Jalan Andi Djemma Makassar: Sejarah Perjuangan Datu Luwu yang Mengabdi untuk Rakyat

Pada 23 Januari 1946, terjadi pertempuran antara pasukan yang dipimpin Andi Djemma dan pasukan Belanda di Palopo. Pasukan Andi Djemma sempat berhasil memukul mundur Belanda.

Namun, Belanda kemudian mendatangkan bala bantuan hingga akhirnya menguasai Kota Palopo.

Andi Djemma pun meninggalkan kota tersebut dan membangun pusat pemerintahan di Desa Latou, Sulawesi Tenggara, yang dikenal sebagai Benteng Batuputih.

Belanda beberapa kali berupaya merebut basis perjuangan tersebut. Serangan pada Mei 1946 berhasil digagalkan oleh para pejuang.

Namun, dalam serangan berikutnya pada 2 Juli 1946, Belanda berhasil menguasai Benteng Batuputih dan menangkap Andi Djemma beserta keluarganya serta sejumlah pejabat pemerintahan Luwu.

Ditangkap dan Dibuang ke Ternate

Setelah ditangkap, Andi Djemma terlebih dahulu dipindahkan ke Selayar. Ia kemudian dijatuhi hukuman pengasingan selama 25 tahun dan dibuang ke Ternate.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia, Andi Djemma dibebaskan dan kembali ke Makassar pada 1950.

Pemerintah Republik Indonesia kemudian mengangkatnya sebagai Kepala Pemerintahan Swapraja Luwu.

BACA JUGA:  BMKG Catat Makassar Jadi Daerah Terpanas di Indonesia, Suhu Capai 35,5 Derajat Celsius

Andi Djemma wafat di Makassar pada 23 Februari 1965 dalam usia 64 tahun.

Semasa menjadi datu, Andi Djemma dikenal sebagai pemimpin yang memberikan ruang bagi organisasi kebangsaan dan keagamaan untuk bergerak di wilayah Luwu.

Sikap tersebut mencerminkan komitmennya terhadap kehidupan masyarakat dan perjuangan kebangsaan.

Atas jasa-jasanya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Andi Djemma dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 073/TK/2002.

Makna Nama Jalan Andi Djemma

Penggunaan nama Andi Djemma sebagai nama jalan di Kota Makassar menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidup dan perjuangannya.

Jalan yang sebelumnya bernama Jalan Landak Baru tersebut kini membawa nama seorang tokoh yang tidak hanya memiliki kedudukan sebagai Datu Luwu, tetapi juga dikenal karena keberaniannya menentang kolonialisme dan menyatakan dukungan terhadap Republik Indonesia.

Nama jalan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai sejarah perjuangan Andi Djemma dan rakyat Luwu dalam mempertahankan kemerdekaan.

Adapun motto hidup Andi Djemma yang menggambarkan prinsip pengabdiannya adalah:

“DATANG, HIDUP DAN BELAJAR DARI RAKYAT SERTA MENGABDI UNTUK RAKYAT.”

Sumber:

  1. Buku Kisah Perjuangan Pahlawan Indonesia karya Lia Nuralia, ‎Iim Imadudin, dan ‎Randi Renggana.
  2. Buku Cinta Pahlawan Nasional Indonesia: Terlengkap & Terupdate oleh Pranadipa Mahawira.

Pada 23 Januari 1946, terjadi pertempuran antara pasukan yang dipimpin Andi Djemma dan pasukan Belanda di Palopo. Pasukan Andi Djemma sempat berhasil memukul mundur Belanda.

Namun, Belanda kemudian mendatangkan bala bantuan hingga akhirnya menguasai Kota Palopo.

Andi Djemma pun meninggalkan kota tersebut dan membangun pusat pemerintahan di Desa Latou, Sulawesi Tenggara, yang dikenal sebagai Benteng Batuputih.

Belanda beberapa kali berupaya merebut basis perjuangan tersebut. Serangan pada Mei 1946 berhasil digagalkan oleh para pejuang.

Namun, dalam serangan berikutnya pada 2 Juli 1946, Belanda berhasil menguasai Benteng Batuputih dan menangkap Andi Djemma beserta keluarganya serta sejumlah pejabat pemerintahan Luwu.

Ditangkap dan Dibuang ke Ternate

Setelah ditangkap, Andi Djemma terlebih dahulu dipindahkan ke Selayar. Ia kemudian dijatuhi hukuman pengasingan selama 25 tahun dan dibuang ke Ternate.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia, Andi Djemma dibebaskan dan kembali ke Makassar pada 1950.

Pemerintah Republik Indonesia kemudian mengangkatnya sebagai Kepala Pemerintahan Swapraja Luwu.

BACA JUGA:  PNUP Lepas 63 Atlet dan Official ke PORSENI XV 2026 di Polmed Medan

Andi Djemma wafat di Makassar pada 23 Februari 1965 dalam usia 64 tahun.

Semasa menjadi datu, Andi Djemma dikenal sebagai pemimpin yang memberikan ruang bagi organisasi kebangsaan dan keagamaan untuk bergerak di wilayah Luwu.

Sikap tersebut mencerminkan komitmennya terhadap kehidupan masyarakat dan perjuangan kebangsaan.

Atas jasa-jasanya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Andi Djemma dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 073/TK/2002.

Makna Nama Jalan Andi Djemma

Penggunaan nama Andi Djemma sebagai nama jalan di Kota Makassar menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidup dan perjuangannya.

Jalan yang sebelumnya bernama Jalan Landak Baru tersebut kini membawa nama seorang tokoh yang tidak hanya memiliki kedudukan sebagai Datu Luwu, tetapi juga dikenal karena keberaniannya menentang kolonialisme dan menyatakan dukungan terhadap Republik Indonesia.

Nama jalan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai sejarah perjuangan Andi Djemma dan rakyat Luwu dalam mempertahankan kemerdekaan.

Adapun motto hidup Andi Djemma yang menggambarkan prinsip pengabdiannya adalah:

“DATANG, HIDUP DAN BELAJAR DARI RAKYAT SERTA MENGABDI UNTUK RAKYAT.”

Sumber:

  1. Buku Kisah Perjuangan Pahlawan Indonesia karya Lia Nuralia, ‎Iim Imadudin, dan ‎Randi Renggana.
  2. Buku Cinta Pahlawan Nasional Indonesia: Terlengkap & Terupdate oleh Pranadipa Mahawira.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru