Overview
- Mahasiswa KKN Tematik Unhas mengembangkan budidaya maggot BSF di Desa Anabannae, Sidrap, sebagai solusi pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular.
- Inovasi ini mampu menekan volume sampah hingga 80 persen sekaligus menghasilkan protein pakan ternak dan pupuk organik bernilai ekonomi.
- Program tersebut memperkuat ketahanan lingkungan dan membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat perdesaan secara berkelanjutan.
SulawesiPos.com – Di jantung Kabupaten Sidenreng Rappang, sebuah paradigma baru tentang pengelolaan limbah organik lahir sebagai jawaban atas tantangan krisis ekologi dan stagnasi ekonomi pedesaan.
Langkah militan dalam mengonversi sampah menjadi pundi-pundi rupiah ini dimotori oleh Kelompok KKN Tematik 115 Universitas Hasanuddin melalui integrasi bioteknologi serangga Hermetia illucens atau yang lebih dikenal sebagai Maggot Black Soldier Fly (BSF).
Inovasi ini bukan sekadar tren musiman, melainkan sebuah rekayasa sosial berbasis sains yang mampu mereduksi sampah organik hingga 80% sekaligus menghasilkan protein tinggi untuk pakan ternak.
“Kami datang tidak hanya membawa bibit pohon, tetapi membawa misi kedaulatan ekonomi melalui sistem circular economy yang mengubah bau sampah menjadi aroma kemakmuran,” tegas Fifi Fitriana, Koordinator Desa KKN 115 Unhas dengan nada optimis.
Tepat pada Sabtu, 31 Januari 2026, momentum transformasi ini mencapai puncaknya saat puluhan warga berkumpul di Kantor Desa Anabannae untuk membedah tuntas mekanika budidaya maggot bersama pakar kelautan dan perikanan, Muhammad Isra.
Data menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik hasil residu maggot (frass) dapat meningkatkan porositas tanah dan produktivitas tanaman hingga 30% dibandingkan penggunaan bahan kimia sintetis secara terus-menerus.

