Jalan Emmy Saelan, Kisah Tragis Perawat Perempuan di Medan Gerilya

SulawesiPos.com – Nama Emmy Saelan kini hidup di dua ruas jalan di Kota Makassar. Satu berada di kawasan pusat kota dekat Losari, sementara ruas lainnya membentang di kawasan Rappocini dan dikenal sebagai Jalan Monumen Emmy Saelan.

Di balik nama tersebut terdapat kisah seorang perempuan yang memulai perjalanan sebagai perawat, tetapi kemudian meninggalkan terjun langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Emmy Saelan dikenal sebagai salah satu pejuang perempuan dari Sulawesi Selatan. Ia lahir pada 15 Oktober 1924 dan gugur pada usia 22 tahun dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di Kassi-Kassi, Makassar.

Emmy Saelan

Penelitian Universitas Negeri Makassar mencatat bahwa peran Emmy tidak hanya berlangsung di medan pertempuran.

Latar belakangnya sebagai perawat membuatnya membantu mengobati pejuang yang terluka, mengirimkan obat-obatan kepada kelompok gerilya, hingga membantu meloloskan pejuang yang sedang dirawat atau ditahan.

Dari Dunia Keperawatan ke Jaringan Perjuangan

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, situasi di Sulawesi Selatan belum sepenuhnya aman. Pasukan Belanda dan NICA berupaya kembali menguasai wilayah tersebut, sementara kelompok-kelompok pemuda dan laskar melakukan perlawanan.

BACA JUGA:  Jejak Tokoh-tokoh Sulawesi Selatan dalam Sejarah Indonesia Modern

Emmy yang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar berada cukup dekat dengan para pejuang. Dari lingkungan rumah sakit itu, ia mulai terlibat membantu perjuangan melalui keahliannya.

Ia merawat anggota laskar yang terluka sekaligus menyalurkan kebutuhan medis kepada pejuang yang bergerilya. Peran tersebut membuat profesinya sebagai perawat tidak sekadar menjadi pekerjaan, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan perlawanan.

Sikap politik Emmy juga terlihat ketika terjadi penangkapan terhadap Gubernur Sulawesi Sam Ratulangi. Ia turut dalam aksi pemogokan di Rumah Sakit Stella Maris sebagai bentuk protes.

Perjalanannya kemudian berkembang dari dukungan di belakang garis pertempuran menjadi keterlibatan langsung dalam kelaskaran.

Pada 1946, Emmy bergabung dengan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) di bawah pimpinan Ranggong Daeng Romo.

Ketika perjuangan bersenjata semakin berkembang, ia kemudian bergabung dengan Laskar Harimau Indonesia yang dipimpin Robert Wolter Monginsidi.

Di dalam laskar tersebut, Emmy menjalankan peran yang tidak biasa untuk seorang perempuan pada masa itu.

BACA JUGA:  KM Paus Ramabosa Terbakar di Selayar, Polisi Selidiki Dugaan Api Merambat dari Pembakaran Sampah

Ia memimpin Laskar Perempuan sekaligus tetap menjalankan fungsi kemanusiaan sebagai bagian dari Palang Merah.

SulawesiPos.com – Nama Emmy Saelan kini hidup di dua ruas jalan di Kota Makassar. Satu berada di kawasan pusat kota dekat Losari, sementara ruas lainnya membentang di kawasan Rappocini dan dikenal sebagai Jalan Monumen Emmy Saelan.

Di balik nama tersebut terdapat kisah seorang perempuan yang memulai perjalanan sebagai perawat, tetapi kemudian meninggalkan terjun langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Emmy Saelan dikenal sebagai salah satu pejuang perempuan dari Sulawesi Selatan. Ia lahir pada 15 Oktober 1924 dan gugur pada usia 22 tahun dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di Kassi-Kassi, Makassar.

Emmy Saelan

Penelitian Universitas Negeri Makassar mencatat bahwa peran Emmy tidak hanya berlangsung di medan pertempuran.

Latar belakangnya sebagai perawat membuatnya membantu mengobati pejuang yang terluka, mengirimkan obat-obatan kepada kelompok gerilya, hingga membantu meloloskan pejuang yang sedang dirawat atau ditahan.

Dari Dunia Keperawatan ke Jaringan Perjuangan

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, situasi di Sulawesi Selatan belum sepenuhnya aman. Pasukan Belanda dan NICA berupaya kembali menguasai wilayah tersebut, sementara kelompok-kelompok pemuda dan laskar melakukan perlawanan.

BACA JUGA:  Mengenal Tokoh Sulawesi Selatan dari Berbagai Masa: Jejak Kepemimpinan yang Membentuk Indonesia

Emmy yang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar berada cukup dekat dengan para pejuang. Dari lingkungan rumah sakit itu, ia mulai terlibat membantu perjuangan melalui keahliannya.

Ia merawat anggota laskar yang terluka sekaligus menyalurkan kebutuhan medis kepada pejuang yang bergerilya. Peran tersebut membuat profesinya sebagai perawat tidak sekadar menjadi pekerjaan, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan perlawanan.

Sikap politik Emmy juga terlihat ketika terjadi penangkapan terhadap Gubernur Sulawesi Sam Ratulangi. Ia turut dalam aksi pemogokan di Rumah Sakit Stella Maris sebagai bentuk protes.

Perjalanannya kemudian berkembang dari dukungan di belakang garis pertempuran menjadi keterlibatan langsung dalam kelaskaran.

Pada 1946, Emmy bergabung dengan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) di bawah pimpinan Ranggong Daeng Romo.

Ketika perjuangan bersenjata semakin berkembang, ia kemudian bergabung dengan Laskar Harimau Indonesia yang dipimpin Robert Wolter Monginsidi.

Di dalam laskar tersebut, Emmy menjalankan peran yang tidak biasa untuk seorang perempuan pada masa itu.

BACA JUGA:  Jalan Abu Bakar Lambogo: Sosok Pejuang Asal Enrekang yang Namanya Diabadikan di Makassar

Ia memimpin Laskar Perempuan sekaligus tetap menjalankan fungsi kemanusiaan sebagai bagian dari Palang Merah.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru