, tetapi juga diabadikan menjadi nama salah satu ruas jalan yang sebelumnya dikenal sebagai Racing Center.
Nama yang Tetap Hidup di Tengah Kota
Perubahan nama jalan pada 2012 membuat masyarakat memiliki penanda baru untuk kawasan yang telah lama mereka kenal.
Namun, penggunaan nama Racing Center hingga kini menunjukkan bahwa sejarah sebuah tempat tidak selalu hilang ketika nama resminya berubah.
Di sisi lain, penggunaan nama Prof. Abdurrahman Basalamah membuat masyarakat yang melintasi jalan tersebut secara tidak langsung berhadapan dengan sejarah seorang tokoh pendidikan.
Bagi Makassar, Jalan Prof. Abdurrahman Basalamah akhirnya menjadi lebih dari sekadar alamat.
Jalan tersebut menjadi pengingat tentang perjalanan pendidikan tinggi, perkembangan UMI, serta seorang rektor yang jejak pengabdiannya masih dikenang jauh setelah masa kepemimpinannya berakhir.
Nama boleh berubah, tetapi sejarah kawasan dan sosok yang diabadikan di dalamnya tetap menjadi bagian dari ingatan Kota Makassar

