Jalan Hertasning Makassar, Diambil dari Nama Pejuang dan Diplomat Haeruddin Tasning

Posisi Haeruddin Tasning menjadi penting karena merupakan bagian dari semakin besarnya peran perwira lokal Sulawesi Selatan dalam struktur komando militer di daerahnya sendiri.

Sebelumnya, pada 15 Juli 1956, telah dibentuk Komando Daerah Pertempuran Sulawesi Selatan Tenggara (Ko-DPSST) yang dipimpin Kolonel Sudirman dari Divisi Brawijaya.

Karena pembentukan tersebut pada awalnya merupakan permintaan para perwira lokal, tetapi kepemimpinannya justru diberikan kepada perwira dari luar daerah, kemudian dibentuk Komando Reserve Umum Hasanuddin (KRU Hasanuddin) oleh Mayor Inf. M. Yusuf pada 5 Oktober 1956. Satuan tersebut memiliki tujuh batalyon dengan para komandan batalyon yang berasal dari kalangan perwira lokal Sulawesi Selatan.

Dalam perkembangan selanjutnya, orang-orang Sulawesi Selatan mulai menduduki posisi penting dalam kepemimpinan sipil dan militer daerah.

Mereka turut bertanggung jawab terhadap keamanan internal, termasuk dalam operasi militer dan upaya perundingan dengan Kahar Muzakkar.

Dari Perwira Militer hingga Diplomat

Setelah Konferensi Meja Bundar 1949, karier militer Haeruddin Tasning terus berkembang.

BACA JUGA:  Jalan Sultan Alauddin di Makassar, Siapa Sosok Raja Gowa di Balik Namanya?

Sejumlah jabatan yang disebut dalam sumber yang diberikan antara lain Komandan CPM Kodam VII Wirabuana di Manado pada 1951–1953, kemudian Komandan CPM Kodam VII Wirabuana di Makassar pada 1953–1955, serta Kepala Staf Kodam Sulawesi Selatan dan Tenggara pada 1957–1959.

Ia kemudian memasuki dunia diplomasi dan hubungan luar negeri. Haeruddin Tasning pernah menjadi Atase Militer Indonesia di Kairo, kemudian menjabat Dirjen Pengamanan dan Hubungan Luar Negeri Departemen Luar Negeri RI.

Ia juga pernah dipercaya sebagai Kepala Komando Intelijen Negara pada 1966–1968, sebelum melanjutkan karier di lingkungan diplomatik.

Pada masa berikutnya, Haeruddin Tasning menjabat Duta Besar Indonesia untuk Australia pada 1973–1976 dan Duta Besar Indonesia untuk Singapura pada 1976–1978.

Nama Hertasning Menjadi Pengingat Sejarah

Haeruddin Tasning wafat pada akhir Juni 1978 dalam kecelakaan helikopter militer di kawasan Bedugul, Bali. Ia termasuk dalam tujuh korban kecelakaan tersebut.

Pangkatnya kemudian dinaikkan secara anumerta dari Mayor Jenderal menjadi Letnan Jenderal.

BACA JUGA:  Jalan Emmy Saelan, Kisah Tragis Perawat Perempuan di Medan Gerilya

Kini, nama Hertasning melekat pada salah satu ruas jalan penting di Makassar. Jalan yang menjadi kawasan perdagangan, kuliner, dan permukiman tersebut bukan sekadar penanda geografis, tetapi juga menyimpan nama seorang putra Sulawesi Selatan yang memiliki perjalanan panjang dari pejuang kemerdekaan, perwira militer, hingga diplomat Indonesia.

Dengan demikian, ketika melintasi Jalan Hertasning, nama tersebut tidak hanya merujuk pada sebuah kawasan di Makassar, tetapi juga menjadi pengingat terhadap Haeruddin Tasning dan kiprahnya dalam sejarah Indonesia.

Sumber:

  1. Rahmadi, Komando Resor Militer (Korem) 141/Toddopuli di Sulawesi Selatan Tahun 1956–1980, Skripsi Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin.
  2. Ahyar Anwar & Aslan Abidin, Tokoh di Balik Nama-Nama Jalan Kota Makassar (Indonesian Culture Watch, 2008).

Posisi Haeruddin Tasning menjadi penting karena merupakan bagian dari semakin besarnya peran perwira lokal Sulawesi Selatan dalam struktur komando militer di daerahnya sendiri.

Sebelumnya, pada 15 Juli 1956, telah dibentuk Komando Daerah Pertempuran Sulawesi Selatan Tenggara (Ko-DPSST) yang dipimpin Kolonel Sudirman dari Divisi Brawijaya.

Karena pembentukan tersebut pada awalnya merupakan permintaan para perwira lokal, tetapi kepemimpinannya justru diberikan kepada perwira dari luar daerah, kemudian dibentuk Komando Reserve Umum Hasanuddin (KRU Hasanuddin) oleh Mayor Inf. M. Yusuf pada 5 Oktober 1956. Satuan tersebut memiliki tujuh batalyon dengan para komandan batalyon yang berasal dari kalangan perwira lokal Sulawesi Selatan.

Dalam perkembangan selanjutnya, orang-orang Sulawesi Selatan mulai menduduki posisi penting dalam kepemimpinan sipil dan militer daerah.

Mereka turut bertanggung jawab terhadap keamanan internal, termasuk dalam operasi militer dan upaya perundingan dengan Kahar Muzakkar.

Dari Perwira Militer hingga Diplomat

Setelah Konferensi Meja Bundar 1949, karier militer Haeruddin Tasning terus berkembang.

BACA JUGA:  Jalan Andi Pangerang Pettarani, Mengenang 51 Tahun Wafatnya Gubernur Sulawesi Terakhir

Sejumlah jabatan yang disebut dalam sumber yang diberikan antara lain Komandan CPM Kodam VII Wirabuana di Manado pada 1951–1953, kemudian Komandan CPM Kodam VII Wirabuana di Makassar pada 1953–1955, serta Kepala Staf Kodam Sulawesi Selatan dan Tenggara pada 1957–1959.

Ia kemudian memasuki dunia diplomasi dan hubungan luar negeri. Haeruddin Tasning pernah menjadi Atase Militer Indonesia di Kairo, kemudian menjabat Dirjen Pengamanan dan Hubungan Luar Negeri Departemen Luar Negeri RI.

Ia juga pernah dipercaya sebagai Kepala Komando Intelijen Negara pada 1966–1968, sebelum melanjutkan karier di lingkungan diplomatik.

Pada masa berikutnya, Haeruddin Tasning menjabat Duta Besar Indonesia untuk Australia pada 1973–1976 dan Duta Besar Indonesia untuk Singapura pada 1976–1978.

Nama Hertasning Menjadi Pengingat Sejarah

Haeruddin Tasning wafat pada akhir Juni 1978 dalam kecelakaan helikopter militer di kawasan Bedugul, Bali. Ia termasuk dalam tujuh korban kecelakaan tersebut.

Pangkatnya kemudian dinaikkan secara anumerta dari Mayor Jenderal menjadi Letnan Jenderal.

BACA JUGA:  Jalan Sultan Alauddin di Makassar, Siapa Sosok Raja Gowa di Balik Namanya?

Kini, nama Hertasning melekat pada salah satu ruas jalan penting di Makassar. Jalan yang menjadi kawasan perdagangan, kuliner, dan permukiman tersebut bukan sekadar penanda geografis, tetapi juga menyimpan nama seorang putra Sulawesi Selatan yang memiliki perjalanan panjang dari pejuang kemerdekaan, perwira militer, hingga diplomat Indonesia.

Dengan demikian, ketika melintasi Jalan Hertasning, nama tersebut tidak hanya merujuk pada sebuah kawasan di Makassar, tetapi juga menjadi pengingat terhadap Haeruddin Tasning dan kiprahnya dalam sejarah Indonesia.

Sumber:

  1. Rahmadi, Komando Resor Militer (Korem) 141/Toddopuli di Sulawesi Selatan Tahun 1956–1980, Skripsi Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin.
  2. Ahyar Anwar & Aslan Abidin, Tokoh di Balik Nama-Nama Jalan Kota Makassar (Indonesian Culture Watch, 2008).

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru