Ancaman Donald Trump Dibalas Iran, Selat Hormuz Terancam Ditutup Total

SulawesiPos.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang semakin berbahaya.

Presiden AS, Donald Trump, mengultimatum akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam waktu 48 jam.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut pembangkit listrik Iran akan menjadi target utama jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

Merespons ultimatum tersebut, Iran menyatakan siap menutup total Selat Hormuz jika serangan benar-benar terjadi.

Jalur laut ini merupakan salah satu rute paling vital di dunia, dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.

Selain itu, Iran juga memperingatkan akan menyerang infrastruktur strategis milik AS dan sekutunya di kawasan.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa serangan terhadap Iran akan dibalas dengan menghancurkan infrastruktur vital di kawasan secara permanen.

Ancaman tersebut mencakup fasilitas energi, teknologi informasi, hingga instalasi air.

Sementara itu, perwakilan Iran di Organisasi Maritim Internasional, Seyed Ali Mousavi, menegaskan bahwa akses pelayaran di Selat Hormuz akan dibatasi hanya untuk pihak yang tidak dianggap sebagai musuh.

BACA JUGA: 
Dino Patti Djalal: BoP Terlalu Didominasi AS, Minim Empati terhadap Tragedi Gaza

Di lapangan, eskalasi konflik telah memicu serangan rudal Iran ke wilayah dekat pusat penelitian nuklir Israel, yang menyebabkan korban luka dan kerusakan bangunan.

Gangguan di Selat Hormuz juga sudah terasa sejak awal Maret, dengan banyak kapal tanker menghentikan operasi dan distribusi minyak terganggu.

Akibatnya, sejumlah produsen minyak mulai memangkas produksi karena distribusi yang tersendat.

Ancaman Krisis Energi Global

Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya di Eropa dan Asia sangat bergantung pada jalur ini untuk pasokan energi.

Situasi ini mendorong langkah darurat, termasuk pelonggaran sebagian sanksi terhadap minyak Iran guna menekan lonjakan harga.

Namun, dengan eskalasi yang terus meningkat, konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis energi dan keamanan global yang lebih luas.

SulawesiPos.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang semakin berbahaya.

Presiden AS, Donald Trump, mengultimatum akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam waktu 48 jam.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut pembangkit listrik Iran akan menjadi target utama jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

Merespons ultimatum tersebut, Iran menyatakan siap menutup total Selat Hormuz jika serangan benar-benar terjadi.

Jalur laut ini merupakan salah satu rute paling vital di dunia, dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.

Selain itu, Iran juga memperingatkan akan menyerang infrastruktur strategis milik AS dan sekutunya di kawasan.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa serangan terhadap Iran akan dibalas dengan menghancurkan infrastruktur vital di kawasan secara permanen.

Ancaman tersebut mencakup fasilitas energi, teknologi informasi, hingga instalasi air.

Sementara itu, perwakilan Iran di Organisasi Maritim Internasional, Seyed Ali Mousavi, menegaskan bahwa akses pelayaran di Selat Hormuz akan dibatasi hanya untuk pihak yang tidak dianggap sebagai musuh.

BACA JUGA: 
Trump Ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Infrastruktur Listrik Diserang

Di lapangan, eskalasi konflik telah memicu serangan rudal Iran ke wilayah dekat pusat penelitian nuklir Israel, yang menyebabkan korban luka dan kerusakan bangunan.

Gangguan di Selat Hormuz juga sudah terasa sejak awal Maret, dengan banyak kapal tanker menghentikan operasi dan distribusi minyak terganggu.

Akibatnya, sejumlah produsen minyak mulai memangkas produksi karena distribusi yang tersendat.

Ancaman Krisis Energi Global

Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya di Eropa dan Asia sangat bergantung pada jalur ini untuk pasokan energi.

Situasi ini mendorong langkah darurat, termasuk pelonggaran sebagian sanksi terhadap minyak Iran guna menekan lonjakan harga.

Namun, dengan eskalasi yang terus meningkat, konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis energi dan keamanan global yang lebih luas.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru