SulawesiPos.com – Dinamika politik di Sulawesi Selatan kini memasuki babak baru. Tiga kekuatan besar—Golkar, Nasdem, dan Gerindra—resmi mengukuhkan dominasi mereka di berbagai daerah melalui kemenangan para kader terbaiknya.
Tidak ada lagi istilah “satu warna” di Sulawesi Selatan, yang ada kini adalah pembagian wilayah kekuasaan yang sangat kompetitif dan dinamis.
Berikut adalah analisis perbandingan kekuatan ketiga partai besar tersebut berdasarkan sebaran kepala daerahnya:
Golkar: Kejayaan di Barometer Politik
Partai Golkar membuktikan bahwa mesin politiknya tetap yang paling berpengalaman. Kemenangan paling bergengsi diraih di Kota Makassar melalui Munafri Arifuddin, yang menempatkan kembali Beringin di jantung politik Sulsel.
Selain Makassar, Golkar juga menguasai wilayah strategis lainnya seperti Andi Ina Kartika di Barru, Suwardi Haseng di Soppeng, Patahuddin di Luwu, Baso Rahmanuddin di Wajo, Natsir Ali di Selayar, Fathul Fauzy di Bantaeng, dan Islam Iskandar di Jeneponto.
Secara tradisional, Golkar tetap kuat di wilayah pesisir dan daerah-daerah dengan basis massa loyalis yang solid serta jaringan struktural yang sudah mengakar lama.
Nasdem: Ekspansi Kekuatan “Restorasi”
Nasdem menunjukkan diri sebagai partai paling progresif dengan keberhasilan menempatkan Fatmawati Rusdi sebagai Wakil Gubernur Sulsel.
Kekuatan Nasdem berpusat di wilayah Ajatappareng dan pesisir barat. Kader-kader mereka seperti Syaharuddin Alrif di Sidrap, Yusran Lologau di Pangkep, Tasming Hamid di Parepare, Yusuf Ritanga di Enrekang, Irwan Bachri Syam di Luwu Timur, serta Paris Yasir di Jeneponto, menjadi simbol kekuatan baru yang siap menggoyang dominasi lama.
Gerindra: Dominasi Pegunungan dan Selatan
Di bawah pengaruh kepemimpinan nasional, Gerindra di Sulsel berhasil menyapu bersih wilayah pegunungan dan memperkuat cengkeraman di wilayah selatan.
Gerindra kini tercatat memiliki jumlah kepala daerah terbanyak, di antaranya Darmawangsyah Muin di Gowa, Andi Muchtar Ali Yusuf di Bulukumba, A Abdullah Rahim di Luwu Utara, Andi Mahyanto Mazda di Sinjai, Andi Rosman di Wajo, Naili Trisal di Palopo, Zadrak Tambeg di Tana Toraja, Dedy Palimbong di Toraja Utara, dan Andi Tenri Liwang La Tinro di Enrekang.
Kompetisi Tripolar dan Koalisi Cair
Menanggapi peta kekuatan ini, Pengamat Politik dari UIN Alauddin Makassar, Reskiyanti Nurdin, memberikan catatan kritis terkait masa depan politik di Sulawesi Selatan.
Meski menganggap prediksi untuk Pilkada 2029 masih terlalu dini, ia melihat pola kompetisi yang sudah mulai terbaca.
“Pilkada 2029 akan ditentukan oleh kompetisi tripolar antara Golkar, Nasdem, dan Gerindra yang berbasis pada kekuatan figur dan koalisi pragmatis,” ujar Reskiyanti.
Lebih lanjut, ia menjelaskan karakter masing-masing partai dalam persaingan ini:
- Golkar: Tetap memiliki keunggulan struktural dan jaringan historis sehingga masih memegang peran signifikan.
- Nasdem: Menunjukkan tren paling ekspansif, didorong oleh perolehan kursi yang besar di DPRD Sulsel.
- Gerindra: Memiliki peluang meningkat tajam sebagai dampak keberlanjutan efek elektoral Prabowo di tingkat lokal.
Reskiyanti, yang juga mendalami riset disertasi mengenai partai politik, menekankan bahwa pertarungan ke depan tidak akan terpaku pada ideologi partai.
“Ketiga kekuatan ini tidak bekerja dalam garis ideologis yang kaku, melainkan dalam pola koalisi cair dan transaksional. Pilkada 2029 kemungkinan besar akan lebih menyerupai arena negosiasi elit daripada kontestasi programatik,” pungkasnya.
Secara kuantitas, Gerindra saat ini memimpin dengan 9 kepala daerah, disusul Golkar dengan 8 daerah, dan Nasdem dengan 7 posisi kunci (termasuk Wagub Sulsel).
Konfigurasi ini memastikan bahwa politik Sulawesi Selatan ke depan akan diwarnai oleh adu pengaruh dan lobi-lobi tingkat tinggi antar tiga poros utama ini untuk mengamankan tiket menuju 2029. (mna)

