Amran Jadi Menteri dengan Kinerja Terbaik, KAMMI: Petani Tahu Siapa yang Bekerja untuk Mereka

SulawesiPos.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali menempati posisi teratas sebagai menteri dengan kinerja terbaik di Kabinet Merah Putih.

Berdasarkan Government Performance Assessment IndexPolitica Indonesia yang dirilis September 2026, Amran memperoleh skor 91, mengungguli Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani dengan skor 89, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa 87, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti 86, serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin 85.

Penilaian tersebut tidak didasarkan pada popularitas. IndexPolitica menggunakan pendekatan Evidence-Based Government Performance Evaluation dengan metode Multi-Criteria Decision Analysis. Data penilaian bersumber dari dokumen pemerintah dan statistik sektoral.

Ketua Umum PP KAMMI Ahmad Jundi Khalifatullah mengatakan capaian tersebut layak diapresiasi karena sejalan dengan sejumlah indikator konkret di sektor pertanian.

“Petani tahu siapa yang bekerja untuk mereka. Ketika produksi meningkat, pupuk diperkuat, dan harga gabah dijaga, petani bisa melihat langsung keberpihakan pemerintah. Karena itu kami mengapresiasi kinerja Pak Amran yang terus berada bersama petani,” ujar Jundi.

BACA JUGA:  Mentan Amran Tekankan Kolaborasi TNI dan Sektor Pertanian untuk Ketahanan Pangan Nasional

Jundi menilai penghargaan sebagai menteri dengan kinerja terbaik harus menjadi energi untuk memperkuat kebijakan yang sudah berjalan.

“Kami berharap capaian ini terus dijaga. Produksi pangan harus semakin kuat dan pada saat yang sama pendapatan petani harus semakin meningkat. Karena pada akhirnya, keberhasilan pertanian bukan hanya soal berapa banyak pangan yang diproduksi, tetapi juga seberapa besar manfaat ekonomi yang diterima petani,” katanya.

Sementara itu, Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan PP KAMMI Aulia Furqon mengatakan kinerja Amran memiliki basis capaian yang cukup jelas jika dilihat dari perkembangan produksi pangan nasional.

Ia merujuk pada data BPS yang mencatat produksi padi Indonesia pada 2025 mencapai 60,21 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka tersebut meningkat 7,06 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 53,14 juta ton GKG.

Produksi beras untuk konsumsi penduduk juga meningkat dari 30,62 juta ton menjadi 34,69 juta ton, atau bertambah 4,07 juta ton. Pada saat yang sama, luas panen meningkat dari 10,05 juta hektare menjadi 11,32 juta hektare.

BACA JUGA:  Beras Fortifikasi Tak Sesuai Klaim, Mentan: Ini Bukan Keuntungan, tapi Penipuan

“Ini yang harus kita lihat secara objektif. Ketika produksi padi 2025 mencapai 60,21 juta ton dan naik 13,29 persen dalam satu tahun, tentu ada kerja kebijakan yang tidak bisa diabaikan. Ada petani yang menanam, ada penyuluh yang mendampingi, ada pupuk yang harus tersedia, ada irigasi, ada lahan yang harus dioptimalkan, dan ada pemerintah yang mengorkestrasi semuanya,” kata Aulia.

Menurutnya, peningkatan produksi tersebut semakin penting karena terjadi bersamaan dengan penguatan dukungan pemerintah terhadap sarana produksi.

“Pemerintah menaikkan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton pada 2025, dari sebelumnya sekitar 4,5 juta ton. Ini kenaikan sekitar 100 persen. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak sekadar meminta petani meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat salah satu kebutuhan utama mereka dari sisi input,” jelasnya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali menempati posisi teratas sebagai menteri dengan kinerja terbaik di Kabinet Merah Putih.

Aulia menilai reformasi tata kelola pupuk juga menjadi bagian penting dari kinerja Amran. Pemerintah menyederhanakan mekanisme distribusi agar pupuk lebih mudah diterima petani. Pada 2026, alokasi pupuk bersubsidi juga tetap berada di angka 9,55 juta ton. Hingga 25 Juni 2026, realisasi penyaluran mencapai 54,28 persen dari alokasi tersebut.

BACA JUGA:  Kementan Gerak Cepat Tangani Kekeringan di Subang, Sumur Submersible dan 16 Pompa Disiagakan

SulawesiPos.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali menempati posisi teratas sebagai menteri dengan kinerja terbaik di Kabinet Merah Putih.

Berdasarkan Government Performance Assessment IndexPolitica Indonesia yang dirilis September 2026, Amran memperoleh skor 91, mengungguli Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani dengan skor 89, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa 87, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti 86, serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin 85.

Penilaian tersebut tidak didasarkan pada popularitas. IndexPolitica menggunakan pendekatan Evidence-Based Government Performance Evaluation dengan metode Multi-Criteria Decision Analysis. Data penilaian bersumber dari dokumen pemerintah dan statistik sektoral.

Ketua Umum PP KAMMI Ahmad Jundi Khalifatullah mengatakan capaian tersebut layak diapresiasi karena sejalan dengan sejumlah indikator konkret di sektor pertanian.

“Petani tahu siapa yang bekerja untuk mereka. Ketika produksi meningkat, pupuk diperkuat, dan harga gabah dijaga, petani bisa melihat langsung keberpihakan pemerintah. Karena itu kami mengapresiasi kinerja Pak Amran yang terus berada bersama petani,” ujar Jundi.

BACA JUGA:  Guru Besar IPB: Beras Fortifikasi Adalah Hak Masyarakat

Jundi menilai penghargaan sebagai menteri dengan kinerja terbaik harus menjadi energi untuk memperkuat kebijakan yang sudah berjalan.

“Kami berharap capaian ini terus dijaga. Produksi pangan harus semakin kuat dan pada saat yang sama pendapatan petani harus semakin meningkat. Karena pada akhirnya, keberhasilan pertanian bukan hanya soal berapa banyak pangan yang diproduksi, tetapi juga seberapa besar manfaat ekonomi yang diterima petani,” katanya.

Sementara itu, Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan PP KAMMI Aulia Furqon mengatakan kinerja Amran memiliki basis capaian yang cukup jelas jika dilihat dari perkembangan produksi pangan nasional.

Ia merujuk pada data BPS yang mencatat produksi padi Indonesia pada 2025 mencapai 60,21 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka tersebut meningkat 7,06 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 53,14 juta ton GKG.

Produksi beras untuk konsumsi penduduk juga meningkat dari 30,62 juta ton menjadi 34,69 juta ton, atau bertambah 4,07 juta ton. Pada saat yang sama, luas panen meningkat dari 10,05 juta hektare menjadi 11,32 juta hektare.

BACA JUGA:  Kementan Dorong Percepatan Hilirisasi Ayam Terintegrasi untuk Perkuat Peternak Rakyat

“Ini yang harus kita lihat secara objektif. Ketika produksi padi 2025 mencapai 60,21 juta ton dan naik 13,29 persen dalam satu tahun, tentu ada kerja kebijakan yang tidak bisa diabaikan. Ada petani yang menanam, ada penyuluh yang mendampingi, ada pupuk yang harus tersedia, ada irigasi, ada lahan yang harus dioptimalkan, dan ada pemerintah yang mengorkestrasi semuanya,” kata Aulia.

Menurutnya, peningkatan produksi tersebut semakin penting karena terjadi bersamaan dengan penguatan dukungan pemerintah terhadap sarana produksi.

“Pemerintah menaikkan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton pada 2025, dari sebelumnya sekitar 4,5 juta ton. Ini kenaikan sekitar 100 persen. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak sekadar meminta petani meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat salah satu kebutuhan utama mereka dari sisi input,” jelasnya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali menempati posisi teratas sebagai menteri dengan kinerja terbaik di Kabinet Merah Putih.

Aulia menilai reformasi tata kelola pupuk juga menjadi bagian penting dari kinerja Amran. Pemerintah menyederhanakan mekanisme distribusi agar pupuk lebih mudah diterima petani. Pada 2026, alokasi pupuk bersubsidi juga tetap berada di angka 9,55 juta ton. Hingga 25 Juni 2026, realisasi penyaluran mencapai 54,28 persen dari alokasi tersebut.

BACA JUGA:  Proyek Ayam Terintegrasi Rp20 Triliun Digeber, Pemerintah Janjikan Solusi Permanen Harga DOC

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru