SulawesiPos.com – Lebih dari 1.000 warga sipil di Iran dilaporkan tewas akibat serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat sejak Sabtu (28/2/2026).
Media pemerintah Iran menyebut jumlah korban tewas hingga kini mencapai 1.045 orang.
Serangan terbaru dilaporkan kembali menghantam ibu kota Teheran pada Rabu (4/3/2026), serta sejumlah wilayah lain seperti kota suci Qom, kawasan Iran barat, dan seluruh provinsi Isfahan di Iran tengah.
Serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah unit perumahan warga.
Pemerintah Israel mengklaim operasi militer mereka menargetkan bangunan milik pasukan paramiliter sukarelawan Basij, yang berada di bawah komando Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), serta fasilitas yang terkait dengan komando keamanan internal Iran.
Jurnalis Al Jazeera, Mohamed Vall yang melaporkan langsung dari Teheran menyebut serangan terjadi secara berkelanjutan di berbagai wilayah negara tersebut.
“Ada serangan berkelanjutan dan terus-menerus di seluruh negeri, yang tidak menyisakan wilayah, kota, atau daerah mana pun,” ujarnya.
Menurut laporan yang dihimpun, sekitar 200 anak dan remaja kini menjalani perawatan di rumah sakit. Selain itu, lebih dari 6.000 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Badan pengawas nuklir PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA), melaporkan adanya kerusakan pada dua bangunan di dekat situs nuklir Isfahan.
Meski demikian, lembaga tersebut memastikan fasilitas yang menyimpan material nuklir tidak mengalami kerusakan.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Sebagian besar serangan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara Teluk. Namun beberapa rudal dilaporkan tetap mengenai aset militer dan infrastruktur sipil.
Selain itu, puing-puing dari rudal yang berhasil dicegat juga dilaporkan jatuh di sejumlah kawasan permukiman.
100 Ribu Warga Mengungsi dari Teheran
Di tengah eskalasi konflik, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sekitar 100 ribu warga telah meninggalkan Teheran sejak 28 Februari hingga 1 Maret.
Pengungsian massal tersebut dipicu oleh meningkatnya intensitas serangan udara yang menghantam ibu kota Iran.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengisyaratkan konflik ini berpotensi berlangsung selama beberapa minggu.
“Kita berada dalam posisi yang sangat kuat sekarang, dan kepemimpinan mereka dengan cepat runtuh,” kata Trump.

