Ini Menu Sahur dan Berbuka Ala Rasulullah SAW, Sederhana tapi Penuh Keberkahan

SulawesiPos.com – Puasa Ramadan tidak hanya mengajarkan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga meneladani kesederhanaan Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan sehari-hari.’

Salah satu sunnah yang patut dicontoh adalah kebiasaan Nabi Muhammad SAW dalam memilih menu sahur dan berbuka puasa.

Dengan pola makan yang sederhana namun sarat makna, Rasulullah SAW menunjukkan bahwa keberkahan tidak terletak pada banyaknya hidangan, melainkan pada niat dan adabnya.

Nah, berikut meni sahur dan berbuka ala Rasulullah SAW yang bisa dilaksanakan untuk mendapatkan keberkahan.

Menu Sahur dan Berbuka Ala Rasulullah SAW

Pilihan menu Rasulullah SAW dalam sahur dan berbuka sangat sederhana, mudah didapat, dan jauh dari sikap berlebihan.

Berikut perinciannya:

1. Sahur dan Berbuka dengan Kurma atau Air Putih

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk memulai iftar dengan ruthab (kurma setengah matang).

Apabila tidak tersedia, maka berbuka dengan kurma kering, dan jika keduanya tidak ada, cukup dengan meminum air putih.

Kebiasaan ini didasarkan langsung pada praktik Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh para sahabat.

Abu Daud (2356) dan Tirmidzi (696) telah meriwayatkan dari Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

BACA JUGA: 
Warung Kelontong di Tamalate Dibobol Saat Ramadan, Aksi Pelaku Terekam CCTV

” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ ” وصححه الألباني في “صحيح أبي داود” .

“Bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu berbuka dengan beberapa ruthab sebelum shalat, jika tidak ada ruthab maka dengan beberapa kurma dan jika tidak ada juga maka meneguk beberapa tegukan air”. [Dishahihkan oleh Albani dalam Shahih Abu Daud]

Adapun saat sahur, Rasulullah SAW cukup makan beberapa suap sekadar untuk menguatkan tubuh.

Beliau tidak mengkhususkan jenis makanan tertentu, kecuali kurma yang memang memiliki keutamaan tersendiri.

Hal ini ditegaskan dalam sabda Nabi SAW berikut:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ رواه أبو داود (2345) وصححه الألباني في “صحيح أبي داود”

“Sebaik-baik makanan sahurnya orang mukmin adalah kurma”. [HR. Abu Daud: 2345 dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih Abu Daud]

2. Berbuka dengan Kurma Berjumlah Ganjil

Selain jenis makanan, sebagian ulama juga menyinggung kebiasaan berbuka dengan jumlah kurma ganjil.

Terdapat riwayat yang menyebutkan Nabi SAW menyukai berbuka dengan tiga butir kurma, meski kualitas hadits tersebut dinilai lemah.

BACA JUGA: 
Es Krim Kurma: Manis, Segar, dan Super Mudah Dibuat di Rumah untuk Buka Puasa

Namun demikian, konsep bilangan ganjil memiliki dasar umum dalam ajaran Islam.

Adapun hadits Anas, bahwa dia berkata:

” كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ أَنْ يُفْطِرَ عَلَى ثَلَاثِ تَمَرَاتٍ ، أَوْ شَيْءٍ لَمْ تُصِبْهُ النَّارُ ” فرواه أبو يعلى (3305) ، فهو حديث ضعيف لا يثبت ، انظر : “الضعيفة” للألباني (966) .

“Bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyukai untuk berbuka dengan tiga kurma atau dengan sesuatu yang tidak tersentuh oleh api (tidak dimasak)”. [HR. Abu Ya’la: 3305, hadits ini dha’if tidak bisa dipastikan]

Sejumlah ulama memandang bilangan ganjil sebagai bagian dari sunnah secara umum.

Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW yang menyatakan bahwa Allah menyukai sesuatu yang ganjil.

Abdur Razzaq (5/498) telah meriwayatkan dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ ، قَالَ أَيُّوبُ: ” فَكَانَ ابْنُ سِيرِينَ يَسْتَحِبُّ الْوِتْرَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى لَيَأْكُلَ وِتْرًا ” وهذا إسناد صحيح

“Sesungguhnya Allah adalah ganjil dan menyukai yang ganjil”. Ayyub berkata: “Maka Ibnu Sirin menyukai yang ganjil dalam semua hal, bahkan dalam hal makan beliau lakukan dengan bilangan ganjil”. [Riwayat ini sanadnya shahih]

BACA JUGA: 
Hugo Ekitike Bicara Makna Ramadan di Liverpool: Puasa Bikin Lebih Tenang dan Fokus

3. Makan Apa yang Tersedia, Tanpa Berlebihan

Petunjuk Rasulullah SAW dalam urusan makan, baik saat sahur maupun berbuka, sangat jauh dari sikap berlebih-lebihan.

Beliau makan sekadar untuk menjaga kekuatan fisik, bukan untuk memuaskan hawa nafsu.

Tidak ada pola makan kaku atau menu khusus yang harus selalu diikuti.

Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan yang dihidangkan kepadanya.

Jika makanan tersebut disukai, beliau memakannya, dan jika tidak, beliau meninggalkannya tanpa komentar.

Beliau juga pernah mengonsumsi berbagai jenis makanan seperti daging, roti, minyak, madu, susu, sesuai yang tersedia saat itu.

Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan, Rasulullah SAW dan keluarganya pernah melewati hari-hari tanpa makanan selain kurma dan air.

Hal ini menunjukkan kesederhanaan hidup beliau dan fokus utama pada urusan akhirat.

Intinya, Rasulullah SAW makan dari apa yang ada, tanpa memilih-milih, dengan tetap memulai berbuka menggunakan kurma atau air sebagaimana sunnah yang telah diajarkan.

SulawesiPos.com – Puasa Ramadan tidak hanya mengajarkan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga meneladani kesederhanaan Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan sehari-hari.’

Salah satu sunnah yang patut dicontoh adalah kebiasaan Nabi Muhammad SAW dalam memilih menu sahur dan berbuka puasa.

Dengan pola makan yang sederhana namun sarat makna, Rasulullah SAW menunjukkan bahwa keberkahan tidak terletak pada banyaknya hidangan, melainkan pada niat dan adabnya.

Nah, berikut meni sahur dan berbuka ala Rasulullah SAW yang bisa dilaksanakan untuk mendapatkan keberkahan.

Menu Sahur dan Berbuka Ala Rasulullah SAW

Pilihan menu Rasulullah SAW dalam sahur dan berbuka sangat sederhana, mudah didapat, dan jauh dari sikap berlebihan.

Berikut perinciannya:

1. Sahur dan Berbuka dengan Kurma atau Air Putih

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk memulai iftar dengan ruthab (kurma setengah matang).

Apabila tidak tersedia, maka berbuka dengan kurma kering, dan jika keduanya tidak ada, cukup dengan meminum air putih.

Kebiasaan ini didasarkan langsung pada praktik Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh para sahabat.

Abu Daud (2356) dan Tirmidzi (696) telah meriwayatkan dari Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

BACA JUGA: 
Warung Kelontong di Tamalate Dibobol Saat Ramadan, Aksi Pelaku Terekam CCTV

” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ ” وصححه الألباني في “صحيح أبي داود” .

“Bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu berbuka dengan beberapa ruthab sebelum shalat, jika tidak ada ruthab maka dengan beberapa kurma dan jika tidak ada juga maka meneguk beberapa tegukan air”. [Dishahihkan oleh Albani dalam Shahih Abu Daud]

Adapun saat sahur, Rasulullah SAW cukup makan beberapa suap sekadar untuk menguatkan tubuh.

Beliau tidak mengkhususkan jenis makanan tertentu, kecuali kurma yang memang memiliki keutamaan tersendiri.

Hal ini ditegaskan dalam sabda Nabi SAW berikut:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ رواه أبو داود (2345) وصححه الألباني في “صحيح أبي داود”

“Sebaik-baik makanan sahurnya orang mukmin adalah kurma”. [HR. Abu Daud: 2345 dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih Abu Daud]

2. Berbuka dengan Kurma Berjumlah Ganjil

Selain jenis makanan, sebagian ulama juga menyinggung kebiasaan berbuka dengan jumlah kurma ganjil.

Terdapat riwayat yang menyebutkan Nabi SAW menyukai berbuka dengan tiga butir kurma, meski kualitas hadits tersebut dinilai lemah.

BACA JUGA: 
Iftar Komunitas Muslim Manchester United di Old Trafford, Sepak Bola dan Spirit Ramadan Menyatu

Namun demikian, konsep bilangan ganjil memiliki dasar umum dalam ajaran Islam.

Adapun hadits Anas, bahwa dia berkata:

” كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ أَنْ يُفْطِرَ عَلَى ثَلَاثِ تَمَرَاتٍ ، أَوْ شَيْءٍ لَمْ تُصِبْهُ النَّارُ ” فرواه أبو يعلى (3305) ، فهو حديث ضعيف لا يثبت ، انظر : “الضعيفة” للألباني (966) .

“Bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyukai untuk berbuka dengan tiga kurma atau dengan sesuatu yang tidak tersentuh oleh api (tidak dimasak)”. [HR. Abu Ya’la: 3305, hadits ini dha’if tidak bisa dipastikan]

Sejumlah ulama memandang bilangan ganjil sebagai bagian dari sunnah secara umum.

Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW yang menyatakan bahwa Allah menyukai sesuatu yang ganjil.

Abdur Razzaq (5/498) telah meriwayatkan dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ ، قَالَ أَيُّوبُ: ” فَكَانَ ابْنُ سِيرِينَ يَسْتَحِبُّ الْوِتْرَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى لَيَأْكُلَ وِتْرًا ” وهذا إسناد صحيح

“Sesungguhnya Allah adalah ganjil dan menyukai yang ganjil”. Ayyub berkata: “Maka Ibnu Sirin menyukai yang ganjil dalam semua hal, bahkan dalam hal makan beliau lakukan dengan bilangan ganjil”. [Riwayat ini sanadnya shahih]

BACA JUGA: 
Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 18 Februari 2026

3. Makan Apa yang Tersedia, Tanpa Berlebihan

Petunjuk Rasulullah SAW dalam urusan makan, baik saat sahur maupun berbuka, sangat jauh dari sikap berlebih-lebihan.

Beliau makan sekadar untuk menjaga kekuatan fisik, bukan untuk memuaskan hawa nafsu.

Tidak ada pola makan kaku atau menu khusus yang harus selalu diikuti.

Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan yang dihidangkan kepadanya.

Jika makanan tersebut disukai, beliau memakannya, dan jika tidak, beliau meninggalkannya tanpa komentar.

Beliau juga pernah mengonsumsi berbagai jenis makanan seperti daging, roti, minyak, madu, susu, sesuai yang tersedia saat itu.

Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan, Rasulullah SAW dan keluarganya pernah melewati hari-hari tanpa makanan selain kurma dan air.

Hal ini menunjukkan kesederhanaan hidup beliau dan fokus utama pada urusan akhirat.

Intinya, Rasulullah SAW makan dari apa yang ada, tanpa memilih-milih, dengan tetap memulai berbuka menggunakan kurma atau air sebagaimana sunnah yang telah diajarkan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru