Jalan Sultan Daeng Raja, Jejak Pahlawan Nasional yang Menolak Tunduk kepada Belanda

SulawesiPos.com – Jalan Sultan Daeng Raja membentang sekitar 700 meter di kawasan Kota Makassar, menghubungkan Jalan Masjid Raya dengan Jalan Langgau.

Di sepanjang ruas jalan ini, aktivitas kota berjalan seperti biasa, mulai dari kedai kopi, kawasan pendidikan hingga fasilitas olahraga.

Namun, di balik nama jalan tersebut terdapat kisah panjang seorang tokoh Sulawesi Selatan yang melewati masa kolonial, menyaksikan lahirnya Republik Indonesia, hingga dipenjara karena menolak bekerja sama dengan Belanda.

Tokoh itu adalah Andi Sultan Daeng Radja, putra Gantarang, Bulukumba, yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada 2006.

Ia lahir di Matekko, Gantarang, pada 20 Mei 1894 dan tumbuh dalam lingkungan keluarga bangsawan Gantarang.

Dari Sekolah Pegawai Kolonial ke Gerakan Kebangsaan

Sultan Daeng Radja

Jalan perjuangan Sultan Daeng Radja justru berawal dari lingkungan pendidikan yang dibentuk pemerintah kolonial.

Ia menempuh pendidikan Volksschool di Bulukumba selama tiga tahun, kemudian melanjutkan ke Europeesche Lagere School (ELS) di Bantaeng. Setelah itu, ia bersekolah di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Makassar.

BACA JUGA:  Mengenal Tokoh Sulawesi Selatan dari Berbagai Masa: Jejak Kepemimpinan yang Membentuk Indonesia

Pendidikan tersebut membawanya masuk ke lingkungan birokrasi pemerintahan kolonial. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia sempat bekerja sebagai juru tulis pemerintahan hingga menduduki sejumlah jabatan di berbagai daerah, sebelum menjadi jaksa pada Landraad Bulukumba.

Namun, pengalaman berada di dalam sistem pemerintahan kolonial tidak membuatnya menerima begitu saja kebijakan Belanda. Dari masa OSVIA, sikap kritisnya terhadap kesewenangan dan penindasan terhadap rakyat Bulukumba mulai tumbuh.

Pemikirannya kemudian berkembang seiring perhatiannya terhadap organisasi kebangsaan di Jawa, termasuk Budi Utomo dan Sarekat Dagang Islam.

Sultan Daeng Radja bahkan secara diam-diam berangkat mengikuti Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda itu memperkuat gagasan kebangsaan yang dibawanya hingga masa berikutnya.

Membawa Kabar Kemerdekaan ke Bulukumba

Peran Sultan Daeng Radja memasuki babak penting ketika Indonesia berada di ambang kemerdekaan.

Pada Agustus 1945, ia menjadi bagian dari delegasi Sulawesi Selatan yang berangkat ke Jakarta untuk mengikuti rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

BACA JUGA:  Jalan Bau Massepe: Sering Dilewati, Jarang Dikenal, Ini Kisah Pahlawan di Balik Namanya

Ia bersama Dr. Sam Ratulangi dan Andi Pangerang Petta Rani menjadi bagian dari perwakilan Sulawesi dalam momentum penting tersebut.

SulawesiPos.com – Jalan Sultan Daeng Raja membentang sekitar 700 meter di kawasan Kota Makassar, menghubungkan Jalan Masjid Raya dengan Jalan Langgau.

Di sepanjang ruas jalan ini, aktivitas kota berjalan seperti biasa, mulai dari kedai kopi, kawasan pendidikan hingga fasilitas olahraga.

Namun, di balik nama jalan tersebut terdapat kisah panjang seorang tokoh Sulawesi Selatan yang melewati masa kolonial, menyaksikan lahirnya Republik Indonesia, hingga dipenjara karena menolak bekerja sama dengan Belanda.

Tokoh itu adalah Andi Sultan Daeng Radja, putra Gantarang, Bulukumba, yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada 2006.

Ia lahir di Matekko, Gantarang, pada 20 Mei 1894 dan tumbuh dalam lingkungan keluarga bangsawan Gantarang.

Dari Sekolah Pegawai Kolonial ke Gerakan Kebangsaan

Sultan Daeng Radja

Jalan perjuangan Sultan Daeng Radja justru berawal dari lingkungan pendidikan yang dibentuk pemerintah kolonial.

Ia menempuh pendidikan Volksschool di Bulukumba selama tiga tahun, kemudian melanjutkan ke Europeesche Lagere School (ELS) di Bantaeng. Setelah itu, ia bersekolah di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Makassar.

BACA JUGA:  Jalan Bau Massepe: Sering Dilewati, Jarang Dikenal, Ini Kisah Pahlawan di Balik Namanya

Pendidikan tersebut membawanya masuk ke lingkungan birokrasi pemerintahan kolonial. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia sempat bekerja sebagai juru tulis pemerintahan hingga menduduki sejumlah jabatan di berbagai daerah, sebelum menjadi jaksa pada Landraad Bulukumba.

Namun, pengalaman berada di dalam sistem pemerintahan kolonial tidak membuatnya menerima begitu saja kebijakan Belanda. Dari masa OSVIA, sikap kritisnya terhadap kesewenangan dan penindasan terhadap rakyat Bulukumba mulai tumbuh.

Pemikirannya kemudian berkembang seiring perhatiannya terhadap organisasi kebangsaan di Jawa, termasuk Budi Utomo dan Sarekat Dagang Islam.

Sultan Daeng Radja bahkan secara diam-diam berangkat mengikuti Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda itu memperkuat gagasan kebangsaan yang dibawanya hingga masa berikutnya.

Membawa Kabar Kemerdekaan ke Bulukumba

Peran Sultan Daeng Radja memasuki babak penting ketika Indonesia berada di ambang kemerdekaan.

Pada Agustus 1945, ia menjadi bagian dari delegasi Sulawesi Selatan yang berangkat ke Jakarta untuk mengikuti rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

BACA JUGA:  Jalan Sultan Abdullah Makassar: Kisah Karaeng Matoaya, Raja Tallo yang Berpengaruh

Ia bersama Dr. Sam Ratulangi dan Andi Pangerang Petta Rani menjadi bagian dari perwakilan Sulawesi dalam momentum penting tersebut.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru