Bone Harus Mendunia: Energi yang Menyala dari Bone

Penulis: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

SulawesiPos.com – Gedung AAS Building Lt.1 Makassar malam itu, Sabtu 28  Maret 2026, tak lagi sekadar ruang pertemuan. Ia menjelma gelombang—manusia, harapan, dan kenangan—yang tumpah ruah dalam Halal Bihalal Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB).

Wajah-wajah yang datang dari berbagai daerah bukan hanya ingin bersalaman, tetapi juga menjemput inspirasi.

Di hadapan ratusan masyarakat Bone, Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian RI kembali berdiri sebagai magnet. Suaranya tenang, tetapi mengandung daya dorong yang kuat.

Ia tidak sekadar berbicara, ia seperti menyalakan api dalam dada setiap yang hadir.

“Berjuang. Harus ada tantangan. Tekanan itu penting.”

Pesan itu mengalir seperti arus yang tak terbendung.

Baginya, kesulitan bukan alasan untuk berhenti, tetapi bahan bakar untuk bertumbuh. Tidak ada sukses tanpa kerja keras, dan tak cukup hanya kerja keras—harus kerja cerdas.

Ia lalu menuturkan perjalanan hidupnya. Dari seorang penyuluh pertanian—yang akrab dengan lumpur sawah dan peluh petani—hingga dipercaya menjadi Menteri Pertanian Republik Indonesia.

BACA JUGA: 
Ajarkan Kepedulian Sejak Dini, TK Anak Bangsa Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama di Bulan Ramadan

Sebuah lintasan yang tidak instan, melainkan ditempa oleh disiplin, kesabaran, dan keberanian menghadapi tekanan hidup.

Namun pidato itu tidak berhenti pada dirinya. Ia menjelma ajakan—bahkan panggilan.

“Masyarakat Bone harus mengisi pembangunan Republik ini. Bangkitkan Bone. Jadikan Bone terbaik di dunia.”

Ia bertanya, singkat namun mengguncang: “Bisa?”

Dan ruangan itu menjawab serentak: “Bisa!”

Seolah malam itu, kata “bisa” bukan lagi jawaban, tetapi sumpah bersama.

Ia pun menyampaikan rencana besar  Ia juga dengan penuh kebanggaan dan antusias menyampaikan tentang pembangunan Masjid Phinisi Kubah Emas – Masjid Andi Nurhadi, serta konsep Rumah Sakit AAS bertaraf internasional.

Gagasan-gagasan itu bukan sekadar bangunan, tetapi tanda bahwa mimpi bisa diwujudkan jika dirawat dengan keyakinan.
Lalu, di penghujung acara, suasana mendadak hening..

Sebuah slide ditampilkan.

Terpampang gambar dirinya—bukan sebagai menteri, bukan sebagai tokoh publik—melainkan sebagai seorang anak yang memeluk kedua orang tuanya.

Di atasnya tertulis kalimat sederhana, namun menghunjam:
“MULIAKANLAH IBUMU!”

BACA JUGA: 
Kebakaran di Carebbu Awangpone Bone, Tiga Rumah Ludes Terbakar

Tak ada tepuk tangan seketika. Yang ada justru keheningan yang penuh makna. Seolah setiap orang diajak pulang ke dalam dirinya sendiri—mengingat wajah ibu, doa-doa yang tak pernah berhenti, dan pengorbanan yang tak pernah ditagih.

Di titik itu, semua capaian dunia seperti menemukan akarnya.
Bahwa setinggi apa pun seseorang berdiri, akarnya tetap pada bakti.

Bahwa sebesar apa pun penghargaan dunia—bahkan hingga Bintang Jasa Utama—ia tak akan pernah melampaui kemuliaan seorang anak yang berbakti kepada ibunya.

