Fadly Padi dan Fatayat NU Makassar Pimpin Revolusi Ecoenzym: Dari Dapur Rumah Tangga Menuju Gerakan Lingkungan dan Ekonomi Rakyat

SulawesiPos.com – Gelombang baru gerakan lingkungan berbasis masyarakat kembali menggema di Kota Makassar ketika Yayasan Butta Porea di bawah kepemimpinan Fadly Padi meluncurkan inisiatif kolaboratif yang tidak hanya menyentuh aspek ekologis, tetapi juga mengarah pada transformasi sosial dan ekonomi yang berkelanjutan pada Senin malam (21/4/2026).

Pertemuan yang berlangsung hangat di Warkop Van Joel tersebut menjadi titik awal lahirnya sinergi strategis antara Yayasan Butta Porea dan kader Fatayat NU Kota Makassar dalam mengembangkan ecoenzym sebagai solusi konkret atas krisis limbah organik rumah tangga yang terus meningkat di kawasan perkotaan.

Inisiatif ini hadir di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan, di mana data berbagai studi lingkungan menunjukkan bahwa limbah organik menyumbang lebih dari 50 persen total sampah rumah tangga di Indonesia, namun masih minim pengolahan berbasis komunitas.

Dengan pendekatan sederhana namun berdampak luas, ecoenzym diperkenalkan sebagai inovasi berbasis fermentasi limbah dapur seperti kulit buah dan sayuran yang mampu diolah menjadi produk multifungsi mulai dari pupuk organik, cairan pembersih, hingga pengendali bau dan hama alami.

BACA JUGA: 
Semen Tonasa Raih PROPER Hijau ke-9, Bukti Konsistensi Industri Berkelanjutan

Fadly Padi dalam paparannya menegaskan bahwa perempuan, khususnya kader Fatayat NU, memiliki posisi kunci sebagai aktor perubahan yang mampu menggerakkan transformasi gaya hidup ramah lingkungan dari lingkup rumah tangga hingga ke tingkat komunitas yang lebih luas.

Ia menekankan bahwa gerakan ini bukan sekadar aktivitas teknis pengolahan limbah, melainkan upaya strategis membangun budaya baru yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan melalui perubahan kebiasaan sehari-hari.

“Gerakan ini terlihat sederhana, tetapi memiliki efek berlapis yang mampu membentuk kesadaran kolektif baru dalam masyarakat,” ujar Fadly dengan penuh optimisme.

Lebih jauh, ia juga menggarisbawahi bahwa ecoenzym memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai model ekonomi alternatif berbasis komunitas yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga bernilai ekonomi tinggi.

Di sisi lain, Ketua Fatayat NU Kota Makassar, Nurul Husna Al Fayanah, menyambut kolaborasi ini sebagai langkah progresif yang sejalan dengan agenda pemberdayaan perempuan yang selama ini menjadi pilar utama organisasi.

BACA JUGA: 
Memutus Rantai Kekerasan di Kampus: Mandat Fikih Perlindungan bagi Mahasiswi

Ia melihat ecoenzym bukan hanya sebagai solusi lingkungan, tetapi juga sebagai peluang strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi kader melalui produksi dan pemasaran produk berbasis rumah tangga.

Nurul Husna menegaskan bahwa Fatayat NU akan segera merancang program pelatihan berkelanjutan guna memastikan para kader mampu mengelola ecoenzym secara profesional dan mandiri.

“Kami melihat ini sebagai gerakan utuh yang mengintegrasikan nilai lingkungan, edukasi, dan ekonomi dalam satu ekosistem pemberdayaan,” ungkapnya.

Kolaborasi ini diproyeksikan menjadi embrio gerakan besar yang berpotensi melahirkan ekosistem baru berbasis komunitas perempuan yang tidak hanya peduli terhadap lingkungan, tetapi juga mampu memperkuat solidaritas sosial dan kemandirian ekonomi di tengah tantangan global yang semakin kompleks. (ali)

SulawesiPos.com – Gelombang baru gerakan lingkungan berbasis masyarakat kembali menggema di Kota Makassar ketika Yayasan Butta Porea di bawah kepemimpinan Fadly Padi meluncurkan inisiatif kolaboratif yang tidak hanya menyentuh aspek ekologis, tetapi juga mengarah pada transformasi sosial dan ekonomi yang berkelanjutan pada Senin malam (21/4/2026).

Pertemuan yang berlangsung hangat di Warkop Van Joel tersebut menjadi titik awal lahirnya sinergi strategis antara Yayasan Butta Porea dan kader Fatayat NU Kota Makassar dalam mengembangkan ecoenzym sebagai solusi konkret atas krisis limbah organik rumah tangga yang terus meningkat di kawasan perkotaan.

Inisiatif ini hadir di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan, di mana data berbagai studi lingkungan menunjukkan bahwa limbah organik menyumbang lebih dari 50 persen total sampah rumah tangga di Indonesia, namun masih minim pengolahan berbasis komunitas.

Dengan pendekatan sederhana namun berdampak luas, ecoenzym diperkenalkan sebagai inovasi berbasis fermentasi limbah dapur seperti kulit buah dan sayuran yang mampu diolah menjadi produk multifungsi mulai dari pupuk organik, cairan pembersih, hingga pengendali bau dan hama alami.

BACA JUGA: 
Memutus Rantai Kekerasan di Kampus: Mandat Fikih Perlindungan bagi Mahasiswi

Fadly Padi dalam paparannya menegaskan bahwa perempuan, khususnya kader Fatayat NU, memiliki posisi kunci sebagai aktor perubahan yang mampu menggerakkan transformasi gaya hidup ramah lingkungan dari lingkup rumah tangga hingga ke tingkat komunitas yang lebih luas.

Ia menekankan bahwa gerakan ini bukan sekadar aktivitas teknis pengolahan limbah, melainkan upaya strategis membangun budaya baru yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan melalui perubahan kebiasaan sehari-hari.

“Gerakan ini terlihat sederhana, tetapi memiliki efek berlapis yang mampu membentuk kesadaran kolektif baru dalam masyarakat,” ujar Fadly dengan penuh optimisme.

Lebih jauh, ia juga menggarisbawahi bahwa ecoenzym memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai model ekonomi alternatif berbasis komunitas yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga bernilai ekonomi tinggi.

Di sisi lain, Ketua Fatayat NU Kota Makassar, Nurul Husna Al Fayanah, menyambut kolaborasi ini sebagai langkah progresif yang sejalan dengan agenda pemberdayaan perempuan yang selama ini menjadi pilar utama organisasi.

BACA JUGA: 
Bone Berprestasi! Usai Raih Adipura, Pemkab Diganjar Insentif Rp50 Juta dari Pemprov Sulsel

Ia melihat ecoenzym bukan hanya sebagai solusi lingkungan, tetapi juga sebagai peluang strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi kader melalui produksi dan pemasaran produk berbasis rumah tangga.

Nurul Husna menegaskan bahwa Fatayat NU akan segera merancang program pelatihan berkelanjutan guna memastikan para kader mampu mengelola ecoenzym secara profesional dan mandiri.

“Kami melihat ini sebagai gerakan utuh yang mengintegrasikan nilai lingkungan, edukasi, dan ekonomi dalam satu ekosistem pemberdayaan,” ungkapnya.

Kolaborasi ini diproyeksikan menjadi embrio gerakan besar yang berpotensi melahirkan ekosistem baru berbasis komunitas perempuan yang tidak hanya peduli terhadap lingkungan, tetapi juga mampu memperkuat solidaritas sosial dan kemandirian ekonomi di tengah tantangan global yang semakin kompleks. (ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru