SulawesiPos.com – Malam Minggu di Pasar Cidu selalu punya cerita tersendiri. Saat jarum jam menunjukkan sekitar pukul 20.00 Wita pada Sabtu, (20/6/2026), kawasan Jalan Tinumbu dipadati pengunjung yang berburu kuliner malam.
Deretan lapak makanan berjejer di sepanjang jalan, aroma makanan yang menggoda bercampur dengan suara pedagang yang menawarkan dagangannya, menciptakan suasana khas pasar malam yang hidup dan hangat.
Pasar Cidu memang memiliki dua wajah yang berbeda.
Pada pagi hari, kawasan ini menjadi pasar tradisional tempat masyarakat membeli ikan, sayur, dan kebutuhan pokok lainnya.
Namun ketika sore menjelang malam, wajahnya berubah total menjadi salah satu pusat street food paling ramai di Makassar.
Di tengah maraknya jajanan kekinian, minuman viral, hingga aneka camilan modern yang memenuhi kawasan tersebut, terdapat satu lapak yang justru mengajak pengunjung kembali mengenal cita rasa tradisional Sulawesi Selatan.
Lapak sederhana itu menjajakan aneka kue tradisional yang masih bertahan dan tetap diminati hingga saat ini.
Menariknya, pembeli yang datang tidak hanya berasal dari kalangan orang tua yang ingin bernostalgia dengan jajanan masa kecil mereka. Banyak anak muda terlihat antre dan memilih aneka kue yang tersusun rapi di atas meja dagangan.
Lapak tersebut dikelola oleh Zul (42), yang telah berjualan di Pasar Cidu sejak tahun 2019.
Di tengah tren kuliner yang terus berubah, ia memilih tetap menjual kue-kue tradisional yang sudah lama dikenal masyarakat Sulawesi Selatan.
“Kalau yang paling laku itu barongko. Semua kalangan suka,” ujarnya saat ditemui di sela-sela melayani pembeli.
Barongko memang menjadi salah satu primadona di lapaknya.
Kue berbahan dasar pisang yang dibungkus daun pisang tersebut masih menjadi favorit pengunjung.
Dengan harga Rp3 ribu per buah, kue khas Bugis-Makassar itu terus dicari, bahkan di tengah banyaknya pilihan kuliner modern.
Meski demikian, Zul melihat ada perbedaan selera di kalangan anak muda.
“Kalau anak-anak muda biasanya beli risol matcha atau cokelat,” katanya.
Karena itulah, lapaknya tidak hanya menjual kue tradisional, tetapi juga menghadirkan beberapa camilan modern agar dapat dinikmati berbagai kalangan.
Namun, identitas utamanya tetap berada pada jajanan khas Sulawesi Selatan.

Di meja dagangannya, pengunjung bisa menemukan berbagai kue tradisional seperti barongko, cantik manis, roko-roko cangkuni, roko-roko unti, roko-roko lame, katrisalak, kue tetu’, kue lapis, hingga putu ambon.
Di sampingnya tersedia pula risol mayo, risol matcha, risol cokelat, panada, serta aneka donat dengan berbagai topping.
Beberapa kue tradisional bahkan telah diberi sentuhan yang lebih modern agar menarik perhatian generasi muda.
Ada biskuit gabin dengan isian vla hingga bolu kukus warna-warni yang membuat tampilannya semakin menggoda.
Menariknya lagi, seluruh kue yang dijual Zul bukan hasil produksinya sendiri.
“Semuanya titipan orang. Saya cuma menjualkan,” ungkapnya.
Secara tidak langsung, lapaknya menjadi ruang bagi para pelaku usaha rumahan untuk memasarkan produk mereka kepada masyarakat luas.
Beragam kue dari berbagai pembuat berkumpul dalam satu tempat, menciptakan etalase kecil yang memperkenalkan kekayaan kuliner tradisional Sulawesi Selatan kepada para pengunjung.
Soal harga pun terbilang sangat terjangkau. Hanya dengan Rp5 ribu, pembeli sudah bisa mendapatkan empat macam kue tradisional pilihan.
Harga yang ramah di kantong membuat banyak pengunjung membeli dalam jumlah banyak untuk dibawa pulang.
Ramainya pengunjung setiap malam membuat omzet yang diperoleh cukup menjanjikan. Dalam sehari, omzet penjualan di lapak tersebut diperkirakan mampu mencapai Rp2 juta.
Ketika Kue Tradisional Bertahan di Tengah Tren Kuliner Modern
Di era media sosial, berbagai jajanan viral datang dan pergi silih berganti. Namun, lapak milik Zul menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak pernah benar-benar kehilangan tempatnya.
Barongko, roko-roko unti, kue tetu’, hingga katrisalak bukan sekadar makanan. Di balik setiap kue terdapat cerita, budaya, dan warisan kuliner yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Keberadaan lapak seperti ini menjadi pengingat bahwa kekayaan kuliner Sulawesi Selatan tidak hanya berada di restoran besar atau pusat oleh-oleh, tetapi juga hidup di pasar-pasar rakyat yang sederhana.
Membeli kue tradisional bukan hanya soal menikmati rasa. Lebih dari itu, ada upaya untuk menjaga agar kuliner khas daerah tetap dikenal dan dicintai oleh generasi berikutnya.
Tips Berkunjung ke Pasar Cidu Malam Hari
Bagi yang ingin berburu kuliner di Pasar Cidu, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Saat malam tiba, kawasan ini biasanya dipadati pengunjung yang berjalan kaki menikmati berbagai street food di sepanjang jalan.
Karena itu, disarankan menggunakan sepeda motor dibandingkan mobil. Akses jalan yang dipenuhi lapak dan pengunjung membuat mobil cukup sulit bergerak, terutama saat akhir pekan.
Bahkan pengguna motor pun terkadang harus memarkir kendaraan sedikit lebih jauh karena padatnya pengunjung yang memenuhi kawasan kuliner malam tersebut.
Namun suasana ramai inilah yang justru menjadi daya tarik tersendiri bagi Pasar Cidu.
Lokasi dan Jam Operasional
Lapak kue tradisional milik Zul berada di kawasan pusat kuliner malam Pasar Cidu, tepatnya di depan Toko 99, Jalan Tinumbu No. 99, Kelurahan Tabaringan, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar.
Lokasinya hanya sekitar 1,4 kilometer atau sekitar empat menit perjalanan dari Masjid Raya Makassar menggunakan kendaraan bermotor.
Untuk lapak malam, Zul mulai berjualan pukul 15.00 hingga 23.00 Wita. Sementara pada pagi hari, ia tetap berjualan di dalam area Pasar Cidu yang beroperasi sebagai pasar tradisional.
Di tengah hiruk-pikuk jajanan viral yang terus bermunculan, lapak kue tradisional ini menjadi bukti bahwa cita rasa khas Sulawesi Selatan masih dicintai.
Jika berkunjung ke Pasar Cidu, mungkin tak ada salahnya menyisihkan sedikit ruang di tangan untuk membawa pulang barongko, roko-roko, atau kue tetu’.
Sebab di balik rasa manis dan gurihnya, tersimpan warisan kuliner yang patut terus dijaga dan dikenalkan kepada lebih banyak orang. (ainun khairunnisa)


