Iran Gelar Sayembara Rp489 Juta bagi Penangkap atau Pembunuh “Tentara Penyerbu” AS di Asia Barat

SulawesiPos.com – Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran Mayor Jenderal Amir Hatami pada Sabtu (15/8/2026) mengumumkan hadiah senilai 30.000 dolar AS atau lima miliar toman bagi siapa saja yang menangkap dan menyerahkan atau membunuh tentara Amerika Serikat yang disebutnya sebagai “personel militer penyerbu” dalam konfrontasi bersenjata di kawasan Asia Barat.

Perempuan Iran yang melakukan tindakan tersebut dijanjikan hadiah dua kali lipat atau sekitar 60.000 dolar AS.

Nilai dasar hadiah itu setara sekitar Rp489 juta berdasarkan kurs Rp16.300 per dolar AS, sedangkan hadiah bagi perempuan mencapai sekitar Rp978 juta.

Hatami menyampaikan pengumuman tersebut dalam acara penghormatan kepada wartawan dan peliput perjuangan nasional Iran.

Pernyataannya pertama kali diberitakan Tasnim News Agency dan Mehr News Agency pada 15 Agustus 2026.B erita itu kemudian dikembangkan New York Post pada 16 Agustus 2026 dengan mengutip kantor berita negara Iran, IRNA.

Tasnim menuliskan bahwa hadiah diberikan kepada siapa pun yang “membunuh atau menangkap dan menyerahkan seorang personel militer Amerika yang melakukan agresi”.

BACA JUGA:  Trafik Selat Hormuz Mulai Pulih Pasca Kesepakatan Damai Iran–Amerika Serikat

Rumusan tersebut menunjukkan bahwa sasaran yang dimaksud Iran adalah personel AS yang terlibat dalam operasi militer, bukan warga sipil Amerika ataupun tentara yang berada di luar konteks pertempuran.

Menurut Hatami, rencana itu disusun setelah muncul banyak permintaan masyarakat untuk berpartisipasi dalam apa yang disebutnya sebagai “jihad finansial”.

Angkatan Darat Iran menyatakan pembayaran hadiah akan dijamin melalui dukungan dana masyarakat yang berpartisipasi.

Senjata Akan Disimpan sebagai Simbol Perlawanan

Hatami mengatakan senjata yang dipakai menghadapi tentara AS yang aktif bertempur akan dibeli dengan harga dua kali lipat dari nilai aslinya.

Pemiliknya kemudian akan memperoleh senjata baru sebagai pengganti.

Senjata lama direncanakan menjadi koleksi museum untuk mengenang perlawanan Iran terhadap pasukan asing.

Dalam perspektif Teheran, museum itu akan menjadi simbol ketahanan nasional menghadapi kekuatan militer yang dinilai mengancam kedaulatan Iran.

Hatami belum menjelaskan prosedur pembuktian, lokasi pelaksanaan, ataupun lembaga yang akan memverifikasi penerima hadiah.

BACA JUGA:  Trump Ultimatum China dan Rusia: Jangan Persenjatai Iran atau Hadapi Konsekuensi Berat

Penjelasan tersebut diperlukan untuk memastikan kebijakan hanya berlaku terhadap pasukan yang aktif melakukan operasi tempur.

Tentara AS di Asia Barat Disebut Bagian dari Tekanan Militer

Iran memandang keberadaan pasukan dan pangkalan AS di Asia Barat sebagai jaringan militer yang dapat digunakan untuk menyerang wilayahnya.

Hatami mengatakan Iran tidak akan memberikan ruang bagi Amerika Serikat untuk menjadikan pangkalan di negara-negara tetangga sebagai sumber ancaman.

SulawesiPos.com – Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran Mayor Jenderal Amir Hatami pada Sabtu (15/8/2026) mengumumkan hadiah senilai 30.000 dolar AS atau lima miliar toman bagi siapa saja yang menangkap dan menyerahkan atau membunuh tentara Amerika Serikat yang disebutnya sebagai “personel militer penyerbu” dalam konfrontasi bersenjata di kawasan Asia Barat.

Perempuan Iran yang melakukan tindakan tersebut dijanjikan hadiah dua kali lipat atau sekitar 60.000 dolar AS.

Nilai dasar hadiah itu setara sekitar Rp489 juta berdasarkan kurs Rp16.300 per dolar AS, sedangkan hadiah bagi perempuan mencapai sekitar Rp978 juta.

Hatami menyampaikan pengumuman tersebut dalam acara penghormatan kepada wartawan dan peliput perjuangan nasional Iran.

Pernyataannya pertama kali diberitakan Tasnim News Agency dan Mehr News Agency pada 15 Agustus 2026.B erita itu kemudian dikembangkan New York Post pada 16 Agustus 2026 dengan mengutip kantor berita negara Iran, IRNA.

Tasnim menuliskan bahwa hadiah diberikan kepada siapa pun yang “membunuh atau menangkap dan menyerahkan seorang personel militer Amerika yang melakukan agresi”.

BACA JUGA:  Trafik Selat Hormuz Mulai Pulih Pasca Kesepakatan Damai Iran–Amerika Serikat

Rumusan tersebut menunjukkan bahwa sasaran yang dimaksud Iran adalah personel AS yang terlibat dalam operasi militer, bukan warga sipil Amerika ataupun tentara yang berada di luar konteks pertempuran.

Menurut Hatami, rencana itu disusun setelah muncul banyak permintaan masyarakat untuk berpartisipasi dalam apa yang disebutnya sebagai “jihad finansial”.

Angkatan Darat Iran menyatakan pembayaran hadiah akan dijamin melalui dukungan dana masyarakat yang berpartisipasi.

Senjata Akan Disimpan sebagai Simbol Perlawanan

Hatami mengatakan senjata yang dipakai menghadapi tentara AS yang aktif bertempur akan dibeli dengan harga dua kali lipat dari nilai aslinya.

Pemiliknya kemudian akan memperoleh senjata baru sebagai pengganti.

Senjata lama direncanakan menjadi koleksi museum untuk mengenang perlawanan Iran terhadap pasukan asing.

Dalam perspektif Teheran, museum itu akan menjadi simbol ketahanan nasional menghadapi kekuatan militer yang dinilai mengancam kedaulatan Iran.

Hatami belum menjelaskan prosedur pembuktian, lokasi pelaksanaan, ataupun lembaga yang akan memverifikasi penerima hadiah.

BACA JUGA:  Tokoh Oposisi Iran, Reza Pahlavi Sebut Republik Islam Iran Berakhir Usai Tewasnya Ali Khamenei

Penjelasan tersebut diperlukan untuk memastikan kebijakan hanya berlaku terhadap pasukan yang aktif melakukan operasi tempur.

Tentara AS di Asia Barat Disebut Bagian dari Tekanan Militer

Iran memandang keberadaan pasukan dan pangkalan AS di Asia Barat sebagai jaringan militer yang dapat digunakan untuk menyerang wilayahnya.

Hatami mengatakan Iran tidak akan memberikan ruang bagi Amerika Serikat untuk menjadikan pangkalan di negara-negara tetangga sebagai sumber ancaman.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru