SulawesiPos.com – Fajar keemasan menyaput wajah kusam bangunan-bangunan industri Detroit, serupa berkah semesta yang turun tanpa membedakan nasib manusia. Di ruang sunyi yang disesaki kertas-kertas kesaksian epidemiologi, Dr. Abdulrahman Mohamed El-Sayed duduk merenungi peziarahan panjangnya selepas malam yang teramat melelahkan.
Alih-alih merayakan panggung kemenangannya dalam bursa Senat Amerika, matanya justru terpaku pada layar televisi bisu yang menampilkan gelegak amarah Presiden Donald Trump.
Hiruk-pikuk politik yang penuh caci maki itu tidak direngkuhnya sebagai tikaman pribadi, melainkan ditatapnya tajam layaknya patologi zaman yang tengah sakit parah.
“Dia tidak mencintai orang Yahudi, melainkan membenci mereka dengan bara di dada,” tuduh sang Presiden, mengipasi ketakutan banal di hadapan massa yang dahaga akan kambing hitam. Namun El-Sayed, yang sedari kecil diajarkan sujud dan pasrah dalam rahim ajaran Islam, menyambut diagnosis xenofobia itu dengan keheningan seorang perawat jiwa yang mafhum akan perihnya luka peradaban.
Kebetulan Sejarah dan Bisikan Sang Ayah
Bagi mata yang dibutakan oleh sekat-sekat rasisme picik, sosok dokter muda ini mungkin hanyalah sebentuk liyan yang mengancam.
Padahal, peziarahan hidupnya adalah buah murni dari pertemuan peradaban, bermula dari ayah imigran Mesir yang taat beragama dan ibu perawat yang menanamkan kesadaran akan pentingnya membangun tata kehidupan bersama.
Dalam doa-doanya, ia amat sadar betapa tipisnya selaput takdir yang memisahkan dirinya dari kehidupan seorang sopir taksi di jalanan Mesir yang berdebu.
Namun Sang Khalik berkehendak lain, di mana bumi Amerika justru mengaruniakan jembatan emas menuju bangku sekolah kedokteran yang mencerahkan nalarnya.
Tatkala hasrat mudanya menggebu untuk membedah rahasia otak manusia, ia senantiasa berpegang teguh pada ayat suci Al-Qur’an yang diimaninya; bahwa barang siapa menyelamatkan satu nyawa, ia seolah menyelamatkan seluruh umat manusia.
“Tidakkah lebih mulia memahami mengapa manusia-manusia itu mati, lalu mengajari sesamamu cara merawat kehidupan?” tegur sang ayah suatu ketika, menyambungkan nilai-nilai profetik Islam itu dengan panggilan sejati kemanusiaan.
Nurani mudanya pun tersentak, menyadari bahwa menyembuhkan orang per orang tidak akan pernah menuntaskan sengkarut sistem yang terlanjur rapuh.

