SulawesiPos.com – Kebijakan pembatasan penggunaan gawai di sekolah tak hanya berdampak pada lingkungan belajar, tetapi juga dirasakan langsung oleh orang tua di rumah.
Sejumlah wali siswa menilai aturan ini membantu membentuk kedisiplinan anak sekaligus meningkatkan fokus belajar.
Salah satunya disampaikan Nurwahidah, orang tua siswa SMAN 8 Makassar. Ia mengaku mengetahui kebijakan pembatasan gawai di sekolah dan mendukung penerapannya.
Menurutnya, sejak kebijakan tersebut diberlakukan, terdapat perubahan positif pada anaknya, baik dari segi sikap maupun tanggung jawab.
“Ada. Dia juga sudah berani ambil tanggung jawab sebagai ketua kelas,” ujarnya kepada SulawesiPos.com saat ditanya terkait perubahan yang dirasakan, Sabtu (4/4/2026).
Ida, sapaan akrabnya, menilai pembatasan gawai efektif membantu anak lebih fokus dalam pembelajaran.
Ia juga mengaku tidak mengalami kendala komunikasi dengan anaknya selama aturan tersebut diterapkan di sekolah.
Meski demikian, ia menekankan bahwa peran orang tua di rumah tetap penting untuk menjaga konsistensi kebiasaan anak dalam menggunakan gawai.
Di rumah, Ida menerapkan aturan sederhana, seperti membiasakan anak tidur lebih cepat serta mendorong aktivitas fisik agar tidak terlalu bergantung pada ponsel.
“Di rumah diatur dengan jam tidur lebih cepat. Dia juga lebih sering olahraga, seperti joging atau main voli,” ungkap karyawan PDAM Makassar tersebut.
Upaya ini sejalan dengan langkah sekolah yang sebelumnya telah melibatkan orang tua dalam sosialisasi kebijakan pembatasan gawai, sehingga pengawasan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga berlanjut di rumah.
Bagi Ida, kebijakan ini tidak menimbulkan kekhawatiran. Ia justru melihat pembatasan gawai sebagai langkah positif dalam mendukung perkembangan anak, baik dari segi disiplin maupun kebiasaan belajar.
Pandangan ini juga selaras dengan penerapan di sejumlah sekolah, seperti SMAN 11 Makassar, di mana pembatasan gawai dinilai mampu meningkatkan fokus belajar, mengurangi distraksi, serta mendorong siswa lebih mandiri dalam memahami materi.
Selain itu, kebijakan ini turut membantu menekan potensi dampak negatif penggunaan gawai, termasuk ketergantungan berlebihan dan interaksi digital yang tidak sehat.
Dengan dukungan orang tua, pembatasan gawai di sekolah diharapkan tidak hanya menjadi aturan formal, tetapi juga bagian dari upaya bersama dalam membentuk kebiasaan belajar yang lebih baik dan seimbang di era digital.

