SulawesiPos.com – Pemerintah Turki melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Alparslan Bayraktar pada Rabu (9/9/2026), menyerukan Qatar dan negara-negara Eropa menunjukkan kemauan politik untuk menghidupkan kembali proyek pipa gas sepanjang sekitar 2.000–2.200 kilometer dari Qatar melalui Turki menuju pasar Eropa.
Proyek itu sebagai jalur alternatif ekspor energi di tengah terganggunya pelayaran Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah, dengan Ankara menilai krisis energi saat ini dapat diubah menjadi momentum pembangunan koridor energi baru.
Media Türkiye Today, dalam laporan yang diterbitkan 9 September 2026, menyebut Bayraktar mengakui skema pembiayaan, perencanaan teknis, jalur pasti, dan konstruksi proyek tersebut belum ditetapkan sehingga dukungan politik negara-negara terkait menjadi prasyarat utama sebelum proyek bergerak menuju tahap konkret.
“Mari kita hubungkan Qatar melalui jaringan pipa ke jalur keluar alternatif bagi gas alamnya, dengan membawa gas melalui Turki menuju Turki dan Eropa,” kata Bayraktar dalam wawancara televisi sebagaimana dikutip Türkiye Today.
Gagasan tersebut memperoleh relevansi baru karena gangguan Selat Hormuz telah memperlihatkan betapa besarnya ketergantungan ekspor energi Qatar terhadap satu jalur laut strategis.
Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan sekitar 93 persen ekspor LNG Qatar pada 2025 melewati Selat Hormuz, sementara tidak tersedia jalur alternatif yang mampu membawa volume LNG tersebut ke pasar global dalam skala sebanding.
Qatar sendiri mengekspor lebih dari 112 miliar meter kubik LNG pada 2025 dan menjadi eksportir LNG terbesar kedua dunia, sementara hampir 90 persen LNG Qatar dan UEA yang melintasi Hormuz menuju Asia dan hanya sedikit di atas 10 persen menuju Eropa.
Ketergantungan tersebut membuat usulan Ankara bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan berpotensi menjadi instrumen diversifikasi risiko bagi Qatar sekaligus memperkuat posisi Turki sebagai simpul energi antara Teluk, Asia Barat, Kaukasus, dan Eropa.
Proyek Lama 2009 Bangkit dari Kubur Geopolitik
Gagasan menghubungkan ladang gas Qatar dengan Turki bukan proyek baru karena Doha telah mengusulkannya sejak 2009, ketika Qatar berupaya memperluas ekspor dari North Field, salah satu ladang gas terbesar dunia.
Salah satu skenario jalur saat itu dirancang melintasi Suriah sebelum mencapai Turki, tetapi pemerintahan Bashar al-Assad tidak mendukung rencana tersebut sehingga proyek tidak berkembang menjadi pembangunan nyata.
Gagasan itu memperoleh perhatian kembali setelah tumbangnya pemerintahan Assad pada Desember 2024, tetapi perubahan politik Suriah tidak dengan sendirinya menghilangkan persoalan keamanan, pembiayaan, perjanjian lintas batas, dan kelayakan komersial yang harus diselesaikan sebelum pipa dapat dibangun.
Proyek Qatar–Turki dahulu juga pernah dikaitkan dengan Nabucco, rencana pipa sepanjang sekitar 3.300 kilometer yang dimaksudkan membawa gas non-Rusia melalui Turki menuju Eropa Tengah.
Nabucco akhirnya ditinggalkan setelah gagal memperoleh pasokan gas dan dukungan komersial yang memadai, memberikan pelajaran bahwa kepentingan geopolitik saja tidak cukup untuk menjamin kelangsungan proyek energi lintas negara.
TANAP–TAP Jadi Model yang Ingin Diulang Ankara
Turki kemudian memperoleh posisi penting dalam arsitektur energi Eropa melalui Southern Gas Corridor, khususnya Trans-Anatolian Natural Gas Pipeline (TANAP) dan Trans Adriatic Pipeline (TAP).
TANAP membawa gas Azerbaijan melintasi Turki, sedangkan TAP meneruskan aliran tersebut melalui Yunani dan Albania menuju Italia, dengan kedua sistem memasuki operasi komersial penuh pada 2020.
Türkiye Today menyebut TANAP membawa sekitar 10 miliar meter kubik gas per tahun ke Eropa, sedangkan TAP pada awalnya dirancang berkapasitas sekitar 10 miliar meter kubik per tahun dan dapat diperluas hingga 20 miliar meter kubik.
Bayraktar menjadikan pengalaman TANAP dan TAP sebagai contoh bahwa proyek energi lintas negara membutuhkan keputusan geopolitik tingkat tinggi selain kelayakan teknis dan ekonomi.

