Ankara membayangkan Ceyhan berkembang bukan hanya sebagai terminal transit, tetapi sebagai kawasan energi yang menggabungkan jaringan pipa dengan penyimpanan, pengilangan, dan industri petrokimia.
Harga Minyak US$100: Alarm dari Selat Hormuz
Dorongan Turki muncul ketika eskalasi terbaru di sekitar Hormuz kembali mengguncang pasar energi dunia.
Reuters pada 9 September 2026 melaporkan minyak Brent ditutup pada US$101,21 per barel, setelah serangkaian serangan terhadap kapal dan eskalasi Iran–Amerika Serikat meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan dari Teluk.
Reuters juga melaporkan arus minyak mentah melalui Hormuz, yang sebelum konflik membawa sekitar seperlima minyak dunia, telah merosot menjadi kurang dari dua juta barel per hari dalam kondisi terbaru.
Pada Kamis, 10 September, Brent masih bertahan sekitar US$100,50 per barel, memperlihatkan bahwa risiko geopolitik Hormuz tetap menjadi faktor penting dalam pembentukan harga energi global.
Kenaikan harga energi tidak berhenti di pasar minyak karena guncangan pasokan gas dapat menjalar ke biaya listrik, pupuk, petrokimia, transportasi, produksi industri, dan pada akhirnya inflasi yang dibayar rumah tangga.
IEA bahkan memperkirakan permintaan gas global turun sekitar 0,5 persen pada 2026, terutama akibat pasokan yang lebih ketat dan harga tinggi yang menekan konsumsi sektor listrik dan industri.
Turki Membangun “Jaring Laba-Laba” Energi Baru
Pada saat menawarkan jalur Qatar–Eropa, Ankara juga memperkuat produksi domestiknya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Bayraktar mengatakan Turki menargetkan produksi gas Laut Hitam meningkat dua kali lipat pada akhir 2026 dan empat kali lipat pada 2028 hingga mencapai sekitar 16–17 miliar meter kubik per tahun.
Volume tersebut menurut perhitungan pemerintah Turki akan setara sekitar 80 persen dari 20–22 miliar meter kubik gas yang saat ini diimpor negara itu dari Rusia.
Turki juga mengoperasikan armada enam kapal pengeboran laut dalam, dengan aktivitas eksplorasi berlangsung di Laut Hitam dan Somalia serta rencana pengeboran sumur minyak baru di bagian barat Laut Hitam.
Di sektor listrik, Ankara berencana memperluas interkoneksi dengan Azerbaijan, Georgia dan negara-negara Turkik Asia Tengah sekaligus meningkatkan kapasitas jaringan dengan Bulgaria dan Yunani.
Strategi tersebut memperlihatkan bahwa tujuan jangka panjang Turki bukan sekadar menjadi konsumen atau negara transit, melainkan membangun ekosistem energi multidirectional yang menghubungkan sumber daya dari berbagai kawasan dengan pasar Eropa.
Krisis Hormuz Bisa Menggambar Ulang Peta Energi Dunia
Usulan pipa Qatar–Turki menunjukkan bagaimana konflik di sebuah selat yang lebarnya hanya puluhan kilometer pada titik tersempit jalur pelayarannya dapat mendorong negara-negara merancang infrastruktur energi sepanjang ribuan kilometer.
Proyek tersebut masih jauh dari kepastian karena keputusan investasi membutuhkan studi kelayakan, kesepakatan Qatar dan negara transit, stabilitas keamanan, pembeli jangka panjang, skema pembiayaan, serta perhitungan apakah harga gas melalui pipa dapat bersaing dengan LNG.
Namun krisis 2026 telah memberikan argumen strategis yang sebelumnya jauh lebih lemah, yakni bahwa biaya membangun jalur energi alternatif harus dibandingkan bukan hanya dengan harga normal pengiriman melalui Hormuz, tetapi juga dengan kerugian ekonomi ketika Hormuz terganggu.
IEA menyebut konflik Timur Tengah tahun ini sebagai gangguan besar bagi pasar gas internasional dan menegaskan perlunya memperkuat arsitektur keamanan pasokan global melalui investasi, diversifikasi kontrak, dan kerja sama produsen-konsumen.
Bila Qatar, Turki, negara-negara transit dan Eropa akhirnya menemukan formula politik serta ekonomi yang layak, pipa yang selama hampir dua dekade hanya menjadi gagasan dapat berubah menjadi salah satu koridor energi strategis baru antara Teluk dan Eropa.

