SulawesiPos.com, Sukoharjo — Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat olah lahan dan tanam di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Langkah ini dilakukan lewat intervensi pompanisasi untuk mengantisipasi kekeringan akibat fenomena El Nino.
Berdasarkan data, Sukoharjo memiliki luas baku sawah (LBS) 20.085 hektare.
Dari jumlah itu, luas tanam atau standing crop padi saat ini mencapai 14.573 hektare.
Namun, sekitar 6.516 hektare lahan di enam kecamatan terindikasi berpotensi terdampak kekeringan.
Salah satu titik rawan berada di Kecamatan Bulu, tepatnya di Desa Bulu.
Di wilayah ini, Gapoktan Rukun Tani mengelola sekitar 152 hektare sawah yang didominasi lahan tadah hujan.
Kondisi ini membuat petani sangat bergantung pada curah hujan dan rentan terdampak saat musim kering berkepanjangan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, pompanisasi menjadi kunci menjaga produksi di tengah tekanan iklim.
“Dalam kondisi El Nino, kita tidak bisa bergantung pada hujan. Air harus kita datangkan. Pompanisasi menjadi solusi cepat agar petani tetap bisa tanam dan produksi tidak turun,” kata Amran.
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Andi Nur Alam Syah mengatakan intervensi dilakukan berdasarkan kebutuhan di lapangan, mulai dari penyediaan pompa air hingga pipanisasi.
“Kami memetakan kebutuhan di setiap kelompok tani. Bantuan difokuskan pada percepatan akses air, sehingga olah lahan dan tanam tidak tertunda. Saat ini, pompa yang sudah terpasang mampu mengairi sekitar 35 hektare lahan terdampak,” ujarnya, Rabu (30/4/226).
Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dalam membantu petani menghadapi ancaman kekeringan.
“Bantuan ini sangat berarti bagi Sukoharjo. Tadi kita lihat langsung, pompa yang dipasang bisa segera dimanfaatkan untuk mengairi sawah petani,” katanya.
Kementan memastikan, dengan percepatan pompanisasi ini, kegiatan tanam tetap berjalan dan lahan pertanian tetap produktif, sekaligus menjaga stabilitas produksi di tengah tantangan iklim.

