El Niño Diprediksi Tembus 3 Derajat, 2027 Akan Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah Bumi

Cadangan panas tidak hanya terlihat di permukaan karena pada kedalaman sekitar 100 meter terdapat bagian perairan yang dilaporkan mencapai 8 derajat Celsius lebih hangat dari biasanya.

Lapisan bawah laut yang sangat panas itu berfungsi seperti baterai energi raksasa yang dapat mempertahankan dan memperkuat El Niño ketika panasnya bergerak ke permukaan lalu dilepaskan ke atmosfer.

Mengapa Dampak Terbesarnya Diperkirakan Terjadi pada 2027?

El Niño biasanya mencapai puncak pada akhir suatu tahun, tetapi dampak pemanasannya terhadap suhu rata-rata planet sering paling kuat pada tahun kalender berikutnya.

Fenomena itu terjadi karena samudra membutuhkan waktu untuk memindahkan panas dalam jumlah besar ke atmosfer, sementara sirkulasi udara dan pola cuaca global merespons perubahan tersebut secara bertahap.

Ilmuwan iklim Met Office Dr Nick Dunstone mengatakan efek pemanasan El Niño sangat menonjol pada tahun setelah puncaknya di musim dingin, sehingga 2027 sangat berpeluang menggantikan 2024 sebagai tahun terpanas.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Makassar Hari Ini, 27 Mei 2026: Didominasi Berawan hingga Sore Hari

El Niño bukan penyebab utama pemanasan global, melainkan penguat sementara yang bekerja di atas tren pemanasan jangka panjang akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas serta perubahan tata guna lahan.

Suhu Bumi telah meningkat sekitar 1,4 derajat Celsius sejak akhir abad ke-19, sehingga El Niño masa kini berlangsung pada planet yang jauh lebih panas daripada ketika peristiwa serupa terjadi satu abad lalu.

Analogi sederhananya, perubahan iklim telah menaikkan permukaan dasar sebuah tangga, sedangkan El Niño menambahkan satu anak tangga panas yang dapat mendorong suhu Bumi menuju rekor baru.

Laporan prakiraan iklim global WMO yang diterbitkan pada 28 Mei 2026 menyatakan terdapat peluang 86 persen bahwa setidaknya satu tahun antara 2026 dan 2030 akan melampaui rekor panas 2024.

WMO juga memperkirakan peluang 91 persen bahwa sedikitnya satu tahun dalam periode tersebut akan mengalami suhu rata-rata global sementara di atas 1,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat praindustri.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Makassar Hari Ini, 12 Juni 2026: Berawan Sejak Pagi, Hujan Ringan Berpotensi Turun Siang hingga Malam

Pelanggaran ambang 1,5 derajat dalam satu tahun tidak otomatis berarti sasaran Perjanjian Paris telah gagal secara permanen karena target tersebut mengacu pada tren rata-rata jangka panjang, tetapi kejadian itu menunjukkan dunia semakin dekat dengan tingkat pemanasan yang lebih berbahaya.

Cuaca Ekstrem, Krisis Pangan, dan Risiko Kemanusiaan

El Niño yang sangat kuat tidak membuat seluruh wilayah Bumi mengalami kondisi cuaca seragam karena setiap kawasan dapat menerima dampak berbeda berdasarkan letak geografis, musim, suhu laut setempat, dan interaksi dengan pola iklim lain.

Sebagian kawasan Amerika Selatan, Australia timur laut, Asia Tenggara, Afrika bagian selatan, dan Pasifik barat berisiko mengalami kekeringan serta gelombang panas lebih berat.

Daerah lain seperti sebagian Amerika Selatan, Afrika Timur, Amerika Serikat bagian selatan, dan Eropa barat laut dapat menghadapi curah hujan berlebihan, banjir, atau badai yang lebih kuat.

Atmosfer yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak uap air, sehingga ketika hujan turun, volumenya berpotensi lebih besar dan menciptakan banjir ekstrem.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulawesi Selatan Hari Ini, Sabtu 22 Agustus 2026: Waspada Udara Panas dan Angin Kencang

Pada wilayah yang mengalami kekurangan hujan, suhu tinggi mempercepat penguapan, mengeringkan tanah, mengurangi ketersediaan air, serta memperbesar risiko gagal panen dan kebakaran hutan.

WMO menegaskan belum terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi atau kekuatan setiap El Niño, tetapi pemanasan samudra dan atmosfer jelas dapat memperbesar dampak gelombang panas, hujan ekstrem, dan kekeringannya.

Cadangan panas tidak hanya terlihat di permukaan karena pada kedalaman sekitar 100 meter terdapat bagian perairan yang dilaporkan mencapai 8 derajat Celsius lebih hangat dari biasanya.

Lapisan bawah laut yang sangat panas itu berfungsi seperti baterai energi raksasa yang dapat mempertahankan dan memperkuat El Niño ketika panasnya bergerak ke permukaan lalu dilepaskan ke atmosfer.

Mengapa Dampak Terbesarnya Diperkirakan Terjadi pada 2027?

El Niño biasanya mencapai puncak pada akhir suatu tahun, tetapi dampak pemanasannya terhadap suhu rata-rata planet sering paling kuat pada tahun kalender berikutnya.

Fenomena itu terjadi karena samudra membutuhkan waktu untuk memindahkan panas dalam jumlah besar ke atmosfer, sementara sirkulasi udara dan pola cuaca global merespons perubahan tersebut secara bertahap.

Ilmuwan iklim Met Office Dr Nick Dunstone mengatakan efek pemanasan El Niño sangat menonjol pada tahun setelah puncaknya di musim dingin, sehingga 2027 sangat berpeluang menggantikan 2024 sebagai tahun terpanas.

BACA JUGA:  Cuaca Makassar Hari Ini, 7 Maret 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang

El Niño bukan penyebab utama pemanasan global, melainkan penguat sementara yang bekerja di atas tren pemanasan jangka panjang akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas serta perubahan tata guna lahan.

Suhu Bumi telah meningkat sekitar 1,4 derajat Celsius sejak akhir abad ke-19, sehingga El Niño masa kini berlangsung pada planet yang jauh lebih panas daripada ketika peristiwa serupa terjadi satu abad lalu.

Analogi sederhananya, perubahan iklim telah menaikkan permukaan dasar sebuah tangga, sedangkan El Niño menambahkan satu anak tangga panas yang dapat mendorong suhu Bumi menuju rekor baru.

Laporan prakiraan iklim global WMO yang diterbitkan pada 28 Mei 2026 menyatakan terdapat peluang 86 persen bahwa setidaknya satu tahun antara 2026 dan 2030 akan melampaui rekor panas 2024.

WMO juga memperkirakan peluang 91 persen bahwa sedikitnya satu tahun dalam periode tersebut akan mengalami suhu rata-rata global sementara di atas 1,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat praindustri.

BACA JUGA:  Cuaca Sulsel Hari Ini, 15 Juni 2026: Cerah Berawan, Sejumlah Wilayah Berpotensi Diguyur Hujan Ringan

Pelanggaran ambang 1,5 derajat dalam satu tahun tidak otomatis berarti sasaran Perjanjian Paris telah gagal secara permanen karena target tersebut mengacu pada tren rata-rata jangka panjang, tetapi kejadian itu menunjukkan dunia semakin dekat dengan tingkat pemanasan yang lebih berbahaya.

Cuaca Ekstrem, Krisis Pangan, dan Risiko Kemanusiaan

El Niño yang sangat kuat tidak membuat seluruh wilayah Bumi mengalami kondisi cuaca seragam karena setiap kawasan dapat menerima dampak berbeda berdasarkan letak geografis, musim, suhu laut setempat, dan interaksi dengan pola iklim lain.

Sebagian kawasan Amerika Selatan, Australia timur laut, Asia Tenggara, Afrika bagian selatan, dan Pasifik barat berisiko mengalami kekeringan serta gelombang panas lebih berat.

Daerah lain seperti sebagian Amerika Selatan, Afrika Timur, Amerika Serikat bagian selatan, dan Eropa barat laut dapat menghadapi curah hujan berlebihan, banjir, atau badai yang lebih kuat.

Atmosfer yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak uap air, sehingga ketika hujan turun, volumenya berpotensi lebih besar dan menciptakan banjir ekstrem.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulsel Besok 20 Agustus 2026: Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan

Pada wilayah yang mengalami kekurangan hujan, suhu tinggi mempercepat penguapan, mengeringkan tanah, mengurangi ketersediaan air, serta memperbesar risiko gagal panen dan kebakaran hutan.

WMO menegaskan belum terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi atau kekuatan setiap El Niño, tetapi pemanasan samudra dan atmosfer jelas dapat memperbesar dampak gelombang panas, hujan ekstrem, dan kekeringannya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru