El Niño Diprediksi Tembus 3 Derajat, 2027 Akan Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah Bumi

SulawesiPos.com – Badan Meteorologi Inggris atau Met Office pada Jumat (21/8/2026), memperingatkan masyarakat dunia bahwa El Niño yang sedang menguat di Samudra Pasifik sangat berpeluang menjadikan 2027 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan modern karena anomali suhu laut diprakirakan menembus lebih dari 3 derajat Celsius dan melepaskan cadangan panas raksasa ke atmosfer di atas pemanasan global akibat aktivitas manusia.

Peringatan tersebut diberitakan oleh WION melalui laporan Jatin Verma pada 21 Agustus 2026, kemudian diperkuat laporan AFP, The Guardian, NOAA, Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO, dan data resmi Met Office Inggris.

Kepala Prakiraan Jangka Panjang Met Office Profesor Adam Scaife menyebut sinyal El Niño dalam model terbaru sebagai peristiwa yang belum pernah ia saksikan sepanjang kariernya.

“Kami memperkirakan El Niño terbesar dalam lebih dari satu abad, dengan puncak sedikit di atas 3 derajat Celsius, tingkat yang belum pernah terlihat dalam catatan iklim modern,” kata Scaife kepada BBC sebagaimana dikutip AFP dan The Guardian.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulawesi Selatan Besok, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah

Met Office menilai tambahan panas dari El Niño yang diperkirakan mencapai puncaknya pada musim dingin Belahan Bumi Utara 2026–2027 akan paling terasa pada suhu rata-rata global sepanjang 2027, sehingga tahun itu sangat mungkin melampaui rekor panas 2024.

Tahun 2024 saat ini menjadi tahun terpanas dalam catatan observasi global dengan suhu rata-rata permukaan sekitar 1,55 derajat Celsius di atas tingkat praindustri 1850–1900, sedangkan 2025 tercatat sebagai tahun terpanas kedua atau ketiga menurut WMO.

Jika prakiraan terbaru terwujud, suhu rata-rata global selama 2027 dapat mendekati 1,7 derajat Celsius di atas tingkat praindustri, meskipun angka pastinya masih bergantung pada perkembangan El Niño, kondisi samudra lain, aktivitas vulkanik, aerosol, dan konsentrasi gas rumah kaca.

Penyebutan 2027 sebagai “tahun terpanas” harus dipahami sebagai prakiraan probabilistik yang sangat kuat, bukan kepastian mutlak, karena sistem iklim tetap dipengaruhi sejumlah faktor yang dapat berubah selama beberapa bulan mendatang.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulsel 2 April 2026: Mayoritas Wilayah Berpotensi Hujan Ringan hingga Sedang

Panas Raksasa Tersimpan di Bawah Pasifik

El Niño merupakan fase hangat dari El Niño–Southern Oscillation atau ENSO yang biasanya muncul setiap dua sampai tujuh tahun ketika angin pasat di Pasifik tropis melemah atau berbalik sehingga air hangat bergerak dari bagian barat menuju tengah dan timur samudra.

Dalam keadaan normal, angin pasat mendorong air hangat ke arah Indonesia dan Australia, sementara air dingin dari kedalaman naik ke permukaan di dekat pantai Amerika Selatan.

Ketika El Niño berkembang, proses tersebut melemah sehingga air hangat menyebar ke timur, mengubah tekanan udara, pergerakan angin, pembentukan awan, curah hujan, dan distribusi panas di berbagai kawasan dunia.

Para ilmuwan umumnya menyatakan El Niño terbentuk apabila suhu permukaan laut di wilayah pemantauan utama Pasifik tropis berada sedikitnya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata dan bertahan bersama perubahan sirkulasi atmosfer.

Data NOAA pada Juli 2026 menunjukkan anomali suhu mencapai 1,4 derajat Celsius di wilayah Niño-3.4, 1,7 derajat di Niño-3, dan 2,9 derajat di wilayah timur Niño-1+2.

BACA JUGA:  Sulsel Diguyur Hujan Seharian, Sejumlah Wilayah Berpotensi Lebat hingga Sangat Lebat

NOAA pada 13 Agustus 2026 menyatakan El Niño terus menguat dengan peluang lebih dari 90 persen menjadi peristiwa “sangat kuat” selama musim gugur dan musim dingin 2026–2027 di Belahan Bumi Utara.

Lembaga tersebut juga memperkirakan peluang sekitar 69 persen bahwa kekuatan El Niño pada Oktober–Desember 2026 dapat melampaui seluruh peristiwa sejenis dalam catatan pengamatan sejak 1950.

Model Met Office memperkirakan anomali suhu di bagian penting Pasifik dapat melewati 3 derajat Celsius menjelang puncaknya, sedangkan sejumlah simulasi penelitian bahkan menunjukkan kemungkinan mendekati 4 derajat.

