27 C
Makassar
18 January 2026, 19:07 PM WITA

Sayed Ali Khamenei: Trump Juga Akan Tumbang seperti Firaun dan Namrud

SulawesiPos.com – Pemimpin Tertinggi Iran, Sayed Ali Khamenei, pada Jumat (9/1) menyampaikan pernyataan tegas bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhirnya akan tumbang sebagaimana para penguasa lalim dalam sejarah, seraya menempatkan dinamika protes dan konflik kawasan dalam kerangka perlawanan terhadap dominasi asing.

Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Sayed Ali Khamenei menyebut Firaun, Namrud, Reza Shah, dan Mohammad Reza Shah sebagai simbol tirani yang runtuh di puncak kesombongan, sambil menegaskan bahwa Trump tidak akan luput dari hukum sejarah yang sama.

Ia menegaskan Republik Islam Iran tidak akan mundur menghadapi gejolak internal karena negara tersebut berdiri di atas pengorbanan besar rakyat dan tidak akan dikalahkan oleh tindakan sabotase yang dinilainya merugikan kepentingan nasional.

Merujuk pada gelombang protes, Khamenei menuding sebagian pihak berupaya menyenangkan Washington, seraya menyindir bahwa pemimpin Amerika seharusnya lebih fokus mengurus persoalan serius di negaranya sendiri seperti polarisasi politik, ketimpangan sosial, dan krisis kepercayaan publik.

Dalam konteks eskalasi militer terbaru, Khamenei mengungkap bahwa lebih dari seribu warga Iran gugur dalam konflik selama 12 hari pada Juni lalu, sebuah pernyataan yang menegaskan besarnya dampak kemanusiaan dari ketegangan bersenjata di kawasan.

Baca Juga: 
Indonesia dan Maroko Siap Menjadi Pilar Utama Pasukan Perdamaian Internasional di Gaza

Ia menambahkan bahwa klaim Trump yang mengaku memberi perintah serangan merupakan pengakuan langsung atas keterlibatan Amerika Serikat yang menurutnya membuat tangan presiden AS ternoda darah warga Iran.

Pernyataan tegas Pemimpin Tertinggi Iran tersebut muncul di tengah gelombang protes dan demonstrasi yang melibatkan sebagian kelompok masyarakat, sebuah dinamika yang menunjukkan masih adanya upaya pengaburan terhadap falsafah dan misi historis Republik Islam Iran yang disahkan melalui referendum nasional 1979 ketika mayoritas rakyat memilih sistem republik Islam dan mengakhiri monarki otoriter warisan Syah Reza Pahlavi.

Dalam konteks ini, demonstrasi yang berlangsung tidak semata mencerminkan ekspresi ketidakpuasan sosial, tetapi juga memperlihatkan bangkitnya kembali wacana dan simbol restorasi monarki Pahlavi, sebuah sistem yang telah ditolak rakyat Iran melalui proses politik yang sah, demokratis, dan berdaulat, serta kerap dimanfaatkan kepentingan eksternal untuk melemahkan identitas revolusi dan kemandirian nasional Iran.

Menutup pidatonya, Khamenei menyerukan persatuan nasional dan kesiapsiagaan generasi muda dengan menegaskan bahwa solidaritas sosial dan ketahanan sipil merupakan kunci untuk melindungi rakyat dari siklus kekerasan, intervensi asing, dan krisis kemanusiaan yang lebih luas di Timur Tengah. (ali)

Baca Juga: 
Konflik dengan Trump Memanas, Paus Leo XIV Kembali Kecam “Diplomasi Kekuatan” dan “Gairah Perang”

SulawesiPos.com – Pemimpin Tertinggi Iran, Sayed Ali Khamenei, pada Jumat (9/1) menyampaikan pernyataan tegas bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhirnya akan tumbang sebagaimana para penguasa lalim dalam sejarah, seraya menempatkan dinamika protes dan konflik kawasan dalam kerangka perlawanan terhadap dominasi asing.

Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Sayed Ali Khamenei menyebut Firaun, Namrud, Reza Shah, dan Mohammad Reza Shah sebagai simbol tirani yang runtuh di puncak kesombongan, sambil menegaskan bahwa Trump tidak akan luput dari hukum sejarah yang sama.

Ia menegaskan Republik Islam Iran tidak akan mundur menghadapi gejolak internal karena negara tersebut berdiri di atas pengorbanan besar rakyat dan tidak akan dikalahkan oleh tindakan sabotase yang dinilainya merugikan kepentingan nasional.

Merujuk pada gelombang protes, Khamenei menuding sebagian pihak berupaya menyenangkan Washington, seraya menyindir bahwa pemimpin Amerika seharusnya lebih fokus mengurus persoalan serius di negaranya sendiri seperti polarisasi politik, ketimpangan sosial, dan krisis kepercayaan publik.

Dalam konteks eskalasi militer terbaru, Khamenei mengungkap bahwa lebih dari seribu warga Iran gugur dalam konflik selama 12 hari pada Juni lalu, sebuah pernyataan yang menegaskan besarnya dampak kemanusiaan dari ketegangan bersenjata di kawasan.

Baca Juga: 
Pantauan Udara Hari Pertama Tahun Baru 2026, Kota Makassar Masih Lengang

Ia menambahkan bahwa klaim Trump yang mengaku memberi perintah serangan merupakan pengakuan langsung atas keterlibatan Amerika Serikat yang menurutnya membuat tangan presiden AS ternoda darah warga Iran.

Pernyataan tegas Pemimpin Tertinggi Iran tersebut muncul di tengah gelombang protes dan demonstrasi yang melibatkan sebagian kelompok masyarakat, sebuah dinamika yang menunjukkan masih adanya upaya pengaburan terhadap falsafah dan misi historis Republik Islam Iran yang disahkan melalui referendum nasional 1979 ketika mayoritas rakyat memilih sistem republik Islam dan mengakhiri monarki otoriter warisan Syah Reza Pahlavi.

Dalam konteks ini, demonstrasi yang berlangsung tidak semata mencerminkan ekspresi ketidakpuasan sosial, tetapi juga memperlihatkan bangkitnya kembali wacana dan simbol restorasi monarki Pahlavi, sebuah sistem yang telah ditolak rakyat Iran melalui proses politik yang sah, demokratis, dan berdaulat, serta kerap dimanfaatkan kepentingan eksternal untuk melemahkan identitas revolusi dan kemandirian nasional Iran.

Menutup pidatonya, Khamenei menyerukan persatuan nasional dan kesiapsiagaan generasi muda dengan menegaskan bahwa solidaritas sosial dan ketahanan sipil merupakan kunci untuk melindungi rakyat dari siklus kekerasan, intervensi asing, dan krisis kemanusiaan yang lebih luas di Timur Tengah. (ali)

Baca Juga: 
Nama-nama Penumpang Pesawat ATR yang Hilang Kontak di Gunung Bulusaraung Maros

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/