Ilmuwan Jepang Ciptakan Klon Betina dari Sel Jantan, Teknologi Y-CUT Buka Harapan Baru Melawan Kepunahan

SulawesiPos.com – Tim ilmuwan Jepang yang dipimpin Takashi Ishiuchi dari Universitas Yamanashi dan Shogo Matoba dari RIKEN BioResource Research Center berhasil menghasilkan tikus betina sehat serta subur dari embrio dan sel tubuh tikus jantan dengan menghilangkan kromosom Y menggunakan teknologi penyuntingan gen berbasis CRISPR bernama Y-CUT, sebagaimana diberitakan MIT Technology Review pada 12 Agustus 2026 berdasarkan prapublikasi penelitian yang diunggah ke bioRxiv pada 4 Agustus 2026.

Pencapaian tersebut menjadi eksperimen pertama yang secara sengaja menghasilkan klon tikus betina dari materi genetik tikus jantan, meskipun temuan ini masih berstatus prapublikasi dan belum menjalani penelaahan sejawat.

Para peneliti menilai teknik itu berpotensi mendukung penyelamatan spesies langka apabila populasi yang tersisa hanya terdiri atas individu jantan, karena kloning biasa hanya akan menghasilkan salinan dengan jenis kelamin yang sama seperti donor.

Namun, istilah “mengubah tikus jantan menjadi betina” tidak berarti tikus jantan dewasa berganti kelamin, melainkan embrio atau sel jantan dimanipulasi sebelum berkembang menjadi individu baru berjenis kelamin betina.

BACA JUGA:  Indonesia Day 2026 di Hiroshima Satukan Ratusan WNI, Jepang, dan Komunitas Internasional dalam Semangat Kemerdekaan

Monika Ward, ahli biologi reproduksi Universitas Hawaii yang tidak terlibat dalam riset tersebut, menyebut keberhasilan menghasilkan klon betina dari sel jantan secara sengaja sebagai pencapaian yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Terinspirasi Ikan yang Mampu Berganti Kelamin

Gagasan penelitian ini antara lain terinspirasi oleh ikan Okinawa rubble goby yang dapat mengubah jenis kelamin ketika komposisi jantan dan betina dalam kelompoknya tidak seimbang.

Pada mamalia, betina umumnya memiliki dua kromosom X atau XX, sedangkan jantan memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y atau XY.

Kromosom Y membawa gen dan perangkat pengatur perkembangan yang mengarahkan pembentukan karakteristik biologis jantan, sehingga hilangnya kromosom tersebut pada tahap awal dapat mengubah jalur perkembangan seksual embrio.

Tim peneliti mengembangkan Y-CUT untuk memotong bagian tertentu pada kromosom Y yang berperan dalam pewarisannya ketika sel membelah.

Pemotongan itu menyebabkan kromosom Y dikeluarkan melalui struktur mikroskopis menyerupai mikronukleus selama perkembangan embrio awal, sehingga embrio yang semula memiliki kromosom XY berubah menjadi XO.

BACA JUGA:  Prediksi Skor Babak 32 Besar Piala Dunia 2026: Brasil vs Jepang, Selecao Waspadai Kejutan Samurai Biru

XO berarti individu hanya mempunyai satu kromosom X tanpa kromosom seks kedua, berbeda dari tikus betina pada umumnya yang berkromosom XX.

Dari Embrio Jantan Menjadi Betina Subur

Ketika Y-CUT diterapkan pada zigot atau embrio tikus tahap awal, kromosom Y dapat dihilangkan sebelum embrio dipindahkan ke rahim tikus betina pengganti.

Embrio tersebut kemudian berkembang menjadi anak tikus betina XO yang menurut peneliti tumbuh sehat, mencapai usia dewasa, dan tetap dapat bereproduksi.

Keberhasilan itu dimungkinkan karena tikus betina XO dapat hidup dan memiliki kesuburan, sedangkan kehilangan satu kromosom X pada banyak mamalia lain dapat menimbulkan gangguan perkembangan atau ketidaksuburan.

Tim selanjutnya menggabungkan Y-CUT dengan teknik transfer inti sel somatik, yakni prosedur kloning yang memindahkan inti pembawa DNA dari sel tubuh ke dalam sel telur yang intinya telah dikeluarkan.

Para ilmuwan menggunakan sel Sertoli dari tikus jantan muda dan sel darah tikus jantan dewasa sebagai sumber inti, lalu memasukkannya ke dalam sel telur tanpa inti untuk membentuk embrio hasil kloning.

BACA JUGA:  Brasil vs Jepang: Menunggu Aksi Neymar, Ujian Serius Selecao di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Sebagian embrio hasil rekonstruksi diberi perlakuan Y-CUT sebelum dipindahkan ke rahim induk pengganti, sehingga lahir klon betina XO yang genom tubuhnya hampir sama dengan donor jantan kecuali kromosom Y yang telah hilang.

SulawesiPos.com – Tim ilmuwan Jepang yang dipimpin Takashi Ishiuchi dari Universitas Yamanashi dan Shogo Matoba dari RIKEN BioResource Research Center berhasil menghasilkan tikus betina sehat serta subur dari embrio dan sel tubuh tikus jantan dengan menghilangkan kromosom Y menggunakan teknologi penyuntingan gen berbasis CRISPR bernama Y-CUT, sebagaimana diberitakan MIT Technology Review pada 12 Agustus 2026 berdasarkan prapublikasi penelitian yang diunggah ke bioRxiv pada 4 Agustus 2026.

Pencapaian tersebut menjadi eksperimen pertama yang secara sengaja menghasilkan klon tikus betina dari materi genetik tikus jantan, meskipun temuan ini masih berstatus prapublikasi dan belum menjalani penelaahan sejawat.

Para peneliti menilai teknik itu berpotensi mendukung penyelamatan spesies langka apabila populasi yang tersisa hanya terdiri atas individu jantan, karena kloning biasa hanya akan menghasilkan salinan dengan jenis kelamin yang sama seperti donor.

Namun, istilah “mengubah tikus jantan menjadi betina” tidak berarti tikus jantan dewasa berganti kelamin, melainkan embrio atau sel jantan dimanipulasi sebelum berkembang menjadi individu baru berjenis kelamin betina.

BACA JUGA:  Jepang dan Swedia Sama-Sama Lolos 32 Besar Usai Imbang 1-1 di Grup F Piala Dunia 2026

Monika Ward, ahli biologi reproduksi Universitas Hawaii yang tidak terlibat dalam riset tersebut, menyebut keberhasilan menghasilkan klon betina dari sel jantan secara sengaja sebagai pencapaian yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Terinspirasi Ikan yang Mampu Berganti Kelamin

Gagasan penelitian ini antara lain terinspirasi oleh ikan Okinawa rubble goby yang dapat mengubah jenis kelamin ketika komposisi jantan dan betina dalam kelompoknya tidak seimbang.

Pada mamalia, betina umumnya memiliki dua kromosom X atau XX, sedangkan jantan memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y atau XY.

Kromosom Y membawa gen dan perangkat pengatur perkembangan yang mengarahkan pembentukan karakteristik biologis jantan, sehingga hilangnya kromosom tersebut pada tahap awal dapat mengubah jalur perkembangan seksual embrio.

Tim peneliti mengembangkan Y-CUT untuk memotong bagian tertentu pada kromosom Y yang berperan dalam pewarisannya ketika sel membelah.

Pemotongan itu menyebabkan kromosom Y dikeluarkan melalui struktur mikroskopis menyerupai mikronukleus selama perkembangan embrio awal, sehingga embrio yang semula memiliki kromosom XY berubah menjadi XO.

BACA JUGA:  Indonesia Day 2026 di Hiroshima Satukan Ratusan WNI, Jepang, dan Komunitas Internasional dalam Semangat Kemerdekaan

XO berarti individu hanya mempunyai satu kromosom X tanpa kromosom seks kedua, berbeda dari tikus betina pada umumnya yang berkromosom XX.

Dari Embrio Jantan Menjadi Betina Subur

Ketika Y-CUT diterapkan pada zigot atau embrio tikus tahap awal, kromosom Y dapat dihilangkan sebelum embrio dipindahkan ke rahim tikus betina pengganti.

Embrio tersebut kemudian berkembang menjadi anak tikus betina XO yang menurut peneliti tumbuh sehat, mencapai usia dewasa, dan tetap dapat bereproduksi.

Keberhasilan itu dimungkinkan karena tikus betina XO dapat hidup dan memiliki kesuburan, sedangkan kehilangan satu kromosom X pada banyak mamalia lain dapat menimbulkan gangguan perkembangan atau ketidaksuburan.

Tim selanjutnya menggabungkan Y-CUT dengan teknik transfer inti sel somatik, yakni prosedur kloning yang memindahkan inti pembawa DNA dari sel tubuh ke dalam sel telur yang intinya telah dikeluarkan.

Para ilmuwan menggunakan sel Sertoli dari tikus jantan muda dan sel darah tikus jantan dewasa sebagai sumber inti, lalu memasukkannya ke dalam sel telur tanpa inti untuk membentuk embrio hasil kloning.

BACA JUGA:  Setelah Sempat Gagal, Roket H3 Jepang Berhasil Membawa Satelit Navigasi ke Orbit

Sebagian embrio hasil rekonstruksi diberi perlakuan Y-CUT sebelum dipindahkan ke rahim induk pengganti, sehingga lahir klon betina XO yang genom tubuhnya hampir sama dengan donor jantan kecuali kromosom Y yang telah hilang.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru