SulawesiPos.com – Kalau kamu pernah keliling malam di Sulawesi Selatan, ada satu aroma khas yang hampir pasti bikin lapar tiba-tiba, itu datang dari songkolo bagadang.
Makanan tradisional ini sudah jadi bagian dari kebiasaan kuliner masyarakat, terutama saat malam hingga dini hari.
Nama “songkolo bagadang” bukan tanpa alasan. Kuliner ini identik dengan waktu jualannya yang dimulai sejak malam hari hingga menjelang pagi. Banyak penjual yang baru buka saat sebagian orang mulai istirahat.
Menariknya, makanan ini punya dua “waktu favorit” untuk disantap. Ada yang menikmatinya sebagai teman bagadang tengah malam, tapi tidak sedikit juga yang menjadikannya menu sarapan sebelum memulai aktivitas.
Songkolo bagadang terbuat dari bahan yang cukup simpel, beras ketan putih atau hitam yang dimasak dengan santan dan sedikit garam.
Meski sederhana, kombinasi ini menghasilkan tekstur pulen dengan rasa gurih yang khas.
Yang bikin makin “naik level” adalah topping-nya. Biasanya ketan disajikan dengan:
- Kelapa sangrai (serundeng) yang gurih dan sedikit manis
- Ikan teri goreng
- Sambal sebagai pelengkap pedas
Perpaduan ini menciptakan rasa yang kompleks, gurih, manis, dan pedas dalam satu suapan.
Salah satu ciri khas songkolo bagadang adalah cara penyajiannya. Umumnya, makanan ini dibungkus menggunakan daun pisang.
Selain praktis, daun pisang memberikan aroma alami yang bikin rasanya makin nikmat.
Cara Membuat Songkolo Bagadang di Rumah
Kalau mau coba bikin sendiri, sebenarnya cukup gampang. Ini versi sederhana yang bisa kamu ikuti:
Bahan (untuk 2 porsi):
- 200 gram beras ketan putih
- 100 gram beras ketan hitam
- 250 ml santan
- 1/4 sendok teh garam
Cara membuat:
- Campurkan ketan putih dan hitam, lalu cuci bersih dan tiriskan. Rendam sekitar 10 menit.
- Campur dengan santan dan garam, aduk hingga merata.
- Panaskan sebentar (diaron) hingga santan meresap.
- Kukus selama kurang lebih 25 menit hingga matang dan pulen.
- Sajikan dengan serundeng, ikan teri (bisa digoreng biasa atau berbumbu), dan sambal sesuai selera.
Di tengah banyaknya makanan modern, songkolo bagadang tetap bertahan sebagai bukti bahwa kuliner tradisional punya tempat spesial di hati masyarakat.
Simpel, tapi selalu bikin rindu.

