“Ketika produksi padi naik 13,29 persen, pupuk bersubsidi diperkuat menjadi 9,55 juta ton, HPP gabah dijaga Rp6.500, dan indikator NTP tetap berada di atas 100, kita punya cukup alasan untuk mengatakan bahwa ada kebijakan yang bekerja. Tentu masih banyak pekerjaan rumah. Tetapi jangan sampai keberhasilan yang nyata justru ditutup oleh narasi yang tidak melihat data,” tegas Aulia.
Menurutnya, kritik terhadap pemerintah tetap diperlukan. Namun kritik harus berbasis data dan tidak mengabaikan capaian yang telah dirasakan petani.
“Kami terbuka terhadap evaluasi. Tetapi evaluasi harus adil. Kalau ada kekurangan, kita kritik dan perbaiki. Kalau ada capaian, kita juga harus berani mengakui. Jangan karena kepentingan politik lalu kerja keras petani dan pemerintah di lapangan diabaikan,” pungkasnya.
KAMMI menilai penghargaan IndexPolitica kepada Amran bukan sekadar pengakuan terhadap seorang menteri. Penilaian tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kebijakan yang menempatkan petani sebagai pusat pembangunan pangan.
Produksi meningkat. Pupuk diperkuat. Harga gabah dijaga. Indikator petani bergerak positif.
Bagi KAMMI, data tersebut menunjukkan bahwa Amran tidak hanya berbicara tentang petani. Ia bekerja bersama petani.
Dan petani adalah pihak yang paling tahu siapa yang benar-benar bekerja untuk mereka.