Mereka pulang membawa energi, membawa mimpi, dan mungkin—membawa rindu yang diam-diam ingin segera ditunaikan: memuliakan ibu.*

Penulis: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

SulawesiPos.com – Gedung AAS Building Lt.1 Makassar malam itu, Sabtu 28  Maret 2026, tak lagi sekadar ruang pertemuan. Ia menjelma gelombang—manusia, harapan, dan kenangan—yang tumpah ruah dalam Halal Bihalal Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB).

Wajah-wajah yang datang dari berbagai daerah bukan hanya ingin bersalaman, tetapi juga menjemput inspirasi.

Di hadapan ratusan masyarakat Bone, Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian RI kembali berdiri sebagai magnet. Suaranya tenang, tetapi mengandung daya dorong yang kuat.

Ia tidak sekadar berbicara, ia seperti menyalakan api dalam dada setiap yang hadir.

“Berjuang. Harus ada tantangan. Tekanan itu penting.”

Pesan itu mengalir seperti arus yang tak terbendung.

Baginya, kesulitan bukan alasan untuk berhenti, tetapi bahan bakar untuk bertumbuh. Tidak ada sukses tanpa kerja keras, dan tak cukup hanya kerja keras—harus kerja cerdas.

Ia lalu menuturkan perjalanan hidupnya. Dari seorang penyuluh pertanian—yang akrab dengan lumpur sawah dan peluh petani—hingga dipercaya menjadi Menteri Pertanian Republik Indonesia.

BACA JUGA: 
Percepat Swasembada Gula, Kementan Siapkan 5,9 Miliar Mata Benih Tebu di Tahun 2026

Sebuah lintasan yang tidak instan, melainkan ditempa oleh disiplin, kesabaran, dan keberanian menghadapi tekanan hidup.

Namun pidato itu tidak berhenti pada dirinya. Ia menjelma ajakan—bahkan panggilan.

“Masyarakat Bone harus mengisi pembangunan Republik ini. Bangkitkan Bone. Jadikan Bone terbaik di dunia.”

Ia bertanya, singkat namun mengguncang: “Bisa?”

Dan ruangan itu menjawab serentak: “Bisa!”

Seolah malam itu, kata “bisa” bukan lagi jawaban, tetapi sumpah bersama.

Ia pun menyampaikan rencana besar  Ia juga dengan penuh kebanggaan dan antusias menyampaikan tentang pembangunan Masjid Phinisi Kubah Emas – Masjid Andi Nurhadi, serta konsep Rumah Sakit AAS bertaraf internasional.

Gagasan-gagasan itu bukan sekadar bangunan, tetapi tanda bahwa mimpi bisa diwujudkan jika dirawat dengan keyakinan.
Lalu, di penghujung acara, suasana mendadak hening..

Sebuah slide ditampilkan.

Terpampang gambar dirinya—bukan sebagai menteri, bukan sebagai tokoh publik—melainkan sebagai seorang anak yang memeluk kedua orang tuanya.

Di atasnya tertulis kalimat sederhana, namun menghunjam:
“MULIAKANLAH IBUMU!”

BACA JUGA: 
Ajarkan Kepedulian Sejak Dini, TK Anak Bangsa Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama di Bulan Ramadan

Tak ada tepuk tangan seketika. Yang ada justru keheningan yang penuh makna. Seolah setiap orang diajak pulang ke dalam dirinya sendiri—mengingat wajah ibu, doa-doa yang tak pernah berhenti, dan pengorbanan yang tak pernah ditagih.

Di titik itu, semua capaian dunia seperti menemukan akarnya.
Bahwa setinggi apa pun seseorang berdiri, akarnya tetap pada bakti.

Bahwa sebesar apa pun penghargaan dunia—bahkan hingga Bintang Jasa Utama—ia tak akan pernah melampaui kemuliaan seorang anak yang berbakti kepada ibunya.

Mereka pulang membawa energi, membawa mimpi, dan mungkin—membawa rindu yang diam-diam ingin segera ditunaikan: memuliakan ibu.*

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru