Jalan Ali Malaka, Pejuang Makassar yang Pernah Diburu Westerling

Dari lingkungan gerakan pemuda inilah jejak Ali Malaka kemudian bersinggungan dengan jaringan kelaskaran di Sulawesi Selatan.

Ali Malaka dalam Jaringan Kelaskaran

Perjuangan mempertahankan Republik di Sulawesi Selatan tidak dilakukan oleh satu kelompok saja. Berbagai organisasi dan laskar di sejumlah daerah kemudian berupaya menyatukan kekuatan agar perlawanan terhadap NICA lebih terorganisasi.

Pada 15 Juli 1946, para pemimpin kelaskaran bertemu di Komara. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai kelompok perjuangan.

Dalam catatan akademik mengenai dinamika kemiliteran di Sulawesi Selatan, Ali Malaka tercatat hadir sebagai wakil Gerakan Tanete Soppeng.

Sementara dari PPNI Makassar hadir Riri Amin Daud dan dari Harimau Indonesia hadir Aminuddin Muchlis.

Pertemuan itu kemudian berlanjut pada upaya membentuk wadah bersama bagi kelompok-kelompok kelaskaran.

Pada 17 Juli 1946, Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) diresmikan sebagai wadah kesatuan organisasi kelaskaran.

Ali Malaka dan Pasukan Harimau Indonesia

Salah satu catatan paling kuat mengenai posisi Ali Malaka dalam perjuangan bersenjata berasal dari sejarah resmi perintisan TNI AL di Makassar.

BACA JUGA:  Jalan Sultan Alauddin di Makassar, Siapa Sosok Raja Gowa di Balik Namanya?

Pada 20 November 1946, ekspedisi ALRI yang dipimpin Letnan II Amier dan Sersan Abd. Rachman mendarat di Paotere, Makassar.

Ekspedisi tersebut kemudian berhasil menghubungi pimpinan Pasukan Harimau Indonesia di Kampung Kaluku Badoa.

Dalam catatan Kodaeral VI, pasukan tersebut disebut berada di bawah pimpinan Ali Malaka.

Pertemuan antara pihak ALRI dan pimpinan Harimau Indonesia kemudian menghasilkan kesepakatan untuk melebur Pasukan Harimau Indonesia menjadi ALRI.

Pada saat yang sama, tekanan terhadap kelompok-kelompok pro-Republik semakin besar. Belanda mulai meningkatkan operasi untuk memburu tokoh-tokoh yang dianggap berada di balik perlawanan.

Dari lingkungan gerakan pemuda inilah jejak Ali Malaka kemudian bersinggungan dengan jaringan kelaskaran di Sulawesi Selatan.

Ali Malaka dalam Jaringan Kelaskaran

Perjuangan mempertahankan Republik di Sulawesi Selatan tidak dilakukan oleh satu kelompok saja. Berbagai organisasi dan laskar di sejumlah daerah kemudian berupaya menyatukan kekuatan agar perlawanan terhadap NICA lebih terorganisasi.

Pada 15 Juli 1946, para pemimpin kelaskaran bertemu di Komara. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai kelompok perjuangan.

Dalam catatan akademik mengenai dinamika kemiliteran di Sulawesi Selatan, Ali Malaka tercatat hadir sebagai wakil Gerakan Tanete Soppeng.

Sementara dari PPNI Makassar hadir Riri Amin Daud dan dari Harimau Indonesia hadir Aminuddin Muchlis.

Pertemuan itu kemudian berlanjut pada upaya membentuk wadah bersama bagi kelompok-kelompok kelaskaran.

Pada 17 Juli 1946, Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) diresmikan sebagai wadah kesatuan organisasi kelaskaran.

Ali Malaka dan Pasukan Harimau Indonesia

Salah satu catatan paling kuat mengenai posisi Ali Malaka dalam perjuangan bersenjata berasal dari sejarah resmi perintisan TNI AL di Makassar.

BACA JUGA:  Jalan Abu Bakar Lambogo: Sosok Pejuang Asal Enrekang yang Namanya Diabadikan di Makassar

Pada 20 November 1946, ekspedisi ALRI yang dipimpin Letnan II Amier dan Sersan Abd. Rachman mendarat di Paotere, Makassar.

Ekspedisi tersebut kemudian berhasil menghubungi pimpinan Pasukan Harimau Indonesia di Kampung Kaluku Badoa.

Dalam catatan Kodaeral VI, pasukan tersebut disebut berada di bawah pimpinan Ali Malaka.

Pertemuan antara pihak ALRI dan pimpinan Harimau Indonesia kemudian menghasilkan kesepakatan untuk melebur Pasukan Harimau Indonesia menjadi ALRI.

Pada saat yang sama, tekanan terhadap kelompok-kelompok pro-Republik semakin besar. Belanda mulai meningkatkan operasi untuk memburu tokoh-tokoh yang dianggap berada di balik perlawanan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru