Resep Keadilan dari Seorang Dokter Muslim untuk Peradaban yang Terluka

Ia pun turun ke gelanggang rakyat jelata sebagai nakhoda kesehatan masyarakat di Detroit, memilih untuk membasuh akar penderitaan ketimbang sekadar membalut gejalanya.

Patogen Kuasa dan Resep Radikal

Keyakinan imannya yang mendalam bahwa merawat kehidupan tak bisa dipisahkan dari memperjuangkan keadilan sosial lantas menyeretnya ke dalam panggung politik yang buas.

Dengan keberanian seorang pembebas, ia menyodorkan resep radikal bagi negerinya: jaminan kesehatan untuk semua jiwa, pembubaran badan imigrasi yang nirwelas asih, dan embargo senjata bagi angkara murka di tanah Palestina.

Di tanah Michigan yang sarat pertaruhan, suara kenabian itu segera disambut badai tudingan, mulai dari ekstremis kiri hingga fitnah keji sebagai simpatisan terorisme hanya karena identitas kemuslimannya.

Dengan kejernihan akal budi ia menangkis silat lidah tersebut, menegaskan bahwa mengecam penindasan di Gaza belumlah tentu sebuah kebencian terhadap sesama, apalagi antisemitisme.

Kini, di tengah hiruk-pikuk pemilu sela, lawannya terus-menerus mengeja nama ke-Arab-annya sebagai siasat murahan untuk memanen benih-benih prasangka dari kaum yang ketakutan.

BACA JUGA:  Trump Ancam China soal Dugaan Kirim Senjata ke Iran, Ketegangan Global Meningkat

Bukannya membalas dengan nyala amarah, anak Detroit penganut Islam yang damai itu justru tersenyum renyah, “Jika engkau tak fasih mengeja namaku, kawan, aku akan dengan tulus sudi mengajarimu.” (estu)

Ia pun turun ke gelanggang rakyat jelata sebagai nakhoda kesehatan masyarakat di Detroit, memilih untuk membasuh akar penderitaan ketimbang sekadar membalut gejalanya.

Patogen Kuasa dan Resep Radikal

Keyakinan imannya yang mendalam bahwa merawat kehidupan tak bisa dipisahkan dari memperjuangkan keadilan sosial lantas menyeretnya ke dalam panggung politik yang buas.

Dengan keberanian seorang pembebas, ia menyodorkan resep radikal bagi negerinya: jaminan kesehatan untuk semua jiwa, pembubaran badan imigrasi yang nirwelas asih, dan embargo senjata bagi angkara murka di tanah Palestina.

Di tanah Michigan yang sarat pertaruhan, suara kenabian itu segera disambut badai tudingan, mulai dari ekstremis kiri hingga fitnah keji sebagai simpatisan terorisme hanya karena identitas kemuslimannya.

Dengan kejernihan akal budi ia menangkis silat lidah tersebut, menegaskan bahwa mengecam penindasan di Gaza belumlah tentu sebuah kebencian terhadap sesama, apalagi antisemitisme.

Kini, di tengah hiruk-pikuk pemilu sela, lawannya terus-menerus mengeja nama ke-Arab-annya sebagai siasat murahan untuk memanen benih-benih prasangka dari kaum yang ketakutan.

BACA JUGA:  Israel Siaga Tinggi Mengantisipasi Intervensi AS di Iran

Bukannya membalas dengan nyala amarah, anak Detroit penganut Islam yang damai itu justru tersenyum renyah, “Jika engkau tak fasih mengeja namaku, kawan, aku akan dengan tulus sudi mengajarimu.” (estu)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru