SulawesiPos.com – Angka kecelakaan lalu lintas di Sulawesi Selatan sepanjang hingga April 2026 masih tergolong tinggi.
Tercatat sebanyak 2.179 kejadian terjadi di 10 titik rawan yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota.
Dari total tersebut, korban luka-luka mencapai 2.850 orang, sementara korban meninggal dunia tercatat 118 orang.
Sejumlah wilayah di Sulsel juga tercatat sebagai titik rawan kecelakaan. Di Kabupaten Gowa, tepatnya Kecamatan Somba Opu, terjadi 181 kejadian dengan 11 korban meninggal dan 237 luka-luka.
Di Kabupaten Maros, Kecamatan Turikale mencatat 173 kejadian dengan 11 korban meninggal dan 262 luka-luka.
Sementara itu, di Kabupaten Jeneponto, Kecamatan Binamu terjadi 167 kasus dengan 6 korban meninggal dan 231 luka-luka.
Sedangkan di Kabupaten Bulukumba, Kecamatan Gantarang mencatat 146 kejadian dengan 12 korban meninggal dan 212 luka-luka.
Baru kemudian, Makassar muncul sebagai wilayah dengan jumlah kecelakaan tertinggi di Sulsel, yakni mencapai 1.508 kejadian yang tersebar di enam kecamatan.
Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sulsel, Kombes Pol Pria Budi, menyebut faktor utama tingginya angka kecelakaan di Sulsel adalah rendahnya kesadaran berlalu lintas.
Pelanggaran seperti melawan arus, tidak mematuhi rambu, hingga tidak menggunakan helm masih menjadi penyebab dominan.
“Banyak dari masyarakat kita salah satunya melanggar arus, itu yang paling tinggi terjadi di Makassar,” ungkapnya dikutip Selasa (14/4/2026).
Rincian kecelakaan di Makassar, yakni Kecamatan Biringkanaya mencatat 390 kejadian (17 korban meninggal dan 458 luka-luka).
Panakkukang sebanyak 282 kejadian (15 meninggal, 347 luka-luka), Tamalanrea 249 kejadian (12 meninggal, 303 luka-luka), Tamalate 242 kejadian (10 meninggal, 323 luka-luka), Manggala 173 kejadian (10 meninggal, 235 luka-luka), serta Rappocini 172 kejadian (1 meninggal dan 215 luka-luka).
Sebagai upaya penanganan, kepolisian terus mengoptimalkan langkah preventif hingga penegakan hukum, termasuk penerapan tilang elektronik (ETLE) di sejumlah titik di Sulsel, khususnya di Makassar dan Gowa.
“Kami sudah melakukan upaya-upaya pre-emptive, preventive, pembinaan, pencegahan maupun represif di wilayah tersebut,” jelas Pria Budi.
Meski tren kecelakaan di Sulsel mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, jumlah korban jiwa masih menjadi perhatian.
Pada 2025, tercatat 7.144 kasus kecelakaan, turun dari 7.884 kasus pada 2024. Namun, angka kematian masih mencapai 807 orang.
Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menekan angka kecelakaan di Sulsel.
“Harus memang dilakukan secara kolaborasi dengan lintas sektor,” tegas Awaluddin.
Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan secara bersama agar hasilnya lebih konkret dan terukur.
Dengan tingginya angka tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih disiplin dan mematuhi aturan lalu lintas demi keselamatan bersama.
Untuk penanganan korban, Jasa Raharja telah menyalurkan santunan sebesar Rp14,70 miliar bagi korban meninggal dunia, Rp16,59 miliar untuk korban luka-luka, serta Rp165 juta untuk korban cacat tetap dan lainnya.

