Analisis kromosom menunjukkan tikus jantan donor memiliki kariotipe normal 40,XY, sedangkan klon betina hasil Y-CUT memiliki 39,X tanpa ditemukannya perpindahan kromosom besar lainnya dalam sel yang diperiksa.
Klon betina dan klon jantan yang berasal dari genom donor jantan tersebut kemudian dapat dikawinkan serta menghasilkan keturunan sehat, yang memperlihatkan bahwa satu sumber genom jantan secara eksperimental dapat menghasilkan dua jenis kelamin untuk reproduksi.
Sel Beku Menjadi Cadangan Kehidupan
Peneliti juga berhasil menggunakan sel darah dan fibroblas ujung ekor tikus jantan yang telah dibekukan sebagai donor untuk menghasilkan klon jantan dan betina.
Temuan itu membuka peluang pemanfaatan “kebun binatang beku” atau frozen zoo yang menyimpan sel, jaringan, sperma, dan bahan biologis satwa langka pada suhu sangat rendah.
Apabila suatu spesies hanya menyisakan pejantan atau sampel beku dari pejantan, kloning biasa akan menghasilkan pejantan lain yang tidak dapat membentuk populasi berkembang biak tanpa betina.
Y-CUT secara teoritis dapat mengubah sebagian embrio kloning berbahan genetik jantan menjadi betina, sehingga pejantan dan betina yang membawa genom donor tersebut bisa dihasilkan untuk memulai program reproduksi.
Teknologi kloning sebelumnya telah mendukung konservasi musang berkaki hitam dan kuda Przewalski dengan menghidupkan kembali variasi genetik dari sel hewan yang disimpan puluhan tahun.
Kloning tetap bukan solusi tunggal karena individu yang identik secara genetik tidak menambah keragaman secara otomatis, sementara populasi dengan variasi genetik rendah lebih rentan terhadap penyakit, gangguan kesuburan, dan perubahan lingkungan.
Karena itu, Y-CUT lebih tepat dipandang sebagai salah satu alat penyelamatan genetik yang harus dipadukan dengan pengelolaan habitat, perkawinan terencana, penyimpanan materi biologis, dan perlindungan ekosistem.
Belum Dapat Diterapkan pada Manusia
Teknologi Y-CUT masih membutuhkan sel telur yang intinya telah dikeluarkan serta induk pengganti dari spesies yang sama atau kerabat biologis yang sangat dekat.
Kebutuhan itu menjadi kendala besar apabila seluruh betina suatu spesies telah punah dan tidak tersedia spesies kerabat dengan sel telur, fisiologi kehamilan, serta pembentukan plasenta yang kompatibel.
Metode tersebut juga tidak langsung menyelesaikan keadaan sebaliknya ketika suatu spesies hanya menyisakan betina dan membutuhkan individu jantan.
Keterbatasan paling penting terletak pada kondisi XO karena tikus betina XO dapat subur, sedangkan pada manusia kehilangan satu kromosom X berhubungan dengan sindrom Turner yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, perkembangan ovarium, jantung, dan kesuburan.
Oleh sebab itu, hasil eksperimen pada tikus tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan teknologi serupa aman atau siap diterapkan pada reproduksi manusia.
Ishiuchi sedang mengembangkan pendekatan untuk memasukkan kromosom X kedua ke dalam sel XO agar terbentuk susunan XX yang lebih normal dan berpotensi meningkatkan kesuburan pada mamalia lain.
Revolusi Teknologi Reproduksi
Penelitian ini melengkapi keberhasilan Katsuhiko Hayashi dan tim Universitas Osaka pada 2023 yang membuat sel telur dari sel tikus jantan, kemudian membuahinya dan menghasilkan keturunan hidup serta subur, meskipun efisiensi prosesnya masih sangat rendah.
Teknologi pembuatan sel telur dari sel jantan tersebut secara teoritis dapat menyediakan oosit yang dibutuhkan Y-CUT, tetapi jalan menuju penerapan konservasi masih memerlukan penelitian keamanan, kompatibilitas antarspesies, stabilitas genom, dan efek lintas generasi.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 1 Juni 2026 memperlihatkan bahwa kromosom individu dari sel tikus yang telah dibekukan dapat dipindahkan ke sel telur mencit dan tetap menunjukkan aktivitas gen, sehingga memperluas kemungkinan penyelamatan sumber daya genetik dari spesimen beku.

