SulawesiPos.com – Memasuki awal tahun 2026, pergerakan harga emas dan perak menunjukkan sinyal pemulihan setelah sempat mengalami tekanan tajam di penghujung 2025.
Pada perdagangan Selasa (30/12/2025), menjelang penutupan tahun, emas berhasil bangkit dengan kenaikan 0,34 persen ke level US$4.346,20 per troy ons, setelah sehari sebelumnya terkoreksi lebih dari 4 persen akibat aksi jual besar-besaran jelang akhir tahun.
Perubahan arah pergerakan harga tersebut turut dipengaruhi oleh memburuknya sentimen geopolitik di kawasan Asia.
China dilaporkan menggelar latihan militer dengan tembakan langsung selama sekitar 10 jam di sekitar wilayah Taiwan, yang memicu kembali meningkatnya minat investor terhadap aset-aset aman seperti emas dan perak.
Memasuki perdagangan awal tahun pada Rabu (31/12/2025) pagi, pergerakan harga emas di pasar spot cenderung terbatas.
Hingga pukul 06.48 WIB, emas tercatat melemah tipis 0,23 persen ke posisi US$4.336,34 per troy ons.
Kondisi ini dinilai wajar sebagai bagian dari penyesuaian pasar setelah reli kuat sepanjang 2025.
Pada hari ini, Jumat (1/1/2026), harga emas terpantau relatif stagnan seiring masih liburnya sebagian besar pasar global dalam rangka perayaan tahun baru.
Aktivitas perdagangan yang minim membuat pergerakan harga mengacu pada posisi penutupan terakhir tanpa perubahan harian yang signifikan.
Awal 2026 pun menjadi fase penting bagi pelaku pasar untuk mencermati arah permintaan industri serta kebijakan moneter global ke depan.
Sepanjang 2025, emas mencatatkan kinerja impresif dengan penguatan sekitar 66 persen, tertinggi sejak 1979.
Kenaikan tersebut ditopang oleh pelonggaran suku bunga global, meningkatnya ketegangan geopolitik, mulai perdagangan Amerika Serikat dengan berbagai mitra, konflik Rusia-Ukraina, dinamika Timur Tengah hingga hubungan Washington dan Venezuela.
Sementara itu, pembelian agresif oleh bank sentral, serta derasnya aliran dana ke Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis emas turut menjadi faktor kenaikan harga emas.
Perak juga menikmati sentimen positif, terutama dari meningkatnya kebutuhan industri energi terbarukan dan teknologi.
Memasuki 2026, emas dan perak masih dinilai berpotensi menjadi instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Meski volatilitas jangka pendek sulit dihindari, kedua logam mulia tersebut tetap relevan sebagai penyeimbang portofolio di awal tahun baru. (ayi)