SulawesiPos.com – Badan Meteorologi Inggris atau Met Office pada Jumat (21/8/2026), memperingatkan masyarakat dunia bahwa El Niño yang sedang menguat di Samudra Pasifik sangat berpeluang menjadikan 2027 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan modern karena anomali suhu laut diprakirakan menembus lebih dari 3 derajat Celsius dan melepaskan cadangan panas raksasa ke atmosfer di atas pemanasan global akibat aktivitas manusia.

Peringatan tersebut diberitakan oleh WION melalui laporan Jatin Verma pada 21 Agustus 2026, kemudian diperkuat laporan AFP, The Guardian, NOAA, Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO, dan data resmi Met Office Inggris.

Kepala Prakiraan Jangka Panjang Met Office Profesor Adam Scaife menyebut sinyal El Niño dalam model terbaru sebagai peristiwa yang belum pernah ia saksikan sepanjang kariernya.

“Kami memperkirakan El Niño terbesar dalam lebih dari satu abad, dengan puncak sedikit di atas 3 derajat Celsius, tingkat yang belum pernah terlihat dalam catatan iklim modern,” kata Scaife kepada BBC sebagaimana dikutip AFP dan The Guardian.

BACA JUGA:  Sulsel Diguyur Hujan Seharian, Sejumlah Wilayah Berpotensi Lebat hingga Sangat Lebat

Met Office menilai tambahan panas dari El Niño yang diperkirakan mencapai puncaknya pada musim dingin Belahan Bumi Utara 2026–2027 akan paling terasa pada suhu rata-rata global sepanjang 2027, sehingga tahun itu sangat mungkin melampaui rekor panas 2024.

Tahun 2024 saat ini menjadi tahun terpanas dalam catatan observasi global dengan suhu rata-rata permukaan sekitar 1,55 derajat Celsius di atas tingkat praindustri 1850–1900, sedangkan 2025 tercatat sebagai tahun terpanas kedua atau ketiga menurut WMO.

Jika prakiraan terbaru terwujud, suhu rata-rata global selama 2027 dapat mendekati 1,7 derajat Celsius di atas tingkat praindustri, meskipun angka pastinya masih bergantung pada perkembangan El Niño, kondisi samudra lain, aktivitas vulkanik, aerosol, dan konsentrasi gas rumah kaca.

Penyebutan 2027 sebagai “tahun terpanas” harus dipahami sebagai prakiraan probabilistik yang sangat kuat, bukan kepastian mutlak, karena sistem iklim tetap dipengaruhi sejumlah faktor yang dapat berubah selama beberapa bulan mendatang.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulsel Besok 18 Juli 2026: Cerah Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Guyur 10 Daerah

Panas Raksasa Tersimpan di Bawah Pasifik

El Niño merupakan fase hangat dari El Niño–Southern Oscillation atau ENSO yang biasanya muncul setiap dua sampai tujuh tahun ketika angin pasat di Pasifik tropis melemah atau berbalik sehingga air hangat bergerak dari bagian barat menuju tengah dan timur samudra.

Dalam keadaan normal, angin pasat mendorong air hangat ke arah Indonesia dan Australia, sementara air dingin dari kedalaman naik ke permukaan di dekat pantai Amerika Selatan.

Ketika El Niño berkembang, proses tersebut melemah sehingga air hangat menyebar ke timur, mengubah tekanan udara, pergerakan angin, pembentukan awan, curah hujan, dan distribusi panas di berbagai kawasan dunia.

Para ilmuwan umumnya menyatakan El Niño terbentuk apabila suhu permukaan laut di wilayah pemantauan utama Pasifik tropis berada sedikitnya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata dan bertahan bersama perubahan sirkulasi atmosfer.

Data NOAA pada Juli 2026 menunjukkan anomali suhu mencapai 1,4 derajat Celsius di wilayah Niño-3.4, 1,7 derajat di Niño-3, dan 2,9 derajat di wilayah timur Niño-1+2.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulsel Besok: Cerah Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Guyur 10 Daerah

NOAA pada 13 Agustus 2026 menyatakan El Niño terus menguat dengan peluang lebih dari 90 persen menjadi peristiwa “sangat kuat” selama musim gugur dan musim dingin 2026–2027 di Belahan Bumi Utara.

Lembaga tersebut juga memperkirakan peluang sekitar 69 persen bahwa kekuatan El Niño pada Oktober–Desember 2026 dapat melampaui seluruh peristiwa sejenis dalam catatan pengamatan sejak 1950.

Model Met Office memperkirakan anomali suhu di bagian penting Pasifik dapat melewati 3 derajat Celsius menjelang puncaknya, sedangkan sejumlah simulasi penelitian bahkan menunjukkan kemungkinan mendekati 4 derajat.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru