
Latihan juga harus disesuaikan dengan aktivitas sekolah. Untuk mengikuti sejumlah agenda pertandingan dan pemusatan latihan, Nadia harus meminta izin dari sekolah.
Kejuaraan Dunia di Jepang
Pengalaman internasional juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Nadia. Pada Gojukai World Championship di Jepang pada 2025, ia berhasil membawa pulang tiga emas dan satu perak.
Namun, perjalanan menuju kejuaraan tersebut tidak mudah. Nadia sempat menghadapi persoalan berat badan karena harus turun di kelas -47 kilogram.
Berat badannya saat itu masih 50 kilogram, sementara kelas pertandingan tidak dapat diubah.
“Awalnya saya dikasih waktu cuma 1 minggu untuk turunin. Jadi saya tanya pelatih, saya bisa, saya yakin,” tegas remaja kelahiran 2009 ini.
Dalam waktu sekitar satu pekan sebelum keberangkatan itu, Nadia harus menurunkan berat badan hingga mencapai 46 kilogram.
Ia menambah sesi latihan, termasuk jogging pada siang hari, serta menjalani pola makan yang diatur oleh ahli gizi.
Pernah Kehilangan Kepercayaan pada Pelatih
Perjalanan Nadia menjadi atlet berprestasi tidak selalu berjalan mulus. Di balik sederet medali yang diraihnya, ia pernah mengalami pengalaman yang membuatnya kehilangan kepercayaan kepada pelatihnya.
Nadia mengaku pernah berpindah organisasi karate. Salah satu alasannya berkaitan dengan sertifikat prestasi yang pernah ia berikan kepada pelatih.
“Pindah perguruan gara-gara sertifikat saya diperjualbelikan sama orang yang mau daftar sekolah tapi tidak punya sertifikat prestasi,” bebernya.
Menurut Nadia, saat itu pelatih meminta sertifikat tersebut dengan alasan akan dilegalisasi di KONI.
Karena percaya, Nadia menyerahkannya. Namun, belakangan Nadia mengetahui sertifikat itu diduga digunakan untuk membantu orang lain dalam proses pendaftaran ke salah satu SMP unggulan di Makassar.
Nadia mengaku tidak pernah diberi tahu mengenai penggunaan sertifikat tersebut. Persoalan itu kemudian membuat hubungannya dengan sang pelatih memburuk hingga akhirnya ia memilih meninggalkan organisasi tersebut.

