Diskusi Buku Money Politics Hadirkan Perspektif Kritis dan Reflektif di Makassar

SulawesiPos.com – Kegiatan bedah buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral” karya Mustamin Raga yang digelar SulawesiPos.com di AAS Building Lantai 4, Makassar, Sabtu (18/4/2026), menjadi ruang refleksi mendalam tentang kondisi demokrasi saat ini.

Acara diawali dengan makan siang bersama dalam suasana hangat dan akrab sebelum diskusi resmi dimulai.

Para peserta dari Dewan pembaca SulawesiPos dan berbagai kalangan tampak berbaur, membangun percakapan ringan yang kemudian mengalir ke isu-isu serius seputar politik uang.

Mustamin Raga: Suara Pemilih Adalah Amanah

Dalam pemaparannya, Mustamin Raga menegaskan pentingnya kesadaran politik masyarakat.

“Kesadaran kita bukan sekadar hak, tapi suara kita adalah amanah. Pilihan kecil hari ini bisa menentukan arah besar hidup kita lima tahun mendatang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa setiap pilihan politik memiliki dampak jangka panjang terhadap masa depan masyarakat.

Prof Sukri: Money Politics Akan Terus Berulang

Sementara itu, Sukri menilai praktik politik uang masih akan terus berulang selama kondisi sosial masyarakat masih mendukung.

BACA JUGA: 
Pasutri Bobol Rumah Kosong di Makassar, Istri Diamankan Usai Nyaris Diamuk Warga

“Yang pasti akan terus berulang adalah money politics. Bukan berarti tidak ada upaya mencegah, tapi karena ‘tanahnya’ memang masih cocok,” katanya.

Ia mengaitkan hal ini dengan teori budaya politik dari Gabriel Almond dan Sidney Verba, yang membagi masyarakat menjadi tiga tipe: parokial, subjek, dan partisipan.

Menurutnya, praktik politik uang akan sulit berkembang jika masyarakat telah mencapai tahap partisipan yakni sadar, kritis, dan aktif dalam kehidupan politik.

Sukri juga menyinggung dilema yang dihadapi masyarakat:

“Antara makan nasi atau idealisme? Hari ini atau masa depan?”

Kondisi ekonomi yang mendesak membuat sebagian masyarakat masih memilih kepentingan jangka pendek.

Kritik Tajam: Buku Dinilai Lebih Bernuansa Sastra

Pandangan kritis juga datang dari Nur Thamzil Thahir yang menilai buku tersebut lebih menyerupai karya sastra dibanding kajian ilmiah.

“Dari bacaannya, ini lebih anak sastra dibandingkan seorang yang membahas money politics,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ketiadaan data dalam buku tersebut.

BACA JUGA: 
SPBU di Sudiang Disanksi, Penyaluran Biosolar Dihentikan 30 Hari Akibat Dugaan Pelangsiran

“Saya tidak menemukan sama sekali angka tentang money politics di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, pembahasan politik uang seharusnya didukung data empiris seperti statistik, kasus nyata, serta rujukan akademik yang relevan agar memiliki kekuatan analisis yang lebih tajam.

Selain itu, ia menilai buku tersebut masih minim perspektif lapangan dan lebih banyak bertumpu pada pendekatan reflektif.

Moderator: Ruang Diskusi Sangat Dibutuhkan

Sebagai penutup, moderator Supratman menekankan pentingnya ruang diskusi terbuka seperti ini.

Menurutnya, forum semacam ini menjadi wadah penting dalam membahas isu-isu krusial yang menyangkut masa depan demokrasi.

Ia juga mengapresiasi SulawesiPos.com yang telah menghadirkan ruang dialog bagi publik.

“Ruang seperti ini sangat dibutuhkan. Untung ada SulawesiPos yang mau menjadi bagian dari kepentingan nasib kita semua,” ujarnya.

Refleksi: Demokrasi Butuh Kesadaran, Bukan Transaksi

Diskusi ini menegaskan bahwa persoalan politik uang bukan hanya soal sistem, tetapi juga soal kesadaran masyarakat.

Tanpa peningkatan literasi politik dan perubahan budaya, praktik ini akan terus berulang dan mengancam kualitas demokrasi di Indonesia.

BACA JUGA: 
Dari Mobil Bekas Jadi Armada Penolong, Cara Makassar Percepat Layanan Sosial Warga

SulawesiPos.com – Kegiatan bedah buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral” karya Mustamin Raga yang digelar SulawesiPos.com di AAS Building Lantai 4, Makassar, Sabtu (18/4/2026), menjadi ruang refleksi mendalam tentang kondisi demokrasi saat ini.

Acara diawali dengan makan siang bersama dalam suasana hangat dan akrab sebelum diskusi resmi dimulai.

Para peserta dari Dewan pembaca SulawesiPos dan berbagai kalangan tampak berbaur, membangun percakapan ringan yang kemudian mengalir ke isu-isu serius seputar politik uang.

Mustamin Raga: Suara Pemilih Adalah Amanah

Dalam pemaparannya, Mustamin Raga menegaskan pentingnya kesadaran politik masyarakat.

“Kesadaran kita bukan sekadar hak, tapi suara kita adalah amanah. Pilihan kecil hari ini bisa menentukan arah besar hidup kita lima tahun mendatang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa setiap pilihan politik memiliki dampak jangka panjang terhadap masa depan masyarakat.

Prof Sukri: Money Politics Akan Terus Berulang

Sementara itu, Sukri menilai praktik politik uang masih akan terus berulang selama kondisi sosial masyarakat masih mendukung.

BACA JUGA: 
Pelindo dan Pemkot Makassar Bergerak, Modus Jukir Liar di Kawasan Pelabuhan Mulai Ditertibkan

“Yang pasti akan terus berulang adalah money politics. Bukan berarti tidak ada upaya mencegah, tapi karena ‘tanahnya’ memang masih cocok,” katanya.

Ia mengaitkan hal ini dengan teori budaya politik dari Gabriel Almond dan Sidney Verba, yang membagi masyarakat menjadi tiga tipe: parokial, subjek, dan partisipan.

Menurutnya, praktik politik uang akan sulit berkembang jika masyarakat telah mencapai tahap partisipan yakni sadar, kritis, dan aktif dalam kehidupan politik.

Sukri juga menyinggung dilema yang dihadapi masyarakat:

“Antara makan nasi atau idealisme? Hari ini atau masa depan?”

Kondisi ekonomi yang mendesak membuat sebagian masyarakat masih memilih kepentingan jangka pendek.

Kritik Tajam: Buku Dinilai Lebih Bernuansa Sastra

Pandangan kritis juga datang dari Nur Thamzil Thahir yang menilai buku tersebut lebih menyerupai karya sastra dibanding kajian ilmiah.

“Dari bacaannya, ini lebih anak sastra dibandingkan seorang yang membahas money politics,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ketiadaan data dalam buku tersebut.

BACA JUGA: 
Buka Puasa Bersama Dewan Pembaca, Fatayat Apresiasi SulawesiPos.com Buka Ruang Tulisan bagi Perempuan

“Saya tidak menemukan sama sekali angka tentang money politics di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, pembahasan politik uang seharusnya didukung data empiris seperti statistik, kasus nyata, serta rujukan akademik yang relevan agar memiliki kekuatan analisis yang lebih tajam.

Selain itu, ia menilai buku tersebut masih minim perspektif lapangan dan lebih banyak bertumpu pada pendekatan reflektif.

Moderator: Ruang Diskusi Sangat Dibutuhkan

Sebagai penutup, moderator Supratman menekankan pentingnya ruang diskusi terbuka seperti ini.

Menurutnya, forum semacam ini menjadi wadah penting dalam membahas isu-isu krusial yang menyangkut masa depan demokrasi.

Ia juga mengapresiasi SulawesiPos.com yang telah menghadirkan ruang dialog bagi publik.

“Ruang seperti ini sangat dibutuhkan. Untung ada SulawesiPos yang mau menjadi bagian dari kepentingan nasib kita semua,” ujarnya.

Refleksi: Demokrasi Butuh Kesadaran, Bukan Transaksi

Diskusi ini menegaskan bahwa persoalan politik uang bukan hanya soal sistem, tetapi juga soal kesadaran masyarakat.

Tanpa peningkatan literasi politik dan perubahan budaya, praktik ini akan terus berulang dan mengancam kualitas demokrasi di Indonesia.

BACA JUGA: 
Rundown Lengkap Rakernas PSI 2026 di Makassar: Dari Pelantikan, Rakernas, Hingga Jalan Santai

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru