SulawesiPos.com – Kuliner khas Makassar memang tidak pernah kehabisan cerita. Dari dulu hingga sekarang, cita rasanya yang kuat dan berempah selalu berhasil membuat orang kembali rindu, baik yang tinggal di sana maupun yang pernah singgah.
Salah satu yang paling ikonik tentu saja coto. Biasanya, hidangan ini dinikmati dengan potongan daging dalam kuah kental yang gurih. Namun belakangan, ada sesuatu yang mulai berbeda.
Kuah coto kini tidak lagi hanya “milik” daging.
Di beberapa tempat, mulai muncul kreasi baru yang memadukan kuah coto dengan bahan lain seperti bakso hingga ubi.
Sekilas terdengar tidak biasa, tapi justru dari situlah daya tariknya muncul, rasa penasaran yang membuat banyak orang ingin mencoba.
Selama ini, bakso dikenal sebagai makanan berkuah bening dengan cita rasa kaldu sapi yang ringan. Isinya pun beragam, mulai dari mi, bihun, tauge, hingga tambahan seperti telur dan taburan bawang goreng.
Namun di Makassar, kuah bening tersebut mulai “diganti peran” oleh kuah coto yang lebih pekat.
Kuah ini dikenal memiliki cita rasa khas karena dibuat dari campuran bahan seperti air cucian beras dan kacang tanah yang dihaluskan, sehingga menghasilkan tekstur yang kental dengan rasa gurih yang kuat.
Perpaduan ini menghadirkan sensasi baru. Bakso yang biasanya ringan, kini terasa lebih kaya rasa dengan kuah coto yang medok.
Bagi sebagian orang mungkin terasa asing, tapi bagi yang lain justru menjadi pengalaman makan yang berbeda.
Menariknya, kreasi ini tidak sulit ditemukan. Mulai dari warung pinggir jalan hingga tempat makan yang lebih modern sudah mulai menyajikan bakso kuah coto.
Salah satu yang cukup ramai dibicarakan adalah Ngebacot cabang Rappocini, dengan berbagai pilihan bakso seperti bakso biasa, urat, keju, hingga mercon. Harganya pun relatif terjangkau, mulai dari Rp12 ribuan.
Tidak berhenti di situ, kuah coto juga mulai dipadukan dengan hidangan lain, salah satunya sop ubi. Selama ini, sop ubi dikenal sebagai makanan khas Makassar yang berisi daging, sohun, tauge, serta potongan ubi goreng.
Kini, sop ubi hadir dengan sentuhan baru dengan menggunakan kuah coto yang lebih kental dan berempah. Hasilnya, rasa yang dihasilkan terasa lebih kuat dan mengenyangkan.
Perpaduan ini bisa ditemukan di salah satu warung di Jalan Andi Tonro No. 165, dengan harga sekitar Rp15 ribu per porsi. Cukup terjangkau untuk sebuah pengalaman rasa yang berbeda.
Kuah coto, yang selama ini identik dengan daging, kini hadir dalam berbagai bentuk baru.
Unik atau tidak, semuanya kembali pada selera. Namun satu hal yang pasti, kuliner selalu punya cara untuk terus hidup dan berkembang. (mg2)

