Salah satu nama yang kemudian menjadi perhatian mereka adalah Ali Malaka.
Nama Ali Malaka Masuk Daftar Buruan Westerling
Pada 5 Desember 1946, pasukan khusus Belanda Depot Speciale Troepen (DST) tiba di Makassar di bawah komando Raymond Westerling.

Kedatangan pasukan ini kemudian diikuti serangkaian operasi terhadap wilayah yang dianggap menjadi basis atau tempat persembunyian kelompok perlawanan.
Dalam salah satu laporan mengenai operasi di Batua, Ali Malaka dan Wolter Monginsidi disebut sebagai tokoh penting dalam perlawanan yang diyakini berada di kawasan tersebut. Namun, keduanya tidak ditemukan ketika pasukan Belanda melakukan operasi.
Nama Ali Malaka kembali muncul dalam operasi di sekitar Kalukuang. Kesaksian korban selamat mencatat pasukan Westerling secara khusus menanyakan kepada warga mengenai keberadaan Ali Malaka dan Mustafa, yang disebut berkaitan dengan pimpinan gerilya H.I. dari Wolter Monginsidi.
Tidak ada warga yang memberikan informasi mengenai keberadaan keduanya. Pertanyaan tersebut bahkan diikuti ancaman dan penembakan terhadap sejumlah warga.
Perburuan tersebut kemudian berujung pada akhir perjalanan Ali Malaka.
Pelarian ke Surabaya yang Berakhir di Tangan Belanda
Dalam salah satu sumber, keluarga Ali Malaka menyebut bahwa Ali Malaka bersama sejumlah rekannya pernah berencana menuju Surabaya untuk menemui Bung Tomo.
Rombongan tersebut disebut hendak meninggalkan Makassar melalui jalur laut. Namun, sebelum sampai ke Pantai Losari untuk menaiki perahu yang akan digunakan, rencana keberangkatan mereka disebut telah diketahui mata-mata Belanda.
Ali Malaka dan kawan-kawannya kemudian dihadang di sekitar Lorong Kampung Baru.
Dalam peristiwa itu, Ali Malaka disebut tertembak pada bagian paha. Luka tersebut membuatnya tidak dapat melanjutkan pelarian hingga akhirnya ditangkap pasukan Belanda.
Sumber tersebut juga menyebut Ali Malaka kemudian dieksekusi oleh pasukan Westerling di Desa Tinggimae, Sungguminasa, Gowa.
Setelah gugur, Ali Malaka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.

