Turki Hidupkan “Jalur Gas Raksasa” Qatar–Eropa: Peta Energi Dunia Bisa Berubah

“Untuk membangun TANAP dan TAP diperlukan kemauan politik dan sikap politik,” kata Bayraktar sambil menyinggung kontribusi Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, negara-negara terkait, dan dukungan Uni Eropa.

Dalam pandangan Ankara, kondisi sekarang membuka kesempatan serupa karena negara-negara konsumen dan produsen sama-sama mencari rute yang tidak terlalu bergantung pada titik rawan geopolitik.

Hormuz Membuktikan Bahaya Ketergantungan Satu Jalur

Nilai strategis proyek Qatar–Turki semakin jelas setelah konflik Timur Tengah mengganggu perdagangan energi melalui Selat Hormuz dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

IEA mencatat lebih dari 110 miliar meter kubik LNG melintasi Hormuz pada 2025, setara hampir seperlima perdagangan LNG global, sehingga gangguan terhadap jalur sempit tersebut dengan cepat merambat menjadi persoalan keamanan energi internasional.

Laporan Gas Market Report Q3-2026 IEA menyebut arus LNG melalui Hormuz memang sempat meningkat setelah kesepakatan sementara Iran–Amerika Serikat pada Juni, tetapi volumenya masih jauh di bawah tingkat sebelum konflik dan waktu pemulihan penuh tetap tidak pasti.

BACA JUGA:  Tiongkok Kecam Blokade AS di Selat Hormuz, Dinilai Picu Eskalasi dan Ancaman Energi Global

Antara Maret dan Juni 2026, muatan LNG Qatar dan UEA bahkan turun sekitar 35 miliar meter kubik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, meskipun kenaikan produksi LNG dari Amerika Utara dan Afrika membantu menutup sebagian besar kekurangan tersebut.

IEA memperkirakan pasokan LNG gabungan Qatar dan UEA sepanjang 2026 dapat turun sekitar 45 persen atau 54 miliar meter kubik dibandingkan 2025 berdasarkan asumsi pemulihan yang digunakan dalam laporan Juli.

Krisis tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keamanan energi modern bukan hanya persoalan seberapa besar cadangan gas suatu negara, tetapi juga seberapa banyak jalur independen yang tersedia untuk membawa energi dari produsen menuju konsumen.

Gas Qatar Bisa Mengubah Posisi Turki terhadap Eropa

Apabila suatu hari berhasil direalisasikan, koridor Qatar–Turki berpotensi menambah pilihan pasokan bagi Eropa sekaligus meningkatkan posisi tawar Ankara sebagai negara transit energi.

Namun proyek tersebut tidak otomatis dapat menggantikan LNG Qatar yang selama ini dikirim melalui Hormuz karena kapasitas pipa, rute lintas negara, keamanan wilayah transit, kontrak jangka panjang LNG Qatar, kebutuhan domestik negara yang dilalui, dan biaya pembangunan harus dihitung secara terpisah.

BACA JUGA:  Turki Tekuk Amerika Serikat 3-2 Lewat Drama Lima Gol, Menang di Laga Terakhir Grup D

Perbedaan tersebut penting karena pipa gas adalah infrastruktur tetap yang menghubungkan produsen dengan pasar tertentu, sedangkan LNG menawarkan fleksibilitas pengiriman menggunakan kapal menuju berbagai terminal dunia.

Bahkan IEA mencatat hampir 90 persen LNG Qatar dan UEA yang melalui Hormuz pada 2025 menuju Asia, sehingga proyek pipa ke Eropa lebih tepat dipandang sebagai diversifikasi strategis, bukan pengganti total sistem ekspor LNG Qatar.

Di sinilah usulan Ankara memiliki dimensi geopolitik yang lebih luas karena Turki berupaya menempatkan wilayahnya sebagai persimpangan berbagai koridor energi dari Azerbaijan, Rusia, Irak, Teluk, dan potensial Asia Tengah menuju konsumen Eropa.

Ambisi Ankara tidak berhenti pada gas karena Bayraktar juga menawarkan pengembangan Ceyhan sebagai pusat minyak regional yang dapat menghubungkan produksi Irak dan berpotensi Kuwait dengan pasar Eropa.

Türkiye Today melaporkan kesepakatan Agustus memberi Irak akses hingga 750.000 barel per hari melalui pipa Irak–Turki, sementara Ankara menginginkan pemanfaatan lebih besar dari kapasitas sistem yang disebut mencapai 1,5 juta barel per hari.

BACA JUGA:  Pelayaran di Selat Hormuz Hampir Terhenti, Ketegangan AS-Iran Kembali Mengguncang Jalur Energi Dunia

Bayraktar bahkan menggambarkan kemungkinan membawa sebagian dari gabungan sekitar lima juta barel produksi minyak Irak dan Kuwait menuju Eropa melalui wilayah Turki.

“Lima juta barel, mari kita targetkan 50 persen; setengah dari lima juta barel, yakni 2,5 juta barel, dapat dengan mudah menuju Eropa melalui Turki,” ujarnya sebagaimana dikutip Türkiye Today.

“Untuk membangun TANAP dan TAP diperlukan kemauan politik dan sikap politik,” kata Bayraktar sambil menyinggung kontribusi Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, negara-negara terkait, dan dukungan Uni Eropa.

Dalam pandangan Ankara, kondisi sekarang membuka kesempatan serupa karena negara-negara konsumen dan produsen sama-sama mencari rute yang tidak terlalu bergantung pada titik rawan geopolitik.

Hormuz Membuktikan Bahaya Ketergantungan Satu Jalur

Nilai strategis proyek Qatar–Turki semakin jelas setelah konflik Timur Tengah mengganggu perdagangan energi melalui Selat Hormuz dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

IEA mencatat lebih dari 110 miliar meter kubik LNG melintasi Hormuz pada 2025, setara hampir seperlima perdagangan LNG global, sehingga gangguan terhadap jalur sempit tersebut dengan cepat merambat menjadi persoalan keamanan energi internasional.

Laporan Gas Market Report Q3-2026 IEA menyebut arus LNG melalui Hormuz memang sempat meningkat setelah kesepakatan sementara Iran–Amerika Serikat pada Juni, tetapi volumenya masih jauh di bawah tingkat sebelum konflik dan waktu pemulihan penuh tetap tidak pasti.

BACA JUGA:  Turki Tekuk Amerika Serikat 3-2 Lewat Drama Lima Gol, Menang di Laga Terakhir Grup D

Antara Maret dan Juni 2026, muatan LNG Qatar dan UEA bahkan turun sekitar 35 miliar meter kubik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, meskipun kenaikan produksi LNG dari Amerika Utara dan Afrika membantu menutup sebagian besar kekurangan tersebut.

IEA memperkirakan pasokan LNG gabungan Qatar dan UEA sepanjang 2026 dapat turun sekitar 45 persen atau 54 miliar meter kubik dibandingkan 2025 berdasarkan asumsi pemulihan yang digunakan dalam laporan Juli.

Krisis tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keamanan energi modern bukan hanya persoalan seberapa besar cadangan gas suatu negara, tetapi juga seberapa banyak jalur independen yang tersedia untuk membawa energi dari produsen menuju konsumen.

Gas Qatar Bisa Mengubah Posisi Turki terhadap Eropa

Apabila suatu hari berhasil direalisasikan, koridor Qatar–Turki berpotensi menambah pilihan pasokan bagi Eropa sekaligus meningkatkan posisi tawar Ankara sebagai negara transit energi.

Namun proyek tersebut tidak otomatis dapat menggantikan LNG Qatar yang selama ini dikirim melalui Hormuz karena kapasitas pipa, rute lintas negara, keamanan wilayah transit, kontrak jangka panjang LNG Qatar, kebutuhan domestik negara yang dilalui, dan biaya pembangunan harus dihitung secara terpisah.

BACA JUGA:  Iran Ungkap Negara Sahabat yang Diizinkan Melintas Selat Hormuz di Tengah Konflik

Perbedaan tersebut penting karena pipa gas adalah infrastruktur tetap yang menghubungkan produsen dengan pasar tertentu, sedangkan LNG menawarkan fleksibilitas pengiriman menggunakan kapal menuju berbagai terminal dunia.

Bahkan IEA mencatat hampir 90 persen LNG Qatar dan UEA yang melalui Hormuz pada 2025 menuju Asia, sehingga proyek pipa ke Eropa lebih tepat dipandang sebagai diversifikasi strategis, bukan pengganti total sistem ekspor LNG Qatar.

Di sinilah usulan Ankara memiliki dimensi geopolitik yang lebih luas karena Turki berupaya menempatkan wilayahnya sebagai persimpangan berbagai koridor energi dari Azerbaijan, Rusia, Irak, Teluk, dan potensial Asia Tengah menuju konsumen Eropa.

Ambisi Ankara tidak berhenti pada gas karena Bayraktar juga menawarkan pengembangan Ceyhan sebagai pusat minyak regional yang dapat menghubungkan produksi Irak dan berpotensi Kuwait dengan pasar Eropa.

Türkiye Today melaporkan kesepakatan Agustus memberi Irak akses hingga 750.000 barel per hari melalui pipa Irak–Turki, sementara Ankara menginginkan pemanfaatan lebih besar dari kapasitas sistem yang disebut mencapai 1,5 juta barel per hari.

BACA JUGA:  Tiongkok Kecam Blokade AS di Selat Hormuz, Dinilai Picu Eskalasi dan Ancaman Energi Global

Bayraktar bahkan menggambarkan kemungkinan membawa sebagian dari gabungan sekitar lima juta barel produksi minyak Irak dan Kuwait menuju Eropa melalui wilayah Turki.

“Lima juta barel, mari kita targetkan 50 persen; setengah dari lima juta barel, yakni 2,5 juta barel, dapat dengan mudah menuju Eropa melalui Turki,” ujarnya sebagaimana dikutip Türkiye Today.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru