SulawesiPos.com – Pada 3 Maret 2026 di kanal YouTube Glenn Diesen, Colonel (Purn.) Douglas Abbott Macgregor menggambarkan perang melawan Iran yang memasuki hari ketiga sebagai perang yang melenceng jauh dari harapan “perang singkat” dan operasi “regime change” cepat.
Di awal wawancara, Macgregor—veteran tempur, penulis, dan mantan penasihat senior bagi Menteri Pertahanan AS—membuka penilaiannya dengan kalimat yang menekan: perang ini sudah telanjur berubah menjadi krisis kawasan yang akan menagih biaya dunia.
“I think the first thing we can say is that the Iranians have targeted at least 27 bases,” kata Macgregor, seraya menyebut rentang sasaran dari Pangkalan Incirlik hingga Dubai yang membuat perang “effectively regionalized.”
Ia mengaitkan dentuman rudal dengan guncangan finansial yang langsung terasa, ketika “the oil markets in Europe opened about 20% higher” hanya karena probabilitas gangguan pasokan.
Macgregor lalu menatap angka yang baginya seperti pertanda, “we’re headed towards more than $100 a barrel,” dan ia mengucapkannya bukan sebagai prediksi ekonom, melainkan sebagai alarm perang yang baru mulai menggigit.
Di Uni Emirat Arab, katanya, drone murah “have defeated what appear to be some of the world’s most expensive air and missile defenses,” hingga membuat sejumlah airstrip dan bandara “out of business.”
Ia melukiskan pusat-pusat bisnis yang mendadak membeku, sebab konglomerat internasional—terutama jaringan bisnis India—bertumpu pada Dubai dan Emirat yang kini “effectively being shut down.”
“Around 4.6, 6 million Indians who own businesses in the Emirates… are now stranded,” ujarnya, sembari menambahkan ratusan ribu hingga jutaan orang Eropa, Amerika, dan warga lain ikut terjebak dalam ruang sempit yang tidak lagi aman.
Bagi Macgregor, ini bukan sekadar perang dua negara, karena kerusakan pada infrastruktur energi “is only now really beginning,” dengan indikasi kilang-kilang—terutama di Arab Saudi—telah terkena dan masih berpotensi bertambah.
Ia mengingatkan bahwa darurat di Teluk bukan isu lokal, melainkan guncangan yang “affects India… Northeast Asia… Turkey… Europe,” sehingga dunia dipaksa menatap satu perang yang dipersepsikan “between Israel and Iran” namun efeknya meluber ke mana-mana.
Yang lebih getir, menurutnya, perang ini “did not begin with a joint Israeli-American assault,” melainkan dimulai oleh Israel, sementara Amerika “seem to have come late to the party” dan baru merasakan “full impact” dari serangan balasan.
Di titik ini ia menyebut tiga F-15 jatuh—diperdebatkan sebabnya—seraya menambahkan ada korban di pihak Amerika, “we have lost American sailors, soldiers… we just don’t know how many,” kalimat yang terdengar seperti pengakuan setengah pintu.
Ketika pejabat AS dan Presiden Trump, kata dia, menabur retorika tentang “state sponsor of terrorism” dan tuntutan agar Iran “submit,” Macgregor memotongnya tajam, “I think these are very incautious and stupid statements.”
“Frankly, Glenn, if we were interested in combating radical Islam, we would probably be focused on Pakistan and certainly on Syria,” katanya, seperti menuduh perang ini tidak cocok dengan alasan yang dipakai untuk menjualnya.
Ia menyimpulkan motif yang lebih telanjang: ini tentang kepentingan Israel menghancurkan Iran dan menyingkirkan penghalang “Israeli military hegemony,” dan Amerika, katanya, sudah terlanjur “committed to it.”
Saat Diesen menyinggung risiko Iran menyeret pihak luar, Macgregor menilai Iran ingin dunia “feel pain” karena Iran sendiri merasakan “acute pain,” dan dalam logika perang, rasa sakit itu dijadikan bahasa yang paling keras.
Tentang Eropa, Macgregor meremehkan kemungkinan keterlibatan serius, karena sejak awal “they’ve known… Iran presents no threat,” dan banyak ancaman intervensi baginya hanya “hot air,” meski ia mencatat pangkalan di Siprus sudah diserang.
Yang ia pantau justru Rusia dan China, karena perang ini “not in their interests,” sementara Iran adalah komponen penting BRICS dan Belt and Road, dan bahkan Turki, katanya, tampak tidak menangisi rusaknya pangkalan Incirlik yang dianggap “our air base.”
Lalu ia melempar kalimat besar yang terdengar seperti garis zaman: “this is the end of Sykes-Picot,” karena peta, rezim, dan struktur kekuasaan Teluk bisa berubah ketika ekonomi digerus dan rasa aman hilang.
Macgregor melihat dolar “losing air speed and altitude,” menyebut bencana ekonomi-finansial yang bertumbuh pelan namun pasti, dan menegaskan dunia yang selama ini diminta “shake in fear” kini akan menuntut Amerika membuktikan klaimnya.
Pada titik paling menentukan, ia mengunci keunggulan Iran bukan pada slogan, melainkan pada daya tahan: “Iran… hasn’t got to do anything other than survive,” dan ia menambahkan, “As long as Iran survives… the weaker Israel looks, and the stronger Iran looks.”
Ia memperluasnya ke medan pertahanan, “Israel’s Iron Dome isn’t working very well,” sementara Iran disebut telah maju secara teknologi dengan rudal berumpan yang memecah perhatian, sehingga serangan utama lolos ketika pencegat sibuk mengejar bayangan.
Dalam hitungan logistik, Macgregor menyebut pelabuhan-pelabuhan pengisian ulang yang biasa dipakai sudah hancur sehingga kekuatan AS harus mundur jauh, sementara penutupan Hormuz dan terganggunya jalur Laut Merah membuat gambaran komersial “grim” dan perang makin “arduous.”
Ia juga menekankan dilema pencegatan: setiap rudal masuk menuntut “two or three missiles” untuk menembaknya, sementara banyak rudal datang pada Mach 3 hingga 6 yang “beyond our technological capability” untuk benar-benar ditaklukkan secara meyakinkan.
Saat pembicaraan menyentuh negosiasi, Macgregor menyebut sinyal dari Gedung Putih yang ditolak Iran dengan kalimat kasar yang ia kutip, “Not only no, but hell no,” karena Iran tidak melihat insentif berhenti ketika lawan bisa mengisi ulang dan kembali menyerang.
Ia menafsirkan tujuan Iran sederhana namun mematikan bagi posisi Amerika: “what they want is to get us out of the region,” dan ia memperkirakan Amerika pada akhirnya akan “oblige” karena biaya perang ini memakan legitimasi, uang, dan kredibilitas.
Di mata Macgregor, perang ini juga memperdalam status Israel sebagai negara yang kian dibenci akibat Gaza, sehingga konflik baru justru memperbesar gelombang penolakan dan membuat sekutu-sekutu kawasan lebih berani meminta Amerika pergi.
Ia membawa pembaca ke Asia Timur, membayangkan Korea dan Jepang menilai ulang ketergantungan, karena perang semacam ini tidak hanya mengukur senjata, tetapi menguji apakah Amerika masih terlihat “invincible and invulnerable” atau justru tampak rapuh.
“Tactics win battles, but ultimately strategy wins wars,” katanya, lalu menghantam inti kritiknya: “we have no strategy,” sehingga kemenangan tak punya definisi selain kehancuran yang dibiarkan membesar.
Ia menutup dengan pengingat yang dingin: “you can kill a leader, but you can’t bomb a civilization into submission,” dan dari sana ia menyimpulkan bahwa Persia mungkin keluar sebagai entitas lebih kuat sementara pertanyaan pahit justru berbalik ke Israel—“does Israel survive all of this?”
Ketika Diesen bertanya bagaimana Israel bisa runtuh, Macgregor menjawab tanpa romantika, “All of the above,” dari kelelahan mobilisasi, tekanan ekonomi, hingga risiko meluasnya front yang “not sustainable.”
Dan ketika skenario nuklir taktis disentuh, ia memperingatkan bahwa langkah itu bisa memanggil Rusia dan China masuk, menciptakan titik balik yang bahkan mungkin tidak menyisakan ruang aman bagi Israel sendiri.
Di akhir, Macgregor menegaskan politik Washington tidak akan mudah berubah karena “Netanyahu is in charge,” sementara faktor yang paling ia takutkan—pasar obligasi, yield 10-year, dedolarisasi, dan krisis finansial—bisa menjadi paku terakhir yang mendorong Amerika mundur.
“Whatever ultimately happens,” katanya, yang ia lihat adalah “the end of the old Middle East” dan “the end of American military hegemony,” sementara Iran—dengan segala luka—cukup bertahan untuk terlihat menang dan membuat Israel tampak kian tidak berdaya.
Wawancara lengkap Colonel (Purn.) Douglas Abbott Macgregor di kanal YouTube Glenn Diesen dapat disaksikan melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=yd_uJiRcl0Q (Ali)

